oleh

Mengenal Lebih Dekat Tokoh Perempuan Sulut Wulan T Zesty Sambul SPd

Manado, Barta1.com — Mengisi line-up Calon Anggota (Caleg) DPRD Provinsi Sulut Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Manado dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bagi Wulan T. Zesty Sambul, SPd adalah sesuatu kepercayaan.

Disebut kepercayaan, kata tokoh perempuan Sulawesi Utara (Sulut) ini karena pertama-tama, hanya sedikit kemungkinan yang terbuka bagi setiap orang untuk bisa masuk dalam line-up Caleg dari partai terbesar Indonesia ini.

Kedua, tutur Zesty, –sapaan akrabnya– ketika masuk dalam barisan PDIP, seorang Celeg harus bergerak sebagaimana amanat platform partai.

“Kita semua tahu, PDIP itu partai nasionalis yang sangat konsen mengutamakan keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia, sebuah partai yang berpihak pada kepentingan rakyat. Ini sebabnya, ketika dipercayakan masuk dalam line-up Caleg PDIP, bagi saya adalah sebuah kepercayaan, terutama kepercayaan dari rakyat itu sendiri,” ujar figur yang dikenal dekat dengan masyarakat pesisir.

Istri dari Rizal Layuck, seorang sarjana hukum yang memilih berkarier sebagai wartawan dari harian terkemuka Indonesia, Kompas, ini mengatakan, ketika dipercayakan menjadi Caleg hal pertama yang dilakukannya adalah membangun jaringan instrument pemenangan untuk menopang kemenangan partai di Dapilnya.

“Tidak terpikir dalam otak saya untuk sesumbar meraih kursi di DPRD. Duduk sebagai anggota legislatif itu penting, namun lebih penting lagi adalah bagaimana saya bisa ikut membesarkan dan memenangkan partai. Sebab bagi saya, kemenangan PDIP adalah kemenangan rakyat,” ungkapnya.

Sebagai istri seorang jurnalis terkemuka dan ibu dari dua orang putra –yang kini keduanya berkarier sebagai dokter—banyak hal menarik dan inspiratif yang dapat dipetik dari tokoh kaum perempuan ini.

“Saya seorang sarjana pendidikan biologi, sempat berkarier sebagai tenaga pendidik di sekolah formal. Tapi kemudian saya memilih konsen menjadi ibu rumah tangga, sambil berbagi waktu dengan dunia dunia pelayan dan aktivitas sosial kemasyarakatan,” kisahnya.

Menurut saya, kata dia, profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Kenapa mulia? Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, masyarakat di sana memandang profesi ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling terhormat. Sebab dari hasil penelitian mereka, masa depan suatu bangsa dan Negara itu berikwal dari peran seorang ibu dalam keluarga.

“Ibu adalah cermin pertama dalam pencarian jati diri seorang anak. Ibu adalah guru yang mendidik generasi bangsa. Ini sebabnya, visi dan misi saya ketika terjun ke dunia politik adalah memberi perhatian dan penguatan pada kaum perempuan yang adalah ibu dari masa depan dan keberlangsungan bangsa dan Negara kita,” kata Caleg keterwakilan kaum perempuan ini.

Kaum perempuan Indonesia dan terutama Sulawesi Utara, lanjutnya, tak boleh sekadar menjadi angka terbesar dari jumlah penduduk, tapi juga harus jadi penentu kebijakan-kebijakan public.

“Inilah sesungguhnya pentingnya keterwakilan kaum perempuan di kursi legislatif. Kaum perempuan harus berada di lembaga Negara ini untuk ikut merancang dan menentukan kebijakan yang berpihak pada kaumnya yang merupakan angka terbesar penduduk Indonesia,” ucap Caleg yang dikenal cerdas ini.

Organisasi dan Aktivitas Sosial
Sebagai ibu dalam keluarga yang mapan secara ekonomi, sekaligus istri jurnalis yang cakupan wilayah kerjanya meliputi liputan internasional, bagi Zasty Sambul, lawatan ke berbagai Negara bukan hal baru baginya.

“Ya saya telah mengunjungi beberapa Negara. Di sana saya bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang dari berbagai organisasi sosial. Banyak pengalaman yang saya timba dari perjalanan-perjalanan internasional itu yang dapat dibagi di sini,” kata Zesty.

Dikatakan dia, selain mengurus kedua anaknya hingga menjadi dokter, ia banyak terlibat dengan aktivitas di sejumlah organisasi sosial.

“Sejak dulu, saya berusaha untuk selalu bisa berbagi pengalaman dengan kaum perempuan pesisir. Membantu dan mengarahkan mereka untuk menjadi ibu rumah tangga yang juga produktif dalam menopang ekonomi keluarga. Saya juga memberi waktu bagi sejumlah yayasan social, menyantuni kebutuhan mereka, serta melakukan pendampingan penguatan organisasi mereka,” kata perempuan yang kini sebagai Pelayan Khusus di jemaat GMIM Sario Kotabaru.

Di tempat kelahirannya, Karangria, Manado Utara, kisah Zesty, ia mengawali kegiatannya di organisasi sebagai Guru Sekolah Minggu. Lalu di organisasi Remaja dan Pemuda, hingga organisasi Wanita/Kaum Ibu.

Zesty juga dikenal sebagai seorang penggiat seni. Ia terlibat dalam sejumlah pementasan teater sebagai aktris, dan ikut sebagai aktivis dalam berbagai organisasi sosial.

“Selain pengalaman organisasi itu memberi pengayaan pengetahuan bagi saya dan membuka ruang pergaulan yang lebih luas dengan masyarakat, pengalaman berorganisasi itu sangat berguna bagi saya, terutama ketika saat ini saya melangkah ke panggung politik.” paparnya.

Wulan T Zesty Sambul bersama suami, Rizal Layuck.

Elektabilitas yang Terus Melonjak Naik
Kendati terhimpit di antara figur Caleg popular dalam line-up PDI Perjuangan, elektabilitas Wulan T. Zesty Sambul, S.Pd jelang pertengahan Maret 2019 terus melonjak naik. Terpantau di Kecamatan Tuminting, Bunaken Kepulauan, dan Bunaken Daratan, Zesty mendapatkan dukungan merata, bahkan mampu menepis lawan-lawannya.

“Zesty mendapat dukungan penuh dari kalangan kaum perempuan gerejani, masyarakat pesisir, serta berbagai oragnisasi social,” ungkap Hitler Johanes, Koordinator Tim Pemenangan Zesty Sambul (14/3/2019) di Molas Manado.

Menurut Hitler, pelengkapan jaringan pemenangan Zesty Sambul hingga awal Maret, nyaris tuntas di semua titik di Kota Manado.

“Kami berharap di sisa waktu yang ada ini, Tim Pemenangan bisa bekerja simultan untuk meraup dukungan dalam memperkokoh elektabilitas calon kami,” kata Hitler.

Tokoh masyarakat Camar Buha, B. Jarang (65), mengatakan masyarakat di kawasan Manado Utara, sudah lama mengenal Zesty. “Sudah sejak lama ia terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, dan selalu memberikan bantuan kepada masyarakat. Ini sebabnya banyak pemilih mendukung dia,” kata Jarang.

Sementara pekan pertama Maret lalu, ratusan anggota komunitas penyandang cacat yang bernaung di bawah Yayasan Dipable Mandiri Sulawesi Utara menyatakan mendukung penuh Caleg keterwakilan kaum perempuan ini.

“Kami mendukung penuh ibu Zesty Sambul. Kami mengenal dia sebagai tokoh perempuan yang sangat peduli dan punya empati yang tinggi membantu Yayasan kami,” ungkap Ketua Yayasan Dipable Mandiri, Martin Polii. (adv)

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed