oleh

Mencari Naskah Drama Natal Pendek? Ini Dia…

-Gallery, Sastra-37.576 views

TAMU SENJA

PEMAIN:
PRIMUS SENJA : Lelaki 33 tahun. Penyair eksentrik
MELATI : Anak perempuan usia 11 tahun. Penyuka sastra.
SONY : Kakak lelaki Melati 14 tahun. Pengasih.
IBU MARTA : Ibu Melati 40 tahun. Tegas dan disiplin.
OM BEGO : Pembantu rumah tangga. 27 tahun. Kocak.
SOLIS : Penyanyi

PANGGUNG:
Beranda rumah sebuah keluarga.
Di beranda itu ada satu set meja dan kursi yang teratur rapi. Ada Pohon Natal.
Di samping beranda ada taman bunga kecil dengan sebuah bangku panjang.

BAGIAN I

Sayup terdengar lagu instrumentalia Natal.
Di taman suatu sore. Hari menjelang malam. Seorang lelaki berpakaian jaket panjang kumal terbaring di bangku taman. Ia demam. Wajahnya tirus seperti kelaparan. Tak berapa lama MELATI datang memberi segelas teh hangat dan sepotong kue. Lelaki itu bangun, dan menerima pemberian MELATI, lalu seperti orang kehausan dan kelaparan, ia langsung meminum dan memakan kue itu. Setelah itu ia menatap MELATI dengan sinar mata ceria.

PRIMUS SENJA :
Namaku Primus Senja.

MELATI :
(Tersenyum)
Aku Melati, Pak. Panggil aku Melati.

PRIMUS SENJA :
(Agak misterius)
Di matamu berpendar cahaya Nabi dan Tuhan.
Kebaikanmu seperti hutan.

MELATI :
Saya tak mengerti, Pak.
Apa sih yang mau Bapak katakan?

PRIMUS SENJA :
Kau adalah kasih. Kasih adalah kau.
Maukah kita berteman?

MELATI :
Iya, Pak.
Tuhan Yesus mengajar kita untuk selalu berteman.

PRIMUS SENJA :
Di surga, Tuhan Yesus pasti tersenyum melihat kebaikan hatimu.

MELATI :
Terima kasih untuk doa bapak.
Tuhan Yesus pasti juga tersenyum untuk Bapak.
(Melihat lelaki itu demam)
Bapak kelihatan demam. Sebentar ya, saya ambil obat.

MELATI beranjak keluar. PRIMUS SENJA, lelaki esentrik, berjubah panjang kumal, tampan tapi tidak terurus itu tiba-tiba berdiri dengan gaya teatrikal, di atas bangku taman. Wajahnya penuh ekspresi. Matanya seperti sedang mengikuti perjalanan beribu-rihu burung mengarungi bentang awan di atas langit tinggi. Jari-jari tangannya bergerak-gerak kemudian bergetar, tubuhnya kemudian bergerak seperti mengikuti irama mistis dari alam, lalu ia mulai bersuara:

PRIMUS SENJA:
Langit pada langit. Padaku diriku. Aku dan kau apa mau.
Bila maut. Aku takkan berlari. Menanti aku di bumi diri.

PRIMUS SENJA mematung sejenak dengan ekspresi teateral. Masuk BOGO (sang pembantu) yang datang dengan gunting mau menata taman langsung melihat lelaki itu.

BOGO :
(Bicara ke penonton)
Wah. Ini manusia gorango ini komang. Dulu di perempatan sana.
Sekarang so nyasar ka taman ini.
Kiapa ndak jadi pokpok di pohon beringin jo.
(Waduh. Manusia hiu ini lagi. Dulu di perempatan sana.
Sekarang kok nyasar ke taman ini.
Kenapa tidak jadi kuntilanak saja di pohon beringin)

Tidak peduli dengan kehadiran BOGO, PRIMUS SENJA kembali melanjutkan puisinya dengan gerakan lebih teatrikal.

PRIMUS SENJA:
Bila burung, bila mimpi? Bilamana kamu mencari?
Seluas langit itu aku takkan berlari. sekali mati mata mengatup
Tuhan. Aku takkan bersembunyi.

PRIMUS SENJA mematung lagi sesaat, lalu memberi hormat kepada BOGO, yang jadi penonton satu-satunya di senja itu. PRIMUS SENJA kemudian turun dan duduk di bangku.

BOGO:
(ke Primus Senja)
Pak, so nyanda mentas di perempatan sana?
(Bapak, tidak mentas lagi perempatan sana?)

PRIMUS SENJA:
Panggungku bisa di mana saja.
Sekali waktu bisa di hatimu.

BOGO :
Bagaimana caranya mentas di hati saya?
Apa Bapak punya kesaktian kong bisa nyelusup ke hati saya?
(Bagaimana caranya mentas di hati saya?
Apa bapak punya kesaktian lalu bisa menyelusup ke hati saya?)

PRIMUS SENJA:
Jiwa kering. Sungai hidup yang malang

PRIMUS SENJA, beranjak pergi meninggalkan BOGO yang terpaku oleh kata-kata yang terasa misterius baginya.

BOGO :
(Seperti merenung)
Jiwa kering. Sungai hidup yang malang …
Apa depe maksud? Ah… ndak mangarti kita.
Dasar pokpok, depe kata-kata sulit mo mangarti akang.
(Jiwa kering. Sungai hidup yang malang …
Apa maksudnya? Ah… aku tidak mengerti.
Dasar kuntilanak. Kata-katanya sulit dimengerti.)

BOGO kemudian mulai bekerja menata taman itu. Tak berapa lama datang MELATI membawa segelas air putih dan obat. Mendapati PRIMUS SENJA tak lagi di taman, ia bertanya kepada BOGO.

MELATI :
Om Bogo… ke mana lelaki yang tadi di sini?

BOGO :
So ka sana. Kiapa dang?
(Sudah pergi. Kenapa?)

MELATI :
Ya … Itu sahabat saya, Om Bogo.
Dia seorang penyair.

BOGO :
Yailah, depe muka kwa kremos bagitu, jadi kita kira dia penyihir.
(Yailah, wajahnya kremus begitu, jadi saya kira dia penyihir.)

MELATI:
Jadi Om Bogo mengusirnya, ya?

BOGO :
Depe model rupa gorela bagitu ndak mo user.
(Gaya seperti gorila bagaimana saya tak mengusirnya.)

MELATI :
Ah, Om Bogo ini memang keterlaluan!
Masa menilai orang dari muka dan penampilan.

MELATI, beranjak pergi menyusul PRIMUS SENJA. BOGO tiba-tiba merasa aneh dengan tingkah MELATI.

BOGO :
Kiapa Melati boleh batamang deng Gorila utang bagitu?
(Kenapa ya Melati bersahabta dengan Gorila hutan seperti itu?)

MUSIK mengeras dan kemudian lembut kembali. IBU MARTA masuk mengantung dekorasi di beranda rumah.

BOGO :
Bu Marta, Melati ada tamang lelaki tua aneh.
Nyanda jelas depe orang. Adoh depe muka rupa gorango bintang bu.
(Bu Marta, Melati punya teman lelaki tua yang aneh.
Tidak jelas siapa dia. Waduh wajahnya kayak hiu pemangsa bu.)

IBU MARTA:
Ah masa?

BOGO :
Iyo, Ibu Marta. Butul ini!
(Iya, Ibu Marta. Betul ini!)

IBU MARTA:
Melati selalu saja bikin sensasi.

BOGO :
Bukan apa-apa no, Bu.
Cuma kita kuatir no mo jadi apa-apa
Kalau orang itu penculik anak gimana?
(Tidak apa-apa sih, Bu.
Cuma saya kuatir kalau terjadi apa-apa.
Kalau orang itu penculik anak bagaimana?)

IBU MARTA :
Wa gawat.

BOGO beranjak keluar. Tak berapa lama masuk MELATI.

IBU MARTA :
Melati, dari mana kamu?

MELATI:
Dari perempatan sana, Bu. Antar obat sama bapak yang sakit itu.

IBU MARTA :
Melati, pokoknya ibu tidak suka kau berteman dengan orang tak dikenal.
Sembarang saja kamu, tidak tahu siapa dia, kamu langsung dekat
dengan orang seperti itu.

MELATI :
Dia kan bukan penjahat, Bu.

IBU MARTA :
Emang kamu tahu dia bukan penjahat?

MELATI :
Tidak tahu.

IBU MARTA :
Tidak tahu, kok dipercaya?
Pokoknya, kamu jangan lagi berteman dengannya. Mengerti?

MELATI :
Iya, Bu.

IBU MARTA beranjak keluar.

MELATI:
Orang sebaik Pak Primus dilarang bersahabat sama, Melati.
Emangnya,orang yang harus jadi sahabat Melati kayak apa?

Tertunduk berpikir di kursi dekat meja di beranda, sambil jari-jarinya memainkan pulpen di tangannya. Tiba-tiba MELATI tersenyum seperti mendapatkan ide.

MELATI:
Kalo bersahabat dilarang, mengasihi kan tidak dilarang.
Berarti, kalo Melati kasih air minum atau makan ke Pak Primus,
itukan bukan karena persahabatan,tapi karena kasih.
Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi?

MELATI beranjak keluar. MUSIK mengeras petanda hari telah berganti.

BAGIAN II

PRIMUS SENJA tiba-tiba muncul dan duduk di taman. Tak berapa lama MELATI masuk membawa sepiring makanan dan segelas juice untuk lelaki itu. Melihat MELATI, wajah PRIMUS SENJA berubah riang.

PRIMUS SENJA :
Wah, sahabat kecil, kamu tak usah repot begini.
Bapak ke sini bukan cari makan atau minum.
Bapak cuma ingin membaca puisi di matamu.

MELATI tersenyum, lalu meletakkan piring makanan dan gelas jus di bangku dekat PRIMUS SENJA, kemudian ia duduk di bangku itu.

MELATI:
Pak Primus, sejak hari ini, kita takkan bersahabat lagi.

PRIMUS SENJA agak terkejut dengan pernyataan MELATI .

PRIMUS SENJA :
Kalau kita tak bersahabat lagi, kenapa Melati bawakan Bapak
makanan dan minuman ini?

MELATI :
Kerena kasih. Tuhan Yesus sendiri pernah bilang,
kasih lebih tinggi dari persahabatan.
Kasih berlaku untuk semua orang, entah sahabat atau bukan.
Melati akan selalu mengasihi Bapak.

MELATI berdiri dan beranjak pergi. Di mata PRIMUS SENJA terasa air matanya mulai membenih.

PRIMUS SENJA :
(Kepada dirinya sendiri)
Ia sungguh sebuah puisi. Menjelma jadi diri.
(Tiba-tiba menerawang ke suatu peristiwa lain)
Melihat anak itu, aku jadi ingat Kinanti anakku.
Kalau ia tidak meninggal, mungkin aku masih punya matahari kecil seperti itu.
Mengapa nasibku, tidak seberuntung orang lain, Allahku?

PRIMUS SENJA menyantap makanan dan minuman yang dibawa MELATI dengan perasaan haru dan sedih yang dalam. Lalu pergi.
Sementara MELATI masuk dan berjalan menuju taman dan duduk di sana.

MELATI :
Setiap senja ia ada di sini. Kasihan. Pak Primus pasti sedih.
Apa yang harus kubuat Tuhan, hingga orang kesepian seperti itu
bisa bertemu kegembiraan.

Tak berapa lama masuk SONY menemui MELATI.

SONY :
Melati!

MELATI :
Iya, Kak?

SONY :
Kenapa kamu? Ibu marah padamu, ya?

MELATI :
Iya, Kak. Kakak marah juga, ya?

SONY :
Tidak. Bagaimana kakak bisa marah kepada adik
yang suka berbuat baik kepada sesama manusia?
Cuma Kakak khawatir, Melati kan tidak kenal betul orang itu?

MELATI :
Menurut Melati, Pak Primus itu orang baik, Kak.
Hanya penampilannya saja yang aneh.
Dia cerita ke Melati, katanya anaknya mirip sama Melati.

SONY :
Oh begitu.
(Prihatin melihat adiknya tampak sakit)
Kamu tampak sakit, Melati. Mukamu agak pucat.

MELATI :
Iya, Kak, kepala saya terasa pusing.

SONY :
Kalau begitu kamu masuk dan istirahat.

MELATI beranjak keluar tertatih diantar SONY. Musik mengeras lalu lembut petanda waktu berganti. IBU MARTA masuk ke beranda wajahnya tampak sedih.

IBU MARTA:
Mengapa Melati bisa sakit ya.
Apakah ia depresi karena merasa tertekan.

Tak berapa lama BOGO masuk lalu membaca judul sebuah berita di koran yang dibawanya untuk diperdengarkan ke IBU MARTA.

BOGO :
(Membaca judul berita)
Marak Aksi Penculikan Anak. Masyarakat Diminta Waspada.

BOGO langsung menyerahkan Koran itu ke IBU MARTA.

BOGO :
Coba Ibu Marta baca berita ini.

IBU MARTA sesaat membaca berita di Koran. Seperti ada perasaan ngeri terekspresi di wajahnya.

IBU MARTA:
Saya harus waspada. Jangan-jangan, lelaki kumal sahabat Melati itu,
bagian dari sindikat penculik anak. Saya tak boleh lengah.

IBU MARTA, meletakkan Koran di meja dan duduk di sebuah kursi. Sementara BOGO beranjak keluar. Masuk SONY membaca koran di atas meja dan duduk di kursi dekat meja bersama ibunya. Tak berapa lama muncul PRIMUS SENJA.

PRIMUS SENJA :
Selamat sore, Bu. Maaf mengganggu.

IBU MARTA, mengangkat muka dan agak terkejut melihat penampilan PRIMUS SENJA yang nyentrik dan kumal.

IBU MARTA:
Ini kayaknya Primus Senja ya?

PRIMUS SENJA :
Betul, saya Primus Senja bu. Saya sahabat Melati.

IBU MARTA:
Iya saya tahu. Lantas ada perlu apa?

PRIMUS SENJA :
Apa saya bisa ketemu Melati?

IBU MARTA:
Memangnya, mau ketemu anak saya ada perlu apa?

PRIMUS SENJA :
(Mengeluarkan selembar kertas berisi puisi)
Saya hanya bermaksud, memberikan puisi ini kepadanya.

IBU MARTA:
Saya kira, anak saya masih terlalu kecil untuk memahami sebuah puisi.
Maaf, saya tak mengizinkan Anda bertemua anak saya lagi.

PRIMUS SENJA :
Sebentar saja, Bu.

IBU MARTA:
(keras)
Tidak!

PRIMUS SENJA :
(Kecewa)
Terima kasih, Bu.

IBU MARTA beranjak keluar. PRIMUS SENJA beranjak pergi dengan segumpal perasaan perih di hati. Melihat keadaan itu, SONY menyusul, dan mereka bercakap di taman.

SONY :
Saya mohon maaf. Ibu saya memang keras.
Ia begitu untuk melindungi anak-anaknya.
Semoga Pak Primus mengerti.

PRIMUS SENJA :
Meski Bapak kecewa tidak bertemu Melati, tapi Bapak senang,
Melati ternyata berada di tangan yang tepat.
Seorang Ibu yang dengan sungguh-sungguh menjaga anaknya.

SONY :
Melati berkata kepada saya, anak bapak mirip dia ya?

PRIMUS SENJA :
Bahkan sifat-sifatnya mirip. Melati dan Kinanti, anakku,
seperti sepasang anak kembar. Saya seakan mendapati Kinanti
hidup dalam diri Melati. Sayang Kinanti meninggal
tertabrak mobil bersama ibunya (SEDIH). Setelah bertemu Melati, rasanya,
sudah saatnya Bapak kembali ke kampung. Bapak pergi dulu.

PRIMUS SENJA, beranjak pergi. SONY ikut beranjak keluar.
MUSIK mengeras, dan kemudian mengecil lagi petanda waktu berganti.

BAGIAN KE III.
Sayup terdengar lagu Natal.
IBU MARTA masuk dan duduk di kursi beranda. Pikirannya tampak berat memikirkan Melati yang jatuh sakit.

IBU MARTA :
Besok Natal segera tiba. Tapi Melati sakit begini, hatiku jadi sedih.
Barangkali, kalau saya mempertemukan lagi Melati dengan penyair itu,
semangatnya akan pulih kembali. Tapi di mana ya bisa ketemu orang itu?

Tiba-tiba SONY masuk. IBU MARTA meminta Sony mendiskusikan solusi untuk memulihkan semangat MELATI.

IBU MARTA :
Kita harus mempertemukan Melati dengan penyair itu.

SONY :
Tapi apa penyair itu mau? Ibu kan pernah bicara keras padanya.

IBU MARTA :
Barangkali kalau Ibu minta maaf, ia bisa mempertimbangkan
mau atau tidak. Yang jadi persoalan, di mana menemui dia?

SONY :
Apakah Ibu sungguh-sungguh ingin mencari Pak Primus Senja?

IBU MARTA :
Ya, demi anak Ibu, Ibu siap melakukan apa pun.

SONY :
Sony tahu di mana Pak Primus tinggal.

IBU MARTA :
Kau tahu dari mana?

SONY :
Aku kan kakaknya Melati.
Nah, sebagai kakak aku punya naluri melindungi adik.
Jadi pas tahu Melati berteman dengan penyair itu, Sony langsung menyelidiki
siapa orang itu. Di sini dia tinggal dengan familinya.
Bahkan Sony pernah datang ke rumah familinya,
bertanya soal Pak Primus. Mereka bilang ia orang baik-baik.
Memang dia seorang penyair. Di kota ini,
ia datang melipur duka hati karena kehilangan istri dan anaknya di kampung.

IBU MARTA :
Wah, ternyata kamu sudah selidiki dia ya?

SONY :
Ya. Itu salah satu cara melindungi adikku.

IBU MARTA :
Coba kamu periksa, apakan dia masih di sana?
Kalau masih, Sony dan ibu akan ke sana.

SONY :
Baik, Buu. Siap kerjakan.

Mereka semua beranjak keluar. MUSIK mengeras kemudian melembut.

BAGIAN IV

IBU MARTA tampak menuntun MELATI di kursi roda ke beranda. Suasana sedih dan haru.

IBU MARTA :
Melati harus cepat sembuh.
Di hari Natal ini, ibu minta maaf bila telah membuat hati Melati sedih.
Tapi Melati harus tahu ibu sangat sayang sama Melati.

MELATI :
Melati juga sayang sama Ibu dan Kak Sony.

IBU MARTA :
Ibu punya kado Natal buatmu
Apakah Melati suka kado dari Ibu?

MELATI :
Hari Natal itu selalu ada di hati Melati, Bu.
Cuma Melati sedih, banyak orang yang tidak bahagia
di tengah suasana natal seperti ini, seperti Pak Primus itu.
Anaknya adalah matahari baginya.
Melati tak bisa membayangkan seseorang hidup tanpa matahari.
Tapi Melati … Sayang ibu kepada Melati merupakan matahari
dan kado terindah ibu dalam hidup Melati.
Tuhan Yesus pasti tersenyum buat ibu.

Di tengah suasana haru, masuk Solis menyanyikan lagu Natal. Sementara SONY membawa lilin Natal untuk MELATI dan OM BEGO. Di atas bangku taman berdiri PRIMUS SENJA membacakan puisi untuk MELATI. IBU MARTA dan MELATI terharu. Juga OM BEGO. Saat selesai dibacakan MELATI berlari memeluk PRIMUS SENJA yang telah membukakan tangannya untuk mendekap MELATI. Sungguh keharuan itu pecah di sana.

LAMPIRAN PUISI PRIMUS SENJA :

PUISI UNTUK MELATI

Dari Kinanti ke Melati
Surga membawaku ke sini
Tubuh garam dulu kering dalam fajar dan malam
Mencair
Mengisi sabanah dan kaldera yang lama tirus
dan runcing oleh air mata
hingga senja benar-benar tiba di langitku
mata itu
mata melati kinantiku
memendar sayap-sayap cahaya yang halus
membawa jalan baru yang lurus
begitu aku menyusur hatinya
pada perjalanan tamu senja yang selalu berakhir di tepi duka
di tepi luka
aku melolong
saat tangisan itu memaksa
seakan aku gila karena siasatku sendiri
menepis kehilangan
tapi pada matanya
mata anak-anak yang selalu luhur membersitkan sayang
aku menemukan telaga
dan desir angin yang tak pernah pucat
atau pasi oleh sepi
kecuali cericit burung-burung mematikan ngilu
setiap kali tumbuh di subuh doaku
Kini di sini
Seakan aku punya bekal kembali
Saat tiba waktuku pergi mengakhiri tabungan usia
Tanpa lagi berhitung dengan perih
Terima kasih Melati
Kau telah memberiku beberapa catatan senja
Tentang kasih yang takkan retak oleh cuaca.
Selamat Natal Melati.

TAMAT.
Jika dipentaskan harus seizin pengarang. Iverdixon Tinungki (085343976992).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed