oleh

NasDem Watch Sulawesi Utara: Sebuah Ikhtiar Mengawal Perubahan

-Opini-1.261 views

Realisme Politik dan Masalahnya

Politik tidak memilah antara yang benar dengan yang salah. Antara yang baik dengan yang buruk. Antara yang indah dengan yang jelek. Politik hanya memilih yang unggul.

Itulah yang disebut sebagai realisme politik, yakni cara bagaimana kenyataan politik menentukan kebenarannya. Dalam konteks ini, ukuran bagi kebenaran politik adalah keunggulan.

Orientasinya adalah kekuasaan dan bagaimana hal itu digunakan oleh para pihak dalam ruang politik untuk mempertarungkan kepentingan publik yang tidak pernah hanya satu.

Memikirkan alternatif bagi model realisme politik biasanya akan terjebak dalam dua kekeliruan yang indah. Pertama, kekeliruan mengajukan yang-ideal sebagai alternatif. Kedua, kekeliruan mengajukan realisme yang-lain.

Alternatif pertama bisa keliru karena, kita tahu, idealisme tidak pernah berarti apapun dalam politik kecuali idealisme itu sendiri. Ia baik sebagai penunjuk jalan tapi ia bukan jalan itu sendiri.

Dengan idealisme, kita bisa melihat suatu tujuan di depan sana. Tapi idealisme tidak akan bisa membawa kita ke sana. Dalam politik, idealisme adalah utopia ketika ia tidak berani dipertarungkan dalam ruang politik.

Tapi tawaran ini indah karena melakoni realisme politik tanpa idealisme adalah memasuki ruang kosong peristiwa tanpa peristiwa itu sendiri. Idealisme, sejauh dipertarungkan dalam ruang politik, adalah mesin peristiwa.

Politik adalah ruang bagi peristiwa dan ruang ini tidak kosong. Di dalamnya ada persilangan kepentingan yang seluruhnya berpusat pada kekuasaan. Tanpa idealisme, setiap kepentingan akan membenarkan oportunisme.

Oportunisme adalah bentuk primordial realisme politik. Ia adalah tindakan yang kehilangan peristiwa pada dirinya sendiri. Karena bagi seorang oportunis, peristiwa politik selalu diciptakan dari luar publik.

Berhadapan dengan oportunisme, hubungan-hubungan politik dalam peristiwa menuntut adanya idealisme; sebentuk penunjuk jalan yang dengannya realisme politik mendapatkan pembenarannya.

Dari model sosialis, sejarah memberi kita Lenin sebagai contoh politisi yang menjalankan idealisme dalam kerangka realisme politik. Dari model libertarian, kita bisa mengajukan politisi seperti Ron Paul.

Tawaran yang kedua juga keliru karena politik hendak diganti dengan sesuatu yang lain yang bukan politik. Realisme politik yang sering tidak menyenangkan ingin diganti dengan, misalnya, realisme ekonomi.

Hal semacam itu keliru karena politik tanpa politik selalu berarti politisasi segala-galanya. Mengganti realisme politik dengan realisme ekonomi adalah menjadikan ekonomi sebagai ruang bagi peristiwa politik.

Pada gilirannya, lewat cara ini, politik akan menjadi total. Kekuasaan akan meresap dalam seluruh ruang masyarakat, baik publik maupun privat. Pasar terpolitisasi, politik terkomersialisasi.

Ekonomisme hanya satu misal. Yang lain, yang juga sering terjadi, adalah militerisme; mengganti realisme politik dengan realisme perang. Dan sekian model alternatif lainnya, termasuk realisme identitas.

Tapi tawaran ini juga indah setidaknya dalam peringatannya bahwa realisme politik selalu punya dua muka. Muka yang mengancam dan muka yang terancam.
Realisme politik selalu membayangkan ancaman terhadap ‘kebenaran’ sekian wilayah lain dari dunia bersama masyarakat. Bentuknya adalah campur tangan politik dalam wilayah kehidupan lain.

Anggapan yang mendasarinya adalah politik bisa dan harus menyelesaikan urusan-urusan yang buntu atau terbengkalai pada wilayah kehidupan lain. Pemerintah, dalam skema ini, menjadi segalanya.

Di sisi lain, realisme politik juga selalu berada dalam keadaan terancam oleh aneksasi kepentingan dari wilayah-wilayah kehidupan lainnya itu. Sehingga hubungan mereka tidak selalu berlangsung nyaman.

Akibatnya adalah pembusukan ruang politik oleh tersingkirnya kepentingan yang absah untuk dipertarungkan dalam ruang politik, yakni kepentingan publik. Di sini, oportunisme menjadi satu-satunya strategi.

Partai NasDem dan Realisme Politik

Kesadaran akan kebenaran realisme politik adalah kesadaran yang dimiliki Partai NasDem sejak awal berdirinya. Ia adalah kebenaran yang bersifat self-evident dan berlaku secara universal.

Seruan pendiri utama sekaligus ketua umum Partai NasDem saat ini, Surya Paloh, agar para kader memenangkan Partai NasDem dalam kontestasi politik elektoral adalah isyarat dari kesadaran itu.

Tanpa kemenangan, tidak akan ada peluang bagi partai untuk ikut menempati ruang kekuasaan, menentukan pilihan dan membuat keputusan. Tanpa kemenangan, NasDem akan berhenti jadi partai politik.

Namun, sekaligus dengan kesadaran akan realisme politik ini, berdirinya partai juga menjadi tonggak pencanangan dimensi lain dari kebutuhan akan peristiwa politik sebagai peristiwa persilangan kepentingan publik.

Partai NasDem, lewat Surya Paloh, menyebutnya sebagai politik gagasan. Dimensi idealistis dalam partai yang kebenarannya divalidasi oleh saling silang peristiwa politik bangsa Indonesia sendiri.

Karenanya, pada NasDem, tidak ada dikotomi antara yang-real dengan yang-ideal dalam upayanya menciptakan peristiwa dalam ruang politik bagi kepentingan publik. Tapi itu baru klaim, sekadar cita-cita.
Bagaimana dengan kenyataannya?

Realisme politik yang dilakoni partai sudah sejak awal mendatangkan kecemasan pada mereka yang menaruh harapan terhadap NasDem. Di banyak daerah tampak ‘harapan yang mencurigakan’ dari semacam ‘daur ulang’ keterlibatan para oportunis dan petualang politik, entah lama atau baru.

Partai NasDem, dalam berbagai adegan ini, seperti hanya menjadi rumah bagi para politisi tanpa peristiwa politik. Yaitu mereka yang memasuki ruang politik tidak dengan beban kehendak publik sebagai kepentingan untuk dipertarungkan.

Mereka yang bukan politisi dalam arti ‘manusia politik’ seperti kita membayangkan Soekarno, Hatta atau, setidaknya, Gus Dur. Mereka hanyalah orang-orang yang kebetulan memiliki sumber daya untuk memenangkan partai.

Tapi justru pada titik kritis inilah kita melihat bekerjanya realisme politik Partai NasDem. Adegan yang paling mencemaskan tapi diperlukan jika partai tidak ingin tersingkir dari ruang politik republik ini.

Dalam adegan ini, tak ada yang salah dengan orang-orang itu dan keinginan mereka untuk berumah di Partai NasDem. Lebih jauh lagi mereka justru berguna bagi ikhtiar kemenangan politik NasDem.

Mengabaikan mereka dan sumber daya yang mereka kuasai adalah mengabaikan apa yang paling nyata dari kenyataan politik kita hari ini. Ia bukan kebenaran politik Partai NasDem, tapi ia membawa partai ke arah itu.

Pertama, dengan politik gagasan yang diusungnya, Partai NasDem mestilah membuka peluang bagi persaingan yang sehat di dalam tubuh partai sendiri. Apa yang kau tanam, itulah yang kau petik.

Dengan begitu, para oportunis itu, jika mereka masih membawa oportunisme di dalam partai maka mereka harus siap berhadapan dengan ‘manusia-manusia politik’ sejati yang juga bernaung di dalam partai.

Artinya, menghindari partai hanya karena orang-orang itu adalah menyerahkan partai pada orang-orang itu. Bahkan sejarah Partai NasDem sendiri berlaku dengan latar kontekstual yang sama.

Alih-alih memaki dan menghindari politik republik yang amburadul oleh pengkhianatan atas cita-cita perubahan yang diusung lewat gerakan reformasi, Partai NasDem justru memilih untuk berdiri dan terlibat.

Karena, misalnya, jika kita menganggap bahwa semua partai politik lain yang mendiami ruang politik bangsa hari ini adalah partai-partai busuk, maka menghindari ruang itu berarti menyerahkan nasib politik bangsa pada kebusukan. Dengan berubah dari ormas menjadi partai, NasDem jelas tidak memilih cara itu. Yang harus dilakukan, seturut biografi NasDem, adalah bertahan hidup dengan bersatu, berjuang, dan merebut kemenangan.

Itu artinya melawan sistem busuk dan pembusukan ruang republik dengan realisme politik yang sadar diri. Serta menetapkan politik gagasan sebagai patokan ideal bagi gerak politik dalam realisme yang mencemaskan itu.

Dan, pada puncaknya, menyatukan seluruh elemen progresif di dalam tubuh bangsa untuk bergerak bersama mewujudkan perubahan. Itulah yang dilakukan NasDem dan itulah juga yang harus kita lakukan di dalam NasDem.

NasDem Watch Sulut dan Gerakan Perubahan

Kecemasan terhadap realisme politik Partai NasDem adalah kecemasan yang perlu dan diharuskan. Itu adalah tanda bahwa di dalam tubuh Partai NasDem, setidaknya di Sulawesi Utara, ada kesadaran untuk menjaga partai tetap bergerak dalam jalan perubahan yang menjadi identitas ideologisnya.

Itu juga berarti bahwa masih ada orang-orang kritis di dalam Partai NasDem Sulut, yakni para manusia politik. Sumber daya sesungguhnya yang sangat dibutuhkan oleh NasDem lebih dari apapun yang dimilikinya saat ini.

Dan kritisisme itu menjadi semakin penting manakala kita tahu bahwa ada harapan yang wajar, optimisme yang terukur, akan kemenangan Partai NasDem dalam pemilu 2019 yang tinggal beberapa hari lagi. Dan optimisme itu berlaku baik di Sulut secara khusus, maupun di Indonesia pada keseluruhannya.

Di Sulawesi Utara sendiri, optimisme itu bisa berarti satu fraksi pada, setidaknya, delapan dari lima belas DPRD kota/kabupaten. Satu fraksi di DPRD provinsi. Serta, sangat mungkin, tiga wakil di DPR-RI.

Ditambah dengan enam kepala daerah yang saat ini bernaung dalam satu rumah Restorasi Indonesia, siapa yang tidak ingin bicara soal politik gagasan dan gerakan perubahan di Sulawesi Utara?

Adapun politik gagasan Partai NasDem, lengkap dengan identitas ideologisnya dalam frasa ‘gerakan perubahan,’ adalah patokan ideal yang mengikat realisme politik partai dengan kehendak publik a.k.a. elemen-elemen bangsa. Pada setiap simpulnya ada Konstitusi, Pancasila, dan seluruh sejarah bangsa ini dalam setiap peristiwa yang memberi bentuk pada perwujudannya dari kemarin, hari ini, dan esok nanti.

Namun sebagai patokan ideal, politik gagasan itu serta seluruh simpulnya harus diandaikan berada dalam ancaman yang terus menerus dari luar dan dalam partai. Menganggap bahwa segala sesuatu akan berlangsung sesuai ideal yang telah digariskan adalah kenaifan yang fatal akan sifat realisme politik.

Di Sulawesi Utara, NasDem Watch muncul untuk menolak kenaifan itu. Kecemasan akan kemenangan yang salah arah selalu merupakan cara terbaik dalam memahami realisme politik di republik ini.

Tapi kecemasan itu sendiri harus bergerak dari kritisisme yang sesungguhnya. Kritisisme yang tidak melulu bermakna negatif tapi juga positif dan produktif. Lebih dari itu, kritisisme itu harus datang dari dalam gagasan Partai NasDem sendiri, bukan kritik yang bersandar pada gagasan dari luar partai.

Tapi ‘luar’ dan ‘dalam’ partai adalah istilah yang tidak bersangkut paut dengan struktur formal Partai NasDem. Apa yang menghubungkan NasDem Watch dengan Partai NasDem adalah harapan gerakan ini terhadap gagasan dan cita-cita Partai NasDem serta kepercayaannya pada kebenaran dari seluruh gagasan dan cita-cita itu.

Artinya, pertaruhannya adalah semata gagasan karena NasDem Watch tak punya massa dan tidak berminat pada massa. Yang dilibatkannya hanyalah sebanyak mungkin orang kritis untuk bersama mengawal politik gagasan NasDem agar tidak tenggelam dalam lakon realisme politik dari para politisi NasDem di Sulawesi Utara setelah pemilu nanti.

Pada saat yang sama, NasDem Watch akan menjadi ruang diskursif bersama dalam mengembangkan gagasan-gagasan pokok partai bagi penerapannya di tingkat lokal.
Beberapa dari kami adalah orang yang membaca berulang kali pidato-pidato penting Surya Paloh dalam Mari Bung Rebut Kembali! dan mendiskusikannya hampir setiap minggu. Seperti juga kami membaca dan mendiskusikan setiap gagasan dalam Indonesia di Jalan Restorasi yang ditulis Willy Aditya.

Maka, dibicarakan sebagai sebuah gerakan kecil dari sebuah kampung bernama Sulawesi Utara, NasDem Watch adalah upaya untuk menjaga agar isi gagasan dalam kedua buku itu tidak hanya menjadi fosil literasi di dalam partai.

Oleh: NasDem Watch

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed