oleh

Nyiur Melambai Lambang Sulut, Jangan Gantikan Tanaman Lain

Sangihe, Barta1.com — Pada giat Medaseng di Kampung Pananaru, Kepulauan Sangihe Sabtu (16/03/2019) Gubernur Sulut Olly Dondokambey membeberkan tingkat perekonomian Sulawesi Utara berada di angka 6,1 persen rata-rata di atas nasional. Namun pada satu sisi harga produk unggulan komoditi masyarakat, yaitu kelapa, masih anjlok.

Meski demikian menurutnya dari turunnya harga Kopra, keseimbangan ekonomi di Sulawesi Utara masih diteken dari sektor pariwisata yang kuat. Dirinya pun mengimbau kepada masyarakat agar jangan menggatikan pohon kelapa dengan tanaman lainya. Karena menurutnya, akan berseberangan dengan lambang Sulawesi Utara yaitu “Nyiur Melambai” yang sudah dirintis oleh pendiri Sulawesi Utara sebelumnya.

“Bagaimana bisa kita menghilangkan tanaman kelapa, sedangkan lambang Sulawesi Utara saja pohon kelapa,” ujarnya di depan masyarakat.

Gubernur mengakui bahwa tiga tahun terakhir harga kelapa tidak bisa kita dongkrak seperti harapan masyarakat sekarang ini. Sebab dikatakannya anjloknya harga komoditi bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Utara, melainkan secara merata di seluruh Indonesia akibat dari harga pasar.

“Dan itu pun pemerintah tidak bisa mengintervensi,” kata dia.

“Kalau dulu kelapa ini menjadi primadona bagi Provinsi Sulut sehingga dulu kalau beli Pesawat, Kapal, pemerintah Indonesia hanya menukar dengan kopra. Tetapi dengan kondisi sekarang sudah tidak mungkin seperti itu lagi. Karena kelapa sawit itu dari Aceh sampai Papua tiap tahun puluhan hektar mereka tanam,” jelas Olly.

Harga kopra sampai saat ini masih pada level Rp. 4500 dan tentunya menjadi satu dilema bagi masyarakat dan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Gubernur berharap agar masyarakat tidak usah khawatir, karena pemerintah untuk sekarang ini tengah melakukan inovasi-inovasi baru meningkatkan perekonomian minyak kelapa.

“Program presiden saat ini setiap liter minyak solar harus menggunakan minyak sawit dan minyak kelapa 20 persen. Jadi minyak solar yang kita pakai akan dicampur dengan minyak kelapa dan sawit. Harapanya ke depan akan lebih ditingkatkan menjadi 50 persen dengan teknologi-teknologi yang dikembangkan sehingga nilai tambah bagi minyak kelapa dan minyak sawit akan meningkat,” jelas dia. (*)

Peliput: Rendy Saselah

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed