oleh

Lamaru dan Bidadari Nahangging, Cerita Rakyat Orang Bannada, Talaud

Desa Bannada di zaman dahulu bernama Wantane. Disebut Wantane karena bentuk desa ini cekung seperti bentuk lunas kapal. Di belakang perkampungan penduduk ada sebuah gunung bernama Gunung Tanna, yang dirimbuni hutan lebat. Di sanalah penduduk berburu, karena tempat itu dihuni banyak binatang buruan dan burung-burung.

Dikisahkan, di desa yang terletak di pulau Karakelang, Talaud ini pernah hidup seorang lelaki bernama Lamaru. Ia seorang yang pandai berburu burung, bertani, dan pemberani yang tak mengenal takut membela desanya dari gangguan orang-orang luar desa mereka. Karena itu, meski masih berusia muda, Lamaru telah dipercayakan para tetua menjadi pemimpin Desa Wantane.

Sebagai seorang pemburu dan pemberani, watak Lamaru tentu tegas dalam mengatur warga desanya. Namun, Lamaru dikenal sebagai sosok yang arif dan bijaksana dalam memimpin desanya. Di bawah kepemimpinannya, Wantane menjadi desa yang makmur. Kehidupan para nelayan sangat berkecukupan, demikian pula hidup para petani dan pemburu.

Penduduk Desa Wantane sangat menghormati dan menyayangi Lamaru karena keberhasilannya menghadirkan kesejahteraan bagi kehidupan penduduk. Namun ada yang dikhawatikan penduduk dalam kehidupan Lamaru yaitu ia belum punya istri. Mereka kasihan melihat kehidupan pemimpin mereka yang harus mengurus seluruh kebutuhan hidupnya sendiri.

Di Desa Wantane bukan tidak ada gadis cantik hingga Lamaru tak mencari istri. Tapi Lamaru telah jatuh cinta pada seorang perempuan yang selalu mampir dalam mimpinya. Ini sebabnya ia berharap bisa bertemu dengan gadis yang dicintainya itu suatu ketika nanti.

Di rumahnya, Lamaru hanya ditemani seekor anjing peliharaannya yang bernama Randipa. Anjing ini adalah anjing pemburu yang sangat setia pada Lamaru. Ke mana Lamaru pergi, Randipa selalu ikut menyertai.

Suatu ketika, pergilah Lamaru dan anjing Randipa berburu ke hutan gunung Tanna. Sebagai anjing yang pandai, Lamaru sangat percaya pada naluri Randipa dalam mengendus buruan. Tapi dalam perjalanan kali ini, Lamaru merasa, Randipa seperti menuntunnya ke suatu tempat yang belum pernah didatanginya.

Setelah menempu perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang misterius di hutan itu. Ada sebuah kolam pemandian yang airnya sangat jernih. Tak lama, turunlah sembilan bidadari yang sangat cantik ke kolam itu untuk mandi.

Lamaru begitu terpana, karena sembilan bidadari itu wajahnya hampir sama. Namun begitu ada satu yang wajahnya menyerupai gadis yang selalu datang dalam mimpinya.

Lamaru tiba-tiba merasa yakin inilah perempuan yang ia cari selama ini. Setelah para bidadari melepaskan sayapnya ke atas rumput di pinggir kolam dan turun ke dalam kolam untuk mandi, Lamaru dengan mengendap-endap mendekati sayap bidadari yang dikenalnya itu, lalu mengambilnya dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Seusai mandi, terbanglah kembali mereka ke khayangan. Tapi salah seorang dari mereka tak bisa terbang lagi karena sayapnya hilang. Bidadari cantik itu menangis terseduh-seduh ditinggal saudara-saudaranya. Pada saat itulah Lamaru pergi menemuinya.

“Mengapa engkau menangis,” tanya Lamaru.

“Sayapku hilang. Aku tak bisa kembali ke khayangan,” jawab sang bidadari.

“Berarti takdirmu harus tinggal di bumi”.

“Ya, begitulah nasibku barangkali”.

“Siapa namamu?”

“Nahangging!”

“Marilah pulang ke rumahku. Tinggalah di rumahku,” ajak Lamaru.

Bidadari Nahangging akhirnya mengikuti ajakan Lamaru. Mereka pulang ke rumah Lamaru di Desa Wantane. Dalam perjalanan pulang itu Lamaru meminta Nahangging untuk bersedia jadi istrinya. Bidadari Nahangging pun menyetujuinya dengan suatu syarat yaitu kalau Nahangging sedang menjemur hasil pertaniannya jangan sekali-kali mengusir hewan yang menganggu jemurannya sambil bersuara. Merasa syarat itu begitu ringan Lamaru berjanji dan bersumpah menyanggupinya.

Sejak itulah, Lamaru dan Nahangging hidup bersama sebagai suami-istri. Lamaru pun memanggil istrinya dengan nama Woi Nahangging. Sementara Nahangging memanggil suaminya dengan nama khusus hanya untuknya yaitu Porodisa.

Warga Desa Wantane teramat senang melihat pemimpin desa mereka telah memiliki seorang istri. Apalagi Woi Nahangging sangat baik sifatnya. Ia menyayangi penduduk desa yang dipimpin suaminya. Ia tahu berkebun dan pandai memasak. Ia juga suka menolong penduduk desa bila ada kesulitan pangan dengan berbagi apa yang mereka miliki.

Hari berganti, akhirnya Lamaru dan Woi Nahangging dikaruniai seorang putra. Lamaru sangat senang mendapatkan putra yang tampan yang seperti mengikuti garis wajah ibunya yang sangat cantik. Mereka pun merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Lamaru bekerja keras memperbaiki rumah mereka, bertani, dan juga pergi berburu, hingga kebutuhan hidup mereka selalu berkecukupan.

Suatu ketika, saat pulang dari berburu, Lamaru merasa tubuhnya amat letih. Ia pun tertidur di sebuah bangku di belakang rumah. Belum lama tertidur, ia kaget dengan suara hewan yang sedang mengganggu jemuran istrinya. Tanpa sadar ia mengusir hewan-hewan itu dengan berteriak.

Nahangging yang tertidur di kamar bersama putranya yang baru berumur delapan hari turut terkejut. Seketika itu ia meneteskan airmata tak kuasa menerima takdir akibat sumpah yang ternyata telah dilanggar suaminya.

Lamaru pun tiba-tiba sadar bila ia telah melanggar janji dan sumpahnya. Dengan cepat Lamaru bangun dan berlari menuju kamar. Lamaru terkejut, Nahangging dan putranya telah hilang entah kemana. Lamaru, jatuh terduduk tak mampu menerima kenyataan pahit itu. Hatinya amat sedih, tapi semuanya telah terjadi, dan ia tak mungkin membalikkan waktu lagi.
***
Akibat dari pelanggaran sumpah suaminya, Nahangging dan anaknya telah terangkat secara gaib dan tiba di sebuah tempat yang jauh dari Pulau Karakelang. Di tempat itulah Nahangging menitipkan putranya kepada sepasang suami-istri untuk dipelihara hingga dewasa. Nahangging pun berjanji akan memenuhi kebutuhan suami-istri itu selama memelihara anaknya.

Saat anaknya menjelang dewasa, tiba saatnya Nahangging kembali ke negeri khayangan. Sebelum pergi, Nahangging menemui anaknya untuk menceritakan siapa dirinya dan juga bermaksud ingin menyampaikan beberapa pesan.

“Anakku, tak lama lagi ibu akan pergi meninggalkanmu. Tinggalah baik-baik dengan kedua orang tua angkatmu,” kata Nahangging dengan perasaan sedih.

“Mengapa ibu harus pergi? Ibu akan pergi ke mana?” tanya anaknya.

“Ini adalah takdir ibu. Ibu tidak berasal dari dunia ini, Nak. Ibu seorang bidadari yang berasal dari negeri khayangan di seberang langit sana. Jadi sudah waktunya ibu kembali ke tempat asal ibu,” jawab Nahangging.

Mendengar tuturan ibunya, anak itu menjadi sedih. Sebenarnya sudah sejak lama ia merasa ada suatu rahasia yang disembunyikan ibunya darinya. Ia sebenarnya juga ingin menanyakan di mana ayahnya. Selain itu, ia merasa aneh, sebab sudah sebesar ini, ia belum juga punya nama.

Melihat anaknya sedang dirundung berbagai pikiran, Nahangging kembali bicara. “Negeri ini bukanlah tanah kelahiranmu. Suatu saat nanti kau pasti akan kembali ke negeri ayahmu”.

“Di mana negeri ayahku?” tanya anak itu.

“Negeri ayahmu adalah tiga pulau yang kaya dan subur. Bila kau mau pergi ke sana, berangkatlah dari arah matahari terbit menuju utara, dan susurilah pulau-pulau di sana. Jika kau melihat sebuah desa yang pada saat pagi hari akan membersit sinar keemasan di tepian pantainya. Di tempat itu, kau akan melihat juga sebuah gunung yang ada asap naik membubung ke langit, itulah gunung bernama Tanna. Di sanalah kau akan bertemu ayahmu. Dan ingat, aku memanggil ayahmu Porodisa. Nama itu hanya aku dan ayahmu yang tahu,” jelas Nahangging kepada anaknya.

Setelah menitipkan berbagai pesan kepada anaknya, dengan berat hari Nahangging akhirnya terangkat menuju khayangan. Anaknya, sangat sedih atas kepergian ibunya, tapi ia sendiri tak mampu mengubah takdir yang harus dijalani ibunya.

Anak itu kemudian bekerja sebagai pelaut di sebuah kapal. Ia tumbuh menjadi pelaut yang cerdas, cakap dan ulet. Tak berapa lama ia sudah ditunjuk sebagai nahkoda oleh pemimpin negeri di mana ia dititipkan ibunya yakni kerajaan Yunan, untuk menggantikan nahkoda yang lama.

Ia pun berangkat menyusuri laut dan samudera dengan iring-iringan beberapa kapal mencari negeri jajahan baru atas perintah raja Yunan.

Hari berganti hari, akhirnya beberapa armada yang dipimpinnya sampai di negeri tiga pulau. Melihat negeri itu, ia jadi ingat pesan ibunya tentang tanah kelahirannya. Maka berangkatlah kembali ia ke arah utara. Ketika matahari merekah di ufuk timur, tamnpaklah sinar keemasan membersit di tepian pantai. Ia juga melihat di puncak sebuah gunung ada asap membubung tinggi. Semua itu tiba-tiba membuat hatinya girang.

“Itu pasti Gunung Tanna,” gumamnya.
***
Sementara di Negeri Wantane, Lamaru telah melihat iring-iringan kapal yang mendekat ke pesisir desa mereka. Sebagai pemimpin desa, Lamaru telah memerintahkan sekelompok pemuda untuk berjaga-jaga di bawah gunung Tanna. Sementara sekelompok lainnya berjaga di atas gunung. Mereka sudah menyiapkan peralatan perang untuk berjaga kalau-kalau yang datang itu adalah kapal-kapal para perompak.

Sebagai sandi perang, yakni kelompak yang berjaga di kaki gunung harus meneriakan kata poro yang artinya potong, sementara yang di atas gunung akan menjawab dica berarti hantam.

Lamaru berpesan kepada pemimpin kelompok pemuda itu, apabila mereka yang datang itu bisa mengartikan makna poro dan dica maka mereka boleh dipersilahkan naik ke atas gunung untuk bertemu dengannya.

Setelah merapat di pesisir itu, sang nahkoda kapal langsung turun bersama beberapa anak buahnya ke daratan. Di daratan mereka langsung dihadang kelompok pemuda yang mengenakan peralatan perang. Para pemuda itu kemudian meneriakan kata poro dan dari atas gunung terdengar balasan teriakan kata dica.

Mendengar kata sandi itu, sang nahkoda langsung ingat pesan Nahangging ibunya. “Itu nama ayahku. Arti dari sandi itu adalah potong dan hantam,” ujar sang nahkoda kepada para pemuda yang menghadang mereka.

Karena bisa mengartikan makna dari kata sandi, sang nahkoda dan rombongan dipersilahkan naik ke atas gunung menemui pemimpin mereka. Melihat pemuda gagah yang mengenakan pakaian nahkoda, hati Lamaru tiba-tiba bergetar.

“Siapa kamu?” tanya Lamaru.

“Aku adalah seorang anak yang belum diberi nama oleh ayahku. Tapi nama ibuku Nahangging. Nama ayahku Porodisa, konon kata ibuku, ayahku tinggal di puncak gunung ini,” jawab sang nahkoda.

Mendengar jawaban itu, hati Lamaru langsung terenyuh. “Orang yang kau cari itu adalah aku. Namaku Lamaru, tapi ibumu memanggilku Porodisa,” jawab Lamaru.

Akhirnya anak dan ayah itu berpelukan dengan perasaan yang penuh haru. Pesta pun digelar untuk merayakan pertemuan Lamaru dengan anaknya.

Pada pesta itulah kemudian Lamaru memberi nama anaknya yaitu Porodisa. Lamaru juga meminta agar anaknya tinggal di Desa Wantane menggantikan tugasnya sebagai pemimpin desa, karena ia berencana akan pergi meninggalkan Wantane untuk mencari istrinya.
***
Beberapa waktu kemudian, Lamaru meninggalkan Desa Wantane untuk melakukan perjalanan jauh mencari Nahangging, istrinya. Sepanjang pengembaraan wajah Nahangging terus terbayang. Lamaru amat sedih, meski ia telah berjumpah anaknya, tapi istrinya tak kunjung ditemukan.

Di suatu tempat di bawah gunung yang tinggi beristirahatlah Lamaru sambil duduk termenung, tiba-tiba ada seekor lalat hinggap di dahinya. Ia mengebas tangannya mengusir lalat itu. Betapa terkejutnya Lamaru ketika lalat bisa berkata-kata dalam bahasa manusia.

“Apa yang menyusahkan hatimu,” tanya sang lalat.

“Aku sedang mencari istriku,” jawab Lamaru.

“Siapa gerangan istrimu,” tanya lalat lagi.

“Ia seorang bidadari bernama Nahangging,” jelas Lamaru.

“Aku tahu jalan menuju negeri istrimu. Ikutlah aku,” kata sang lalat.

Maka berjalanlah lagi Lamaru dipandu sang lalat yang ternyata berasal dari negeri khayangan itu. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Lamaru dan sang lalat tiba di negeri khayangan, lalu bertemu dengan sembilan bidadari cantik yang wajahnya sama. Lamaru jadi bingung untuk mengenali istrinya.

Sementara untuk bisa bertemu istrinya, Lamaru harus melewati satu syarat yang ditetapkan pemimpin negeri khayangan yaitu ia harus bisa menebak dan memilih istrinya secara tepat dari sembilan bidadari yang wajah nyaris sama itu. Bila Lamaru salah memilih, maka ia akan segera diusir dari khayangan.

“Jangan kau risau. Di mana aku hinggap itulah istrimu Nahangging,” bisik sang lalat kepada Lamaru. Akhirnya lalat itu hinggap di bahu salah seorang putri. Dengan cepat Lamaru pergi meraih tangan sang putri.

“Engkau pasti adalah istriku Nahangging,” kata Lamaru.

“Benar. Akulah Nahangging istrimu,” balas putri bidadari itu.

Karena mampu menebak secara tepat, Lamaru diperkenankan tinggal beberapa saat di khayangan bersama istrinya Nahangging. Pertemuan itu membuat hati Lamaru gembira. Apalagi, istrinya masih menyayangi dia. Lamaru berterima kasih kepada sang lalat yang baik hati, dan mereka menjadi sahabat.

Setelah beberapa waktu tinggal di khayangan, Lamaru mengajak istrinya Nahangging untuk kembali ke bumi agar bisa berjumpa dengan anak mereka Porodisa. Namun takdir sudah tak bisa diubah. Nahangging tidak boleh lagi kembali ke bumi, itulah aturan khayangan. Maka sedihlah hati Lamaru.

“Jangan sedih suamiku, aku akan selalu bersama denganmu dan anakku. Sebagai tanda aku ada bersamamu kuberikan setangkai bunga kepadamu dan tanamlah itu di dekat tempat kita pertama bertemu. Setiap kali bulan di langit purnama datanglah ke tempat itu dan lihatlah bunga yang kau tanam, di situ kau dan anak kita akan melihat aku,” kata Nahangging.

Kemudian dengan iringan Arrauan (doa-doa) diantarlah Lamaru kembali ke bumi. Sesampai di bumi, Lamaru pun menanam tangkai bunga pemberian Nahangging dekat pemandian dimana ia bertemu pertama kali dengan Nahangging.

Tak lama kemudian tangkai bunga itu bertumbuh dan menjadi sebatang pohon yang bila datang purnama, seluruh daunnya akan berubah warna menjadi putih dan mengkilap ditimpa sinaran bulan.

Pohon itu oleh Lamaru dinamakan pohon Lungkang yang artinya pohon rindu atau pohon cinta kasih. Di sanalah Lamaru dan Porodisa anaknya selalu datang melepas rindu kepada Nahangging.

Cerita ini secara khusus berpesan bahwa dalam menjalani hidup, kita harus setia memegang janji dan patuh pada aturan dan hukum. Secara umum berpesan bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi, kerukunan dan keutuhan keluarga tetap menjadi hal yang utama untuk dijaga.***

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed