oleh

Parengkuan, Putra Minahasa yang Jadi Raja di Kerajaan Siau 1936-1945

Awalnya dipandang sebagai raja ‘Boneka’ Belanda. Ditempatkan untuk mengontrol jalannya pemerintahan di tengah situasi politik dan pergerakan kebangsaan yang lagi tumbuh. Dikemudian waktu, kerja kerasnya membangun kerajaan yang dipimpinnya menjadikan dirinya dicintai dan dihormati rakyat Siau.

Opa Sasela (73), saksi hidup dari era paling dekat dengan kehidupan raja ke 25 Kerajaan Siau, Frans Pieter Parengkuan (1936-1945). Lelaki sepuh itu, nyaris menghabiskan seluruh waktu hidupnya di Mburake dan Gunung Kapeta, sebuah kampung di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

Kendati banyak warga tak mengetahui lagi sepak terjang raja era kolonial ini, tapi Opa Sesela, punya ingatan tentang kecintaan Parengkuan terhadap alam Mburake, dan apa yang ia bangun untuk kerajaan Siau di masa lalu.

“Dan kami beruntung bisa melewati malam bersamanya di situs peninggalan rumah kediaman raja Parengkuan, di puncak Mburake, di tepian Danau Kapeta,” ungkap Buyung Mangangue, pemerhati budaya dan sejarah di Siau, kepada Barta1.com, awal September 2017.

Seperti biasanya, kata Buyung, September adalah bulan dengan cuaca yang berubah-ubah, dan hujan akan terasa dominan di gunung. Beberapa teman menyalakan unggun untuk menepis kabut dingin yang menusuk dari arah danau dengan bentangan alam yang masih lestari.

Pekur dan dengkur aneka satwa berpadu dengan suara jangkrik, lalu ciutan suara melengking tajam dari Tarsius Tumpara jantan, seperti menjeritkan panggilan cinta kepada pasangannya. Dan ciutan kecil anak-anak Tumpara ikut menimpali. Angin tipis memantulkan bunyi “ngun-ngun” dari celah batu, kerisik dedaun di terpa angin, dan bunyi detum datang sesekali dari gelegak magma di kepundan gunung Api Karangetang, letaknya tak jauh, bahkan nyaris bersisihan itu.

“Opa Sasela benar. Alam punya lagu sendiri, dan mereka bisa bernyanyi, bahkan begitu lirih. Ini sebabnya, Raja Parengkuan dulu membangun kediamannya di sini karena ia selalu ingin berada di tengah suara alam yang bernyanyi, dan membangun Mburake sebagai pusat logistik kerajaan Siau tempo dulu,” kata Buyung.

Max S. Kaghoo dalam bukunya “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau”, yang diterbitkan PT. Kanisius 2016, mengungkap, kawasan Mburake dan danau Kapeta sejak dulu di kelilingi pohon Sagu, yang pada zaman itu merupakan salah satu sumber makanan penting bagi masyatakat. Di masa Raja FP. Parengkuan, tulis Kaghoo, kawasan itu dijadikan sentra produksi tanaman pangan diantaranya, singkong, talas, ubi jalar, pisang, padi, bawang, tomat, dan rica.

Selama memerintah, tulis Kaghoo, Parengkuan menerapkan pembangunan lumbung pangan di beberapa kampung dan menyimpan 6000 karung padi. Ini sebabnya, ketika terjadi krisis pangan pada tahun 1941 akibat Perang Dunia II, kerajaan Siau tertolong oleh ketersediaan cadangan pangan ini.

Dalam catatan sejarawan Minahasa, Adrianus Kojongian, sebelum Frans Pieter Parengkuan menjadi raja, kerajaan Siau dipimpin raja Aling Janis yang dilantik secara resmi sebagai raja Siau tanggal 16 September 1930 oleh pejabat Belanda Risiden Manado Anton Philip van Aken, dan dikukuhkan dengan beslit gubernemen 2 Februari 1931 nomor 7.

Saat raja Janis meninggal pada bulan Januari 1935, tulis Kojongian, Risiden Manado Anton Philip van Aken menempatkan pejabat asal Minahasa Frans Pieter Parengkuan yang sebelumnya menjabat bestuur asistent di Sulawesi Tengah sebagai raja adinterim Siau. Dianggap berhasil, pada tahun 1940, Parenkuan didefinitifkan sebagai raja Kerajaan Siau.

Pergerakan kebangsaan dan nasionalisme tengah tumbuh pesat di tengah penduduk kerajaan Siau, ketika Parengkuan menjadi raja. Apalagi pengaruh Soekarno sudah sangat kuat, lewat berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1928 di Siau yang dipelopori GE Dauhan.

GE Dauhan secara kebetulan lahir dari keluarga yang berpengaruh di Siau. Dia masih dalam silsilah keturunan raja-raja Siau. Terutama keturunan dari tokoh-tokoh yang menjadi anggota Majelis Kerajaan Siau. Tak heran, dukungan pendirian PNI sangat kukuh. Banyak pemuda memberikan respons hangat.

Memang di Siau ada kerinduan untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Terbukti saat Cabang PNI itu resmi dibuka, catat sejarawan HB Elias, hanya dalam waktu seminggu jumlah anggotanya 50 orang dan terus bertambah.

Perkembangan itu jelas fantastis. Maklum bergabung dengan PNI berarti berdiri melawan pemerintahan Hindia Belanda. Semua yang menjadi anggota PNI harus siap berhadapan dengan aparatur polisi reserse Belanda. Terutama juga akan berhadapan dengan para penguasa adat Siau yang memang masih dikendalikan pemerintahan Hindia Belanda untuk melindungi kepentingan negara kolonial tersebut.

Pada waktu sebelumnya, tempatnya pada 20 Desember 1929 countroleur pemerintah Hindia Belanda di Tahuna memerintahkan dilakukan razia kantor PNI di Ulu Siau. Razia itu jelas mendahului perintah razia nasional semua struktur organisasi PNI di seluruh pelosok Hindia Belanda pada tanggal 29 Desember 1929.

Rapat di kantor PNI Ulu Siau yang dipimpin GE Dauhan, malam 20 Desember 1929, digeledah pihak marsose Belanda dengan senjata lengkap. Kebetulan kantor PNI itu tepat berada di samping kantor marsose. Meski para aktivis PNI sempat meloloskan diri dengan lari dari pintu belakang, namun keesokan harinya Dauhan dan Bawengan diperiksa aparatur polisi Belanda.

Terhitung sejak peristiwa 20 Desember 1929 itu juga satu regu marsose dan veltpolitie selalu siaga di Ulu Siau. Countroleur pemerintah Hindia Belanda di Tahuna juga menempatkan aspirant controleur untuk mengamati langsung dan mencermati segenap perkembangan sosial politik di pulau Siau.

Kontrol keamanan dan pemerintahan di Siau memang harus diperketat, karena gerakan PNI Dauhan terkait dengan tokoh nasionalis Ir. Soekarno. Aparat polisi Belanda siaga. Mereka was-was jangan-jangan peristiwa di tubuh kerajaan Siau dimanfaatkan jadi momentum menggerakan pemberontakan di pulau Siau oleh anak-anak muda PNI. Hal serupa pernah terjadi di Jawa dan Sumatera.

Ini sebabnya, maksud Belanda menempatkan Parengkuan di Siau, tulis Kaghoo dalam bukunya, untuk mengontrol jalannya pemerintahan di tengah situasi politik di Indonesia yang lagi memuncak ini.

Pegawai Belanda Yang Dicintai Rakyat

Kendanti berada di tengah dinamika politik yang sangat tinggi, dan juga sebagai putra pribumi asal Minahasa, Parengkuan cukup taktis memainkan perannya menjaga stabilitas kerajaan. Ia juga berhasil meyakinkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengucur biaya pembangunan jalan, terutama merintis jalan lingkar pulau Siau.

Parengkuan juga disebut sebagai orang yang memperkenalkan budaya Mapalus dari budaya tanah ke lahirannya Minahasa kepada penduduk kerajaan Siau. Ini sebabnya kata “mapalose’ dalam bahasa Sangihe dialek Siau, yang berarti kerja gotong royong berasal dari kata “mapalus” masyarakat Minahasa.

Dengan semangat “mapalose” yang dititahkan raja FP. Parengkuan, kerajaan Siau mengalamai kemajuan baik dengan terbukannya infrastruktur jalan, terpenuhinya kebutuhan pangan, dan kian pesatnya capaian hasil pertanian pala, kelapa dan cengkih.

Ketika Jepang berkuasa di seluruh Sangihe, Talaud, Siau, dan Tagulandang, FP. Parengkuan lolos dari ancaman hukuman mati, kendati Jepang sedang mensasar pemancungan para Raja dan Wakil Raja setempat.

Saat NICA berkuasa, FP. Parengkuan diberhentikan oleh Belanda pada tahun 1945, oleh suatu persoalan kecil, yang disebutkan Kaghoo, Perengkuan menikahi seorang gadis keturunan bangsawan Siau, padahal beliau sudah punya isteri. Namun, 9 tahun pemerintahannya di kerajaan Siau, FP. Parengkuan, telah menjadi raja yang dicintai dan dihormati penduduk Siau dengan sebutan “I Tuang Perengkuang” yang berarti Tuan Kami Parengkuan. (***)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed