oleh

Rumah Ikan di Pantai Cantik Kapitu

Sulit menyangkali berkah alam pemberian Sang Pencipta untuk Desa Kapitu. Di sini, kita akan menikmati panorama pesisir yang menenangkan hati, menyesap bau laut dengan anginnya yang semilir, menerima keramahan warganya dan sebuah ekosistem sempurna bagi ikan.

Garis pantai Desa Kapitu, di Kecamatan Amurang Barat, Minahasa Selatan, memang tidak panjang. Hanya 1,5 kilometer. Tapi kehidupan bagi sebagian besar warganya dimulai di situ. 50 persen dari 2.765 penduduk Kapitu berprofesi sebagai nelayan tangkap. 30 persen lainnya adalah petani, sisanya pegawai pemerintahan.

Nelayan Kapitu mendapat kelimpahan dari hasil laut. Berbagai jenis ikan menetap di situ. Lautan di depan desa tersebut adalah rumah yang nyaman untuk spesies ikan yang biasanya ditangkap dan dikonsumsi. Pegiat lingkungan Sonny Tasidjawa yang telah melakukan penelitian di lokasi ini menyatakan, di Teluk Amurang, hanya lingkungan laut sekitar Kapitu yang memiliki ekosistem lengkap untuk ikan.

“Dimulai dari hutan mangrove, selanjutnya ada padang lamun kemudian terumbu karang, ini sudah paripurna,” kata aktivis dari LSM Manengkel Solidaritas, Jumat 6 April 2019, yang ikut melakukan transplantasi karang di lautan Kapitu.

Bentangan 3 ekosistem penting ini pun sangat luas. Hutan mangrove seluas 51 Ha, padang lamun 65 Ha dan terumbu karang 41 Ha. Setiap kawasan punya arti penting buat kehidupan ikan. Kata Sonny, mangrove menjadi lokasi ikan bertelur. Saat ikan beranjak remaja, mereka beraktivitas di padang lamun. Saat dewasa, terumbu karang adalah tempat mereka mencari makan.

Wisatawan asing beraktivitas dengan bocah-bocah di Desa Kapitu. (foto: barta1)

PT Cargill Indonesia bersama pemerintah daerah Sulawesi Utara dan Minahasa Selatan, telah mengambil upaya memelihara ekosistem tersebut. Dengan Manengkel Solidaritas sebagai pelaksana lapangan, para pihak ini melakukan penanaman terumbu karang di wilayah laut Desa Kapitu akhir pekan lalu.

“Tanggung jawab perusahan juga untuk merawat lingkungan laut dan memberdayakan masyarakat sekitar,” kata Imelda Tandako, Plant Manager PT Cargill, pengelola bahan dasar kelapa yang berada di Amurang.

Keberadaan rumah ikan di laut Kapitu telah memantik pemerintah desa dan warganya untuk segera berbenah. Pernah beberapa tahun lalu, menurut Kepala Desa Kapitu Christy Kumambong SE, ada peneliti datang dan menemukan jejak kerusakan di area terumbu karang. Christy tak menyangkal penyebabnya adalah limbah yang diproduksi wargannya sendiri.

“Tapi di masa itu memang masyarakat belum paham pentingnya terumbu karang bagi ikan dan bagi manusia, sekarang setelah menerima edukasi dari banyak pihak kami telah sadar dan terus menjaganya,” ujar perempuan pemimpin ini.


Kepala Desa Kapitu Christy Kumambong . (foto: barta1)

Sadar bahwa desanya menyimpan aset alamiah, Christy bersama masyarakat Desa Kapitu mulai melihat ada peluang baru yang bernilai ekonomi bernama industri pariwisata. Christy berniat desanya bisa terbuka untuk didatangi wisatawan.

“Wisatawan bisa menikmati alam pesisir atau juga melakukan penelitian,” kata dia.

Daya tarik lain di Pantai Kapitu, di situ ada beberapa goa peninggalan masa lalu yang memiliki artefak bersejarah. Berbagai porselen pernah diamankan pihak Museum Daerah Sulawesi Utara dari dalam sana dan diakui sebagai milik pelaut Eropa yang singgah di Kapitu.

“Tanjung Kapitu dulu adalah tempat persinggahan pelaut Portugis, makanya ada goa-goa yang mungkin mereka tinggali,” kata Christy, sambil memandang pantai cantik Kapitu yang sangat memesona. (*)

Peliput: Agust Hari, Ady Putong, Meikel Pontolondo
Editor: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed