oleh

Sekilas Sejarah dan Asal Usul Orang-orang Sangihe Talaud

Melacak riwayat dan asal usul manusia merupakan sesuatu yang menarik. Dan perkembangan sains yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal. Dari manakah kita datang.

Suku bangsa Sangihe Talaud, di Provinsi Sulawesi Utara, sejak lama percaya nenek moyang mereka berasal dari Filipina Selatan lewat migrasi ribuan tahun lampau. Bahkan yang terakhir, tokoh Gumansalangi, kulano tua pendiri kedatuan “Tampunganglawo” (Sangihe) disebut sebagai seorang pangeran dari Mindanao, Filipina.

Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen lewat buku mereka yang berjudul: SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA, menegaskan adanya hubungan silsilah atau tarsila nenek moyang yang sama antara orang-orang Sangihe Talaud dan orang-orang Filipina Selatan.

“Secara historis, Filipina merasa dirinya terkait dengan sedemikian banyak komunitas di wilayah pulau Sulawesi bagian Utara,” kata Drs.Alex Ulaen, PhD, dalam sebuah perbicangan dengan penulis, pertengahan 2017 di Manado. Diungkapkannya, hubungan Sulawesi Utara dengan Filipina Selatan sejak masa lalu adalah ikatan persaudaraan, karena adanya uraian silsilah atau tarsila nenek moyang yang sama.

Menurut dia, dari perspektif kebahasaan, misalnya, dominan bahasa-bahasa lokal di Sulawesi bagian Utara masuk ke dalam rumpun bahasa-bahasa Filipina. “Secara khusus yang pantas disebut adalah hubungan terkait eksistensi kerajaan Tugis (Mindanao) dan Kendahe (Sangihe); atau hubungan terkait tokoh bernama Gumansalangi sebagai tokoh awal para penguasa di Sangihe yang datang dari Mindanao,” ungkapnya.

Pitres Sombowadile, penulis dan pemerhati masalah perbatasan di Sulawesi Utara, dalam sebuah artikelnya menegaskan adanya pertalian erat antara orang-orang Sangihe Talaud dan orang-orang Filipina Selatan, terutama dengan keberadaan Suku Bangsa Sangil di Mindanao yang berbahasa Sangihe.

Lebih jauh lagi, John Rahasia, boleh dikata salah satu saintis asal Sangihe Talaud yang mengungkap secara tegas asal usul nenek moyang atau leluhur orang-orang Sangihe Talaud bahkan seluruh klan di kawasan “The Indo-Pacific Archipelago” yaitu berasal dari lembah sungai Mengkong di daerah Yunan atau Vietnam saat ini.

Dalam bukunya yang membicarakan penemuan kembali Tagaroa atau “Tagaroalogi”, John Rahasia, memaparkan hasil penelitiannya tentang unsur-unsur kesamaan dalam bahasa, budaya dan ciri-ciri fisik antrophology dari penduduk secara keseluruhan di kawasan yang disebutnya “dunia ke enam Tagaroa” atau “Samudera Raya Indo-Pasifik”.

Dunia ke enam ini, tulis John, membentang dari Pulau Madagaskar di sebelah Barat, sampai dengan Pulau Hawaii dan Pulau Paskah di sebelah Timur, dan dari Jepang di sebelah Utara, sampai dengan pulau-pulau Selandia Baru di sebelah Selatan.

Penduduk The Indo-Pacific Archipelago, adalah putera-puteri Tagaroa, bukan Oceania. Putera-puteri Tagaroa ungkap John, berasal dari nenek moyang atau leluhur yang sama yaitu dari lembah sungai Mengkong di daerah Yunan.

Kisaran 2000-1700 SM, akibat tekanan militer Cina dan Mongolia, ungkap John Rahasia, penduduk lembah sungai Mengkong melakukan migrasi melalui tepi laut Cina Selatan menyeberang ke pulau-pulau Indonesia, Filipina, kemudian melalui Mikronesia dan Melanesia mereka sampai ke pulau-pulau Hawaii, pulau Paskah dan Selandia Baru di Polynesia. Dan ada pula yang mengarungi samudera Indonesia sampai di pulau Madagaskar, di sebelah pantai Timur Afrika.

Publikasi Journal of Human Genetics pada Januari 2013, kutip Tirto.id, menyebutkan juga, bahwa penduduk Indonesia hari ini memiliki ikatan erat dengan orang-orang di Asia dan Pasifik. Penelitian ini ungkap jurnal tersebut, melibatkan 2.740 orang dari 70 komunitas di 12 pulau di seluruh kepulauan Indonesia. Mulai dari Sumatera, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Pantar, Timor, dan Alor. Hasilnya masyarakat Indonesia kemungkinan besar memiliki leluhur yang berasal dari Cina.

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Mark Stoneking dan Frederick Delfin yang dimuat Current Biology pada 2010 mengungkapkan DNA yang ada pada masyarakat di Asia Tenggara memiliki ikatan dengan mereka yang ada di Asia Timur. Dengan kata lain bahwa yang tinggal di Asia Tenggara hari ini, termasuk Indonesia, memiliki kemungkinan besar adalah keturunan dari masyarakat yang tinggal di Asia Timur.

Swapan Mallick ahli genetik dari Harvard Medical School seperti yang dikutip Guardian mengungkapkan bahwa setiap genom yang dimiliki manusia mengandung sejarah dari para leluhurnya. Dan meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi.

Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.

Seperti klan lain di Indonesia, orang-orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legendanya tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka.

Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia.

Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa, ungkap sebuah artikel di National Geographic.

Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, dalam artikel tersebut, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia.

Hannah Devlin koresponden sains dari Guardian menuliskan berita tentang jejak DNA tertua di dunia mengungkapkan, ilmuan menemukan petunjuk bahwa gen dalam penduduk asli Papua New Guinea dan Australia memiliki rantai jejak DNA yang berusia 50.000 tahun lalu. Jejak ini membuat orang Papua New Guinea dan Suku Aborigin sebagai keturunan langsung dari manusia tertua di dunia yang masih hidup saat ini.

Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit.

Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.

Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan.

Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.

Pandangan pemikiran Esoteris di Sangihe Talaud

Masa lalu orang-orang Sangihe Talaud tak saja ditandai era kegemilangan akar astronomi. Namun menampilkan juga perjalanan yang mencengangkan melalui sejarah spiritual dan mitologi lewat alam pemikiran esoteris nabati.

Kendati musim pasang tradisi esoteris itu perlahan surut pasca persentuhan dengan alam pemikiran dunia Barat semitik abad ke XV, namun sejumlah frasa dari khazanah sastra purba mereka masih menyisahkan kilaunya hingga kini. Dari kelindan kekayaan alam pemikiran masa lalu itu dapat disitir satu larik pernyataan dari masa purba yaitu: “Manusia berasal dari pohon”.

Sebuah legenda mengisahkan manusia pertama di kepulauan itu berevolusi dari pohon pisang Abakka. Alam pemikiran esoteris di atas sudah pasti menohok pandangandan sejarah spiritual masyarakat yang sudah mapan. Namun, rahasia penciptaan dalam pandangan dunia kuno Sangihe Talaud ini dapat dipersandingkan dengan pandangan esoteris orang-orang Mandrake sebagaimana dipersaksikan sejarawan Herodotus dari Yunani pada abad ke 5 SM.

Orang-orang Mandrake juga meyakini manusia berasal dari tumbuhan. Manusia berevolusi dari pohon. Dalam perbincangan masa kini tentu bukan lagi diskursus baru dalam pemetaan kesadaran nabati. Di negeri-negeri seperti India, Jepang, China, Jerman, dan Amerika, juga membicarakan konten asal-usul manusia ‘berevolusi dari pohon”.

Jonathan Black, sarjana filosofi dan teologi dari Oxford, lewat bukunya yang bestseller internasional berjudul “Sejarah Dunia Yang Disembunyikan” secara luas dan mendalam membahas tema ini dengan mengacu pada pemikiran dunia esoteris Barat. Seperti pohon, manusia dalam pandangan dunia esoteris Sangihe Talaud juga berkembang secara hermafrodit sepert Hawa yang dibentuk dari tulang Adam.

Cara reproduksi lainnya disebut parthenogenesis. Bagian dari tumbuhan jatuh dan tumbuh menjadi sebuah tumbuhan baru. Tumbuhan baru itu merupakan penerus dari yang lama sehingga dalam beberapa hal tidak mati.

Di dunia barat, selain berbagai peninggalan pantung dan gambar-gambar kuno, memang tak ada artefak tentang proto manusia hidup dalam bentuk tumbuhan. Namun kini ikwal kehidupan seperti tumbuhan parthenogenesis itu telah menjadi benang kehidupan yang menarik untuk diurai di tengah kusut peradaban masa kini.

Di Sangihe Talaud, di era para misionaris yang ditandai berbagai stigma pagan dan kafir, alam pemikiran kuno itu pun mulai disembunyikan dalam sebuah tradisi yang disebut “Wawunian” yang artinya “disembunyikan”. Beruntung ransekan dunia semitik itu tak cukup gigih menghabisi peninggalan alam pemikiran lama ini, hingga generasi kini masih bisa membaunnya lewat peninggalan khazanah sastra lama.

Larik-larik syair lama seperti: “katuwokatamang” (tumbuh dan hiduplah), atau “sombo ndai sombo, Tuwo ndai tuwo” (hidup dan hiduplah, tumbuh dan tumbuhlah) adalah contoh dari bagian dalam frasa besar alam pemikiran nabati Sangihe Talaud.

Di pulau Kakorotan, Nanusa, Talaud Utara, masyarakat setempat hingga kini percaya adanya pohon kehidupan yang disebut “Pohon Lawa” pernah tumbuh di sana. Di Bannada, pulau Karekelang, pohon Lungkang dimitologikan sebagai penjelmaan seorang perempuan bernama Nahangging yang merupakan ibu mitologis dari suku bangsa Porodisa, Talaud.

Dalam pengajaran rahasia yang disebut “Sasasa” masyarakat purba Sangihe Talaud, memetaforkan manusia sebagai pohon. Peninggalan puisi-puisi purba seperti “Sasambo” juga menegaskan konsep pemikiran esoteris nabati itu. Larik yang menyebut “kalunairi” (Cabang yang patah) adalah penggambaran kehidupan manusia yang mati.

Dalam ikonografi orang Sangihe Talaud purba menyimbolkan manusia sebagai pohon hidup (kalutamata). Simbol ini mengisyaratkan asal-muasal kehidupan manusia. Sementara setan disimbolkan sebagai kayu kering (kaluhegu).

Simbol lain tentang semak di gunung, disebut “Utae” (rambutnya). Hutan di bukit disebut “wembange” (pundak). Sementara kebun di lembah gunung disebut “Sulaede” (kaki). Bahkan hingga kini orang Sangihe saat mengucapkan selamat Hari UlangTahun (HUT) kepada seseorang dengan sebutan “Pakalaluhe, pakaumbure” (tumbuhlah tinggi, panjanglah umur).

Eksistensi pepohonan dalam tradisi esoteris ini termaktub dalam bagian tradisi besar “Sasahara dan Sasalili” (Budaya Laut dan Budaya Pulau). Bagi masyarakat tradisi di sana, semua pohon memiliki kehidupan, bahkan setiap pohon memiliki dewanya sendiri. Pandangan esoteris ini menempatkan delusi, khayalan, dan kemauan, berada di antara kekuatan-kekuatan besar di alam semesta.

Mite dan Lengenda Sangihe Talaud

Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa).

Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.

Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga).

Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.

Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno, sebagaimana diperbincangkan Toynbee dan Ikeda.

Kepercayaan “Manna” orang-orang Sangihe Talaud, ungkap misionaris D. Brilman, merupakan kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang dipukul sampai mati, di Sangihe Talaud masa lalu.

Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata, Ruata”, juga dinamakan ”Gengghona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.

Eksplorasi yang lebih dekat terhadap asal usul orang-orang Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.

Asal usul orang Sangihe Talaud juga diceritakan penulis Amerika Kheneth. Saat dipresentasikan di Universitas California, disebutkan, Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah keturunan dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, berasal dari Filipina yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399.

Gumansalangi melakukan pelayaran kembali dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanao-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.

Sementara saudara Gumansalangi, Bulango, bermigrasi dari Bowontehu menuju Tagulandang dimana keturunannya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang pada 1570 dan berkuasa hingga 1609. Lohoraung adalah putri Raja Mokodompis cucu dari Raja Binangkang dari Kerajaan Mangondow.

Sementara Lokongbanua II, mendirikan kerajaan Siau pada 1510. Ia adalah keturunan dari kerabat Gumansalangi, raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga keturunan Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.

Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo dari Mindanao.

Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed