oleh

Mitos di Balik Erupsi dan Letusan Gunung Karangetang Siau

Aktivitas erupsi gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, masih terus berlangsung beberapa hari belakangan ini. Lahar panas menjalar melalui Kali Malebuhe dan Batuare hingga menutupi akses jalan termasuk jembatan di Desa Batubalan yang sudah tak bisa dilewati lagi.

“Leleran lava sudah berjarak 2.900 meter dari puncak kawah II,” ujar Yudia Tatipang, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, dihubungi dari Manado, Selasa (6/2/2019).

Sebagai salah satu gunung api teraktif di dunia, Karangetang, menyimpan banyak mitos yang hingga kini masih dipercaya masyarakat.

Sebuah mite dari masa purba di bawah 1500 SM, sebagaimana menjadi cerita turun-temurun, juga terekam dalam buku “Aku Laut, Aku Ombak”, menyebut, pulau Alamina merupakan daratan besar, membentang dari pulau Bacan hingga pulau Mindanao.

Masyarakat pulau itu dipimpin seorang Kulano tua bernama Ampuang Tatetu. Dipercaya, sebagai wakil dewa moyang tertinggi yang disebut juga Aditinggi. Aditinggi, berdiam di puncak gunung Karangetang, merupakan gunung tertinggi di daratan Alamina.

Dalam kisahnya, daratan Alamina dihancurkan dan ditenggelamkan lewat letusan dasyat gunung Karangetang sebagai manifestasi kemarahan dewa Aditinggi, karena manusia tak lagi patuh pada hukum dewa moyang tertinggi yang disebut Narang.
Dari bencana besar ini, yang tersisa adalah puncak-puncak gunung yang kemudian membentuk gugusan pulau-pulau. Hamparan karang di dalam laut di wilayah utara muncul menjadi pulau-pulau karang yang baru. Karena letaknya jauh ke laut maka disebut pulau karang jauh di laut (Malaude), yang kini kita kenal sebagai kepulauan Talaud (Talaude).

Sisa-sisa dari reruntuhan Alamina oleh datuk Tatetu dinamakan Nusalawo yang berarti “Pulau banyak”, saat ini disebut gugusan kepulauan Nusa Utara.

Selanjutnya, peristiwa letusan gunung Awu di Pulau Sangihe tercatat juga menelan banyak korban jiwa serta hancurnya 7777 rumah di abad ke XI, menenggelamkan sebagian daratan pulau Sangihe dan membentuk pulau-pulau kecil seperti pulau-pulau Nusa, Lipang, dan beberapa pulau lain hingga pulau Marore. Kejadian itu dikaitkan dengan adanya dosa sumbang (Nedosa) antara Mekondangi dan Tampilangbahe.

Gunung Karangetang berketinggian 1827 mdpl. Jarak sekitar 146 km dari kota Manado. Secara geografis gunung Karangetang terletak pada posisi 02°47’ Lintang Utara dan 125°29’ Bujur Timut.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1675, mengeluarkan lava pijarnya dengan sangat dahsyat. Karangetang sebelumnya tercatat sudah mengalami erupsi sebanyak 41 kali sejak tahun 1675, dan salah satu ciri khas dari gunung api ini, adalah satu-satunya gunung berapi di dunia yang pernah di baptis.

Karangetang dibaptis oleh Pendeta Kelling, seorang misionaris yang datang ke Siau untuk menyebarkan Injil. Pendeta tersebut menamakannya Yohanis. Sementara gunung tidak berapi di samping Karengatang yang dikenal dengan nama Tamata, juga ikut dibaptis, dinamakan Yohana.

Hingga kini masyarakat setempat masih ada yang percaya dan mengaitkan mitos lama dengan aktivitas gunung Karangetang. Jika masyarakat di pulau Siau melakukan pelanggaran (nedosa), maka gunung ini konon akan memberi tanda berupa suara gemuruh ataupun langsung mengeluarkan lava pijar, dan bahkan erupsi dasyat seperti yang terjadi saat ini.

Di lain sisi, gunung Api Karangetang sudah menjadi bagian keseharian masyarakat Pulau Siau. Keaktifannya dipandang berkat bagi tanah di sekitarnya, menyuburkan lahan-lahan tanaman Pala yang merupakan komoditas Pala terbaik dunia. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed