oleh

Tagaroa, Sang ‘Lord of the Sea’ Suku Bangsa Sangihe Talaud

-Budaya, Kultur-2.607 views

Seperti juga kalangan kaum Maori di Selandia Baru dan penduduk kepulauan Hawaii serta Pulau Paskah, suku bangsa bahari Sangihe Talaud sejak masa lampau mengenal dan memuja Dewa Tagaroa, sebagai sang penguasa laut.

Tagaroa adalah sosok Dewa Laut yang telah hidup ribuan tahun dalam mythology suku bangsa Sangihe Talaud –saat ini dikenal sebagai penduduk asli yang mendiami kawasan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro.

Dalam sastra “Sasahara” atau sastra bahari masyarakat di kepulauan tiga kabupaten yang juga disebut “Nusa Utara” ini, Tagaroa dilafalkan sebagai ‘TaghaĮoang’ berarti samudera sekaligus nama dewa samudera yang juga disebut dengan nama lain ‘Mawendo’.

Di masa lampau masyarakat daerah kepulauan yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina ini, ada upacara dan ritual dalam memuja sang dewa laut.

Pasca-persentuhan dengan ajaran agama-agama semitik (Islam-Kristen) keyakinan masa lalu dan bentuk-bentuk ritualnya mulai pudar, namun nilai-nilai kebahariannya tetap hidup hingga kini, menjadi jati diri.

Siapakah Tagaroa?

Robert S. Suggs ahli anthropologi dari Columbia University dalam bukunya berjudul “The Island Civilizations of Polynesia” menyebut nama Tagaroa sebagai asal segala dewa-dewa, segala yang ada adalah ciptaannya.

Penyebutan nama Tagaroa oleh Suggs ini, ungkap John Rahasia lewat bukunya “Tagaroalogi”, atas dasar penyelidikan di berbagai pulau dalam lingkungan Polynesia bersama Tim dari The American Museum of Natural History sekitar tahun 1957-1958.

Nama Tagaroa juga disinggung dalam buku “Zwerftochten door de Zuid-Zee” karangan Dr. C.H.M. Heeren Palm. Juga diungkap Sir Peter Buck dalam “Viking of the Sunrise”.

Sementara dalam mythology penduduk Indo-Pasifik, Tagaroa dipuja dan disembah sebagai Maha Dewa Samudera atau sebagaimana yang dikemukakan Prof. Raymond F. Firth, Tagaroa adalah “Lord of the Sea”, atau penguasa laut.

Penyelidikan paling mendalam tentang Tagaroa dilakukan oleh John Rahasia. Ilmuwan, sejarawan, budayawan, dan ahli strategi militer ini, dengan menggunakan pendekatan anthropologi budaya, ia berhasil memperkenalkan Tagaroa dalam konteks suatu wilayah geografis yang disebutnya sebagai “The Indo-Pacific Archipelago”.

Dalam bukunya yang membicarakan penemuan kembali Tagaroa atau “Tagaroalogi”, John Rahasia, memaparkan hasil penelitiannya tentang unsur-unsur kesamaan dalam bahasa, budaya dan ciri-ciri fisik antrophology dari penduduk secara keseluruhan di kawasan yang disebutnya “dunia ke enam Tagaroa” atau “Samudera Raya Indo-Pasifik”.

Dunia ke enam ini, tulis John, membentang dari Pulau Madagaskar di sebelah Barat, sampai dengan Pulau Hawaii dan Pulau Paskah di sebelah Timur, dan dari Jepang di sebelah Utara, sampai dengan pulau-pulau Selandia Baru di sebelah Selatan.

Dijelaskan John Rahasia, nama Tagaroa, di kawasan Samudera Raya Indo- Pasifik muncul dalam beragam ejaan berbeda-beda, diantaranya: Tangaroa, Tagaroa, Tangaloa, Ta’aroa, Tagaloa, Hangaroa, yang kesemuanya itu adalah nama dari Maha Dewa Samudera atau Penguasa Laut itu.

Dalam mythology orang-orang Eropa terutama bangsa Yunani dan Romawi yang menguasai Laut Tengah, Oceanus adalah dewa laut mereka. Sementara mythology bangsa-bangsa yang mendiami pulau-pulau Lautan Teduh atau “The Indo-Pacific Archipelago”, Tagaroa adalah dewa lautnya.

Sebuah kesalahan serius menurut John Rahasia, ketika pelaut-pelaut Eropa, terutama Spanyol, Portugis, Inggeris, Belanda, Perancis sejak abad 16 mengambil nama dewa Laut Tengah diberikan kepada pulau-pulau di Lautan Teduh yaitu Ocenia.

Ini sebabnya, penemuan kembali Tagaroa sebagai dewa Samudera Raya Indo-Pasifik (Lautan Teduh) adalah upaya melawan dan menghapus dominasi dan kolonialisme Eropa dari sebagian persada Lautan Teduh kita.

Penduduk The Indo-Pacific Archipelago, adalah putera-puteri Tagaroa, bukan Oceania. Putera-puteri Tagaroa ungkap John, berasal dari nenek moyang atau leluhur yang sama yaitu dari lembah sungai Mengkong di daerah Yunan atau Vietnam saat ini.

Kisaran 2000-1700 SM, akibat tekanan militer Cina dan Mongolia, ungkap John Rahasia, penduduk lembah sungai Mengkong melakukan migrasi melalui tepi laut Cina Selatan menyeberang ke pulau-pulau Indonesia, Filipina, kemudian melalui Mikronesia dan Melanesia mereka sampai ke pulau-pulau Hawaii, pulau Paskah dan Selandia Baru di Polynesia. Dan ada pula yang mengarungi samudera Indonesia sampai di pulau Madagaskar, di sebelah pantai Timur Afrika. (***)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed