oleh

Haz Algebra, Penyair Sulut Yang Merasa Hidupnya Sebuah Multilektika

HAZ ALGEBRA adalah penyair yang merasa bahwa hidupnya bagai sebuah multilektika, meski ia selalu bisa memilih sisi “antara” dari setiap jalan hidup yang dilabelkan padanya. Terlahir di Makassar dengan nama lengkap Hasrudin Ramli Algebra, pada 28 Februari 1988.

Penyair yang juga pengagum Nietzsche ini mengenyam Pendidikan Profesi Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Dan sejak 2009, ia pun terjerumus ke dalam dunia sastra dan menjajali kenikmatan dunia itu dengan nafas prosa juga degup puisi-puisi. Tidak heran jika mantan kekasihnya pernah memberinya julukan “pedofil” alias penulis, dokter dan filsuf jadi-jadian.

Ia dijuluki sebagai “penyair” menurutnya, hanya karena keberuntungan saja, gegara puisi-puisinya berhasil menembus rubrik sastra Koran Nasional yang konon belum pernah ditembus oleh para penyair muda Sulut kala itu.

Namun, di balik label kepenyairannya itu, ia sebenarnya adalah seorang “cerpenis”, dan ia merasa bahwa kecenderungannya dalam bersastra memang lebih kepada menulis prosa atau cerita-pendek (cerpen) ketimbang membuat puisi. Tapi haruskah batas-batas itu ada dan mengada?

Karya cerpen dan puisinya telah dimuat di oase KOMPAS(dot)com (yang digawangi oleh Jodhi Yudhono), buletin KAPASS, jurnal SARBI, serta telah dibukukan dalam beberapa buku antologi bersama. Buku-buku yang memuat cerpennya antara lain: Antologi Karya Festival Fiksi Kolaborasi Kompasiana (2011), antologi cerpen I-Care (2011) sebagai 10 cerpen terbaik pada sayembara cerpen oleh penerbit indie NulisBuku, dan antologi cerpen & amp; puisi AMARAH (2013) di mana cerpennya menjadi juara I dalam lomba yang diselenggarakan oleh Lembaga Bhinneka (dan buku ini juga telah dibedah oleh Ayu Utami dan Rocky Gerung). Seluruh karya cerpennya itu telah dimuseumkan olehnya dalam buku berjudul Naskah Bunuh Diri (2015).

Adapun puisi-puisinya belum sempat ia rapikan. Namun, puisi-puisi terbaiknya pernah dimuat di Jawa Pos, dan di tahun 2014 silam, beberapa puisinya juga termaktub dalam The Indonesian Literary Quarterly No. 03/2014 (Jurnal Sastra; Sulawesi dan Roh Ideologi Puisi Nusantara Mutakhir) yang menyertakan namanya ke deretan 12 Penyair generasi terkini Sulawesi.

Untuk menjaga semangat literasi, ia telah mendirikan berbagai komunitas seperti L’Nous Institute (Centre of Philosophy, Art & Science) dan Komunitas Bibir Pena, serta kini menjadi admin dan juri untuk lomba-lomba sastra di Lingkar Puisi-Prosa – Lembaga Bhinneka.

Selain bersastra, penyair ini juga adalah aktivis tulen organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia pernah menjabat Ketua Umum HMI Cabang Manado Komisariat Kedokteran 2009-2010, salah satu Direktur Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Manado 2010-2011, Staf Ketua HMI Cabang Manado 2012- 2013, hingga Ketua Umum Badan Koordinasi HMI Sulawesi Utara dan Gorontalo (Badko HMI Sulutgo) 2014-2016.

Aktivitas organisasinya masih berlanjut hingga kini dengan menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Utara, dan Ketua Umum Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (Pemuda LIRA) Sulawesi Utara. Penyair ini kini berdomisili di Manado sebagai orang Manado yang berasal dari Selatan. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed