oleh

Menyibak Misteri Pulau Keramat Kakorotan, Talaud

Setelah menggelar doa ke hadirat Ruata di Bukit Manongga, Kakorotan, maka bersinarlah tempat itu. Sebuah pohon ajaib mulai tumbuh, dijaga seorang lelaki bernama Wando Ruata. Bergiranglah para moyang tua, atas kehadiran pohon berkah yang kemudian dinamakan Pohon Lawa.

Erwin Tamatompo, seorang penggemar fotografi. Ia banyak mengabadikan lanskap Kakorotan dan pulau sekitarnya. Ia seorang putra asli asal pulau yang disebut-sebut keramat itu.

Sebagaimana generasi muda lainnya yang berasal dari Kakorotan, Erwin, yang kesehariannya pegawai (PNS) di Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kepulauan Talaud ini, masih sangat menaruh hormat pada budaya dan tradisi warisan leluhur di kampungnya.

“Mane’e adalah tradisi tua yang masih hidup dan terjaga keberlangsungannya di pulau kami,” ungkap Erwin, seraya memperlihatkan karya fotografinya yang menakjubkan.

Kakorotan, sebuah pulau kecil yang indah, di kawasan utara Kepulauan Talaud. Kakorotan juga merupakan sebuah desa, meliputi pulau Kakorotan, pulau Intata serta pulau Malo. Dari ketiga pulau di desa ini, hanya Pulau Kakorotan berpenghuni. Desa ini masuk Dalam wilayah Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Terletak di koordinat 04° 37’ 36” LU dan 127° 09’ 53” BT.

Kedanti di pulau Kakorotan sendiri hanya sekitar 800-san orang yang mukim, namun banyak warga salah satu pulau terluar tersebut tinggal dan bekerja di daerah lain. Mayoritas penduduk berprofesi nelayan, karena di wilayah tersebut potensi perikanan sangat besar. Komoditas lainnya Kopra.

Belakangan ini, pulau Kakorotan sangat dikenal karena penduduknya masih hidup dalam tradisi tua mereka, Mane’e. Tradisi menangkap ikan dengan menggunakan janur (daun) kelapa.

Di hadapan daun berbalut magis tradisi lama, ikan-ikan seakan tunduk dan patuh untuk ditangkap. Tak hanya seekor dua ekor, bahkan gerombolan berjenis ikan dalam jumlah ribuan ekor seakan pasrah menanti tangan manusia datang menangkapnya. Palagis atau demersal, sama saja, mereka bermakna ikan diberkahkan Tuhan kepada manusia.

Bagi banyak orang, menangkap ikan dengan daun kelapa seakan sesuatu yang mustahil. Tapi di Kakorotan hal itu nyata. Cara manangkap ikan yang unik ini sungguh menyenangkan. Siapa pun bisa ikut bersama. Menangkap dan menangkap ikan dengan gembira. Sebuah budaya lama yang masih terpelihara dan terjaga.

“Banyak wisatawan terpikat uniknya Mane’e,” ungkap Erwin, yang juga menjabat Kepala Bidang Pariwisata di Dinas tempat ia bekerja. Ini sebabnya, lanjut Erwin, Kakorotan beserta pulau-pulau karang di sekitarnya setiap tahun selalu dibanjiri pengunjung dari berbagai tempat dan negara. Mereka datang menikmati festival Mane’e.

Tokoh masyarakat Kakorotan Drs. J.W. Sono mengisahkan, di Kakorotan ada mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat, dimana di negeri tradisi ini konon dahulu kala, dari masa para moyang, pernah tumbuh sebatang Pohon Lawa. Pohon ajaib yang ditumbuhkan Ruata (Tuhan), Pencipta semesta alam, sebagai berkah atas doa para moyang tua.

Karena di masa itu, kisah dia, penduduk pulau kecil ini sangat miskin dan merana akibat perang tak berkesudahan dengan para perompak dan bajak laut yang datang dari Pulau Lanun Mindanao, Filipina, yang mereka sebut orang-orang Balangingi.

“Para tetua terpaksa mengunci pulau ini dengan mantra, agar perompak dan bajak laut tak melihat mereka. Hanya orang-orang berhati baik sajalah yang bisa melihatnya dan boleh datang ke sana,” ungkapnya.

Lanjut dikisahkan, setelah menggelar doa yang sungguh-sungguh ke hadirat Ruata di puncak Bukit Manongga, maka bersinarlah tempat itu. Sebuah pohon ajaib mulai tumbuh dijaga seorang lelaki bernama Wando Ruata (Manusia Suci). Bergiranglah para moyang tua, atas kehadiran pohon berkah itu yang kemudian dinamakan Pohon Lawa (Pohon Karunia). Tapi para penduduk lebih suka menyebut pohon itu, Bunga Lawa.

Bunga Lawa? Ya! Bunga Lawa! Karena, bunganya sangat harum. Tapi bukan itu saja yang ajaib dari pohon ini. Akarnya besi baja, batangnya tembaga, cabang dan carang-carangnya emas, daunnya kain, bunganya mata uang. Wow…! Dasyat kan?

Lalu, bagaimana wujud lelaki yang menjaganya? Wando Ruata dikisahkan sebagai makhluk suci berwujud manusia. Lelaki muda dengan wajah tampan rupawan. Tegur sapanya santun dan bijaksana.

Sebagaimana sebuah legenda, Wando Ruata dilukiskan memiliki mata nan teduh seperti langit pagi hari yang memanggil datang matahari. Alisnya tipis hanya bisa digetarkan oleh bayu yang bersemilir. Rambutnya menjuntai bak puisi langit yang terurai. Pipinya cerah seakan tak ada panas yang pernah menderah. Kumis dan janggutnya tak mampu kusajakkan dengan kata, karena hanya Tuhan yang tahu makna bijak di dagunya. Tinggi dan gagah ia. Pohon-pohon seakan tunduk bertaklik setiap ia pergi melangkah. Tapi bukan semua itu yang menarik dari Wando Ruata. Kehadirannya di masa pelik, ini yang lebih bermakna.

Di masa sulit tersebut, konon Dialah yang mengatur pembagian kebutuhan penduduk yang diminta dari Pohon Lawa lewat Ratum Banua (Kepala Kampung dan atau Pemimpin Adat). Dia memberi besi baja untuk ditempa jadi peralatan yang dibutuhkan untuk bertani dan berperang. Dia juga membagi tembaga untuk kebutuhan peralatan rumah tangga dan keris para pemberani.

Setiap cabang dan carang tua yang jatuh dari Pohon Lawa dalam bentuk batangan emas yang matang diberikannya semua kepada penduduk. Daun-daun yang berbentuk lembaran kain setiap hari berjatuhan dari pohon, karena itu penduduk tak berkekurangan lagi bahan untuk pakaian.

Penduduk juga tidak kekurangan uang untuk membeli kebutuhan lain yang dibutuhkan lewat para pedagang yang bersinggah di pulau ini. Uang? Adakah uang di masa itu? Tolong pertanyaan tersebut simpan saja untukmu. Karena lengenda ini sudah begitu dari sananya. Apalagi uang memang sekadar bermakna alat atau sarana untuk bayar membayar. Maka setiap zaman tentu punya alat atau sarana untuk bayar membayar yang semakna dengan uang karena punya nilai tukar.

Lalu bagaimana pembagiannya? Semua diatur dengan baik dan secukupnya saja. Tidak boleh ada penduduk mengambil lebih atau menimbun hasil serta mencari untung dari berkah Pohon Lawa.

Sejak Pohon Lawa tumbuh di bukit Manongga, kehidupan penduduk sontak makmur dan sejahtera. Namun ada yang jadi masalah! Bau harum bunga Pohon Lawa tercium hingga ke pulau-pulau yang jauh, ke tempat para perompak dan bajak laut Balangingi. Balangingi penasaran. Bau apa yang semerbak dengan wangi tak tertanding ini?

Balangingi segera melarung perahunya. Mereka mencari. Mereka mencari seperti orang lapar yang tiba-tiba disergap bau masakan enak. Pedang, tombak, dan alat perang sudah termuat. Perahu mereka berlayar dalam gambaran yang garang. Dasar otak perompak dan bajak, yang dicari hanya harta dan uang semata. Tapi mencari pulau terbungkus mantra adalah kerja sia-sia. Seperti berharap cinta pada gadis cantik yang tak sedikit saja menoleh pada kita. Ah…! Benar-benar sia-sia belaka.

Dikisahkan, suatu ketika sebuah perahu rompak Balangingi kandas di pantai Pulau Kakorotan. Para Balangingi mengira mereka hanya kandas di bentangan Napo (Karang) yang luas. Magis mantra membuat mata orang-orang Balangingi tak bisa melihat wujud daratan dan rumah-rumah penduduk. Apalagi melihat orang-orangnya!

Untuk membuat jera para perompak dan Bajak Laut itu, atas perintah Ratum Banua, orang-orang Balangingi ditangkap. Kepala mereka dikuliti, lalu kembali disuruh pulang ke tempat asal mereka dengan pesan tidak boleh datang lagi. Sejak peristiwa itu, para Balangingi ketakutan. Mereka takut bahkan untuk sekadar mendengar nama Kakorotan. Kesaktian orang-orang Kakorotan tersebar ke mana-mana. Balangingi tak lagi datang ke sana.

Sejak Balangingi menghindar Pulau Kakorotan, mantra pembungkus pulau pun dibuka oleh para moyang tua. Kehidupan penduduk berlangsung normal, makmur dan sejahtera. Tapi ternyata, ada melapetaka lain tengah menganga. Apa itu?

Diceritakan, seorang gadis cantik bernama Yoi jatuh cinta pada ketampanan Wando Ruata. Tak saja itu, gadis belia ini berharap cintanya berbalas, maka dengan sendirinya hartanya akan melimpah. Namun cinta adalah terlarang bagi Wando Ruata. Para tetua adat dan Ratum Banua telah memperingatkan pada penduduk. Tapi Yoi tetap saja. Perasaan cinta yang menyala di hatinya seperti tak terbendung. Pada suatu pagi, ia naik ke atas Bukit Manongga membawa makanan untuk Wando Ruata lalu berusaha memikat hati sang Wando.

Keesokannya, Pohon Lawa lenyap bersama Wando Ruata dari atas bukit Manongga. Semua penduduk sedih kehilangan pohon karunia itu. Tapi, semua telah berlalu. Adat telah dilanggar. Apalagi yang diharap dari semua seduh.

Konon Pohon Lawa telah dibawa Wando Ruata ke sebuah negeri di bawah air laut yang bernama Negeri Odi. Negeri para bidadari dan peri yang terletak di depan Pulau Kakorotan. Karena perasaan kasih Wando Ruata masih saja ada tersisa untuk penduduk yang ditinggalkannya pergi, maka ia mengirim ikan-ikan dari Negeri Odi untuk tradisi Mane’e yang masih terjaga hingga kini.

Pulau Keramat Yang Pernah Diterjang Tsunami

Pulau Kakorotan sudah dikenal sejak abad ke-8, dan oleh penduduk setempat dipercaya sebagai pulau keramat karena mereka yakin leluhur mereka dahulu berasal dari pulau ini. Nama Kakorotan adalah sebuah kata yang diserap dari kata dalam bahasa Belanda yang berati “merunduk”.

Menurut tetua di pulau itu, nama tersebut dikaitkan dengan peristiwa ketika pertama kali mendaratkan kapalnya di sini, Belanda melihat banyak orang yang sedang melakukan persembahyangan kepada leluhurnya, dan orang – orang Kakorotan melakukan itu dengan cara merunduk seperti kebanyakan yang dilakukan orang ketika sembahyang.

Tentang sejarah pulau ini, dikatakan, sebenarnya pulau Kakorotan dan dua pulau lain yaitu Intata dan Malo dahulu menyatu, namun pada abad ke-17 sempat ada gempa besar dan terjangan Tsunami yang membuatnya terpisah.

Konon pusat permukiman Kakorotan dahulu terletak disalah satu bagian di wilayah pulau Intata, namun karena bencana tsunami, penduduk disana tewas dan hanya bersisa delapan orang yang berdiam di bagian wilayah yang sekarang menjadi pulau Kakorotan. Dari delapan orang yang selamat itulah kemudian pulau Kakorotan kembali melanjutkan kehidupan, beranak pinak dan menjadi penduduk Kakorotan yang sekarang.

Penghormatan terhadap leluhur masih sangat tinggi dipegang penduduk pulau Kakorotan. Mereka masih menganggap suci pulau Intata yang mereka percaya sebagai bagian tempat leluhur mereka. Ada beberapa lokasi di pulau Intata yang mereka jadikan sebagai tempat keramat. Dan di Intata hingga saat ini, masyarakat Kakorotan dan Talaud pada umumnya biasa melakukan tradisi Mane’e. (***)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed