oleh

Putri Ramensa, Cerita Rakyat dari Damau dan Rainis, Talaud

Damau, sebuah nama desa, di pulau Kabaruan, Talaud. Dahulu kala, desa ini berada di Bawo Parangen yang terletak diantara Toaduwale dan Peret. Kendati desa ini sangat terpencil, tapi kehidupan penduduknya makmur. Tanahnya subur, dan penduduk rajin berkebun. Ada sungai kecil mengalir di sana. Di belakang perkampungan penduduk, ada hutan tempat mereka berburu.

Orang-orang Damau memang pandai berburu. Pesisir pantai mereka begitu indah, di sana membentang lautan luas. Nelayan-nelayan yang rajin selalu mendapatkan hasil tangkapan ikan yang cukup.

Konon ketika itu, desa Damau dipimpin oleh seorang Datum Banua (Kepala Kampung) yang bijaksana dan berbudi luhur yang bernama Ratu Aait. Datum Banua dan Woi Patola istrinya punya tiga orang anak. Dua anak tertua laki-laki yaitu Laman dan Ramang, sedangkan anak bungsu perempuan bernama Ramensa. Tapi orang kampung memangilnya Woi Ramensa (Putri Ramensa).

Sejak kecil Ramensa sangat disayangi ayah dan ibunya. Ia dididik berbagai pengetahuan seperti menenun kain Koffo (kain dari serat pohon pisang abaka atau manila telep), dan menganyam tikar pandan. Ia juga diajari cara bercocok tanam. Semua pengajaran ini dijalaninya dengan tekun.

Kedua kakaknya Laman dan Ramang, juga sangat menyayangi Ramensa. Ia tak perlu jauh-jauh pergi mencari pohon pisang abakka untuk dibuatkan benang tenunan untuk kain koffo miliknya. Kedua kakaknya selalu menolong mencarikannya. Juga daun-daun pandan yang diperlukan untuk menganyam tikar disiapkan kedua kakaknya.

Tapi Ramensa bukanlah putri yang manja. Ia ikut bekerja keras membantu keluarga. Ia juga suka menolong para tetangga bila ada kesulitan atau pekerjaan lain yang butuh pertolongan. Sikap dan kebaikan hatinya membuat orang-orang sekampung menyayangi Ramensa.

Kendati berparas cantik dan tubuhnya tinggi semampai, Ramensa tidak sombong. Ia bergaul secara baik dengan sahabat-sahabatnya sedesa. Orang-orang tua di desa selalu mengingatkan anak gadisnya, agar belajar pada perilaku Ramensa yang baik itu.

Ia juga pandai menari, dan suka belajar syair dan pantun dari para guru di desanya. Meski tinggal di desa, Ramensa tak mau jadi gadis yang bodoh. Itu sebabnya, ia belajar tradisi dan budaya leluhurnya. Saat tumbuh menjadi gadis dewasa, Ramensa dikenal cerdas tapi sikapnya amat santun. Tuturannya halus dan sopan setiap berbicara dengan orang lain, apalagi kalau dengan orang-orang yang lebih tua. Ia sangat menghormati orang-orang tua di desanya.

Bagi yang lebih muda, Ramensa seakan teladan untuk mereka. Datum Banua Ratu Aait dan Woi Patola istrinya sangat gembira melihat anaknya itu tumbuh menjadi gadis yang baik dan menjadi teladan untuk desa.

***
Suatu siang, di pantai Damau berlabuh sebuah perahu Kora-kora (Bininta). Perahu Kora-kora adalah perahu layar besar yang bentuk buritan dan haluannya sama bermoncong tajam. Konon ini jenis perahu para pelaut Timur Nusantara. Orang-orang Talaud juga pandai membuat perahu seperti ini. Budaya laut orang-orang Talaud juga sangat dikenal. Sejak leluhur tua mereka, orang-orang Talaud sudah berlayar mengarungi samudera luas, menuju tempat-tempat yang jauh. Banyak negeri telah didatangi, membuat pelaut kepulauan Talaud disegani.

Kali ini kabarnya, perahu itu datang dari negeri Rainis, pulau Karakelang. Perahu besar yang dikemudikan seorang pemuda bernama Ratu Yambu. Siapa sesungguhnya Ratu Yambu?

Orang-orang Damau pada umumnya samar-samar pernah mendengar namanya. Tapi para tetua adat sangat mengenalnya. Ratu Yambu, seorang pemuda tampan dan pemberani lautan. Ia anak seorang Datum Banua dari Negeri Rainis bernama Ratu Wumbung.

Ratu Yambu sangat pandai mengemudikan perahu kora-kora. Ia juga menguasai tradisi membaca arah arus dan garis rasi bintang di langit. Ia juga tahu enam belas mata angin yang silih berganti berhembus di laut. Pelaut yang cerdas dan cerdik haruslah mengusai semua ilmu laut ini. Sebab, di malam hari hanya bintang yang jadi pedoman untuk menentukan arah kemudi. Di siang hari, matahari memberi garis peta dan bujur yang pasti. Ini sebabnya, perahu kora-kora yang dikemudikan Ratu Yambu tak pernah tersesat mencapai tempat labuh yang ingin dituju.

Ratu Yambu juga tak takut menantang badai dan gelombang. Meski masih berusia muda, ia pantang surut digertak kesulitan cuaca dan alam. Ia sudah dikenal sebagai pelaut ulung yang berani berperang dengan para bajak laut dari pulau Lanun, Mindanaou, Filipina Selatan.

Tapi apa maksud kedatangan Ratu Yambu ke Damau? Adakah sengketa antara negeri Damau dan negeri Soa Wanti Rainis, hingga Ratu Wumbung Datum Banua Selatan mengirim anaknya sebagai utusan ke Datum Mbanua Utara?
Ternyata ceritanya lain. Kisah kecantikan Putri Ramensa-lah yang membawa Ratu Yambu hingga harus berlabuh di negeri Damau. Cerita kecantikan itu telah sampai ke telinganya. Ratu Yambu ingin bertemu Ramensa.

–Tapi pembaca perlu diingatkan bahwa sebutan “Ratu” di depan nama seorang laki-laki di kepulauan ini bermakna “Datu” atau “Putra Mahkota”. Di semua tempat di kepulauan jazirah Utara Sulawesi, sebutan Ratu bermakna Raja–.

***
Ketika Ratu Yambu menjejakkan kaki pertama kali di pasir pantai Damau, pada saat yang sama Ramensa dan para gadis sahabatnya, lagi mengayam tikar pandan di sebuah dasan (gubuk tempat berteduh) di pantai itu.

“Tuan Ratu Yambu, Putri Ramensa ternyata ada di dasan sana,” kata seorang pengawalnya, sambil menunjuk sebuah dasan di tepi pantai.

Tanpa membuang waktu, Ratu Yambu menoleh ke arah dasan. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang. Seperti ada angin tipis yang lembut berdesir menyaput perasaannya.

“O… betapa cantiknya dia,” guman Ratu Yambu mengagumi.

“Ya, gadis yang tercantik itulah Ramensa tuan,” ujar pengawalnya setengah berbisik. Dan, Ratu Yambu terpaku ditempatnya. Sinar cerah di wajah Ramensa seakan menyihirnya.

Gelombang dan badai tak menakutinya, tapi kecantikan Ramensa menaklukinya, dan ia taklik tak berdaya.

“Ternyata, cerita kecantikannya bukan isapan jempol semata,” gumamnya.

Ramensa dan teman-temannya juga melihat Ratu Yambu, yang sedang menatap ke arah mereka. Wajah Ramensa merona. Canda teman-temannya juga membuat ia merasa jengah.

“Pemuda itu tak henti menatapmu Ramensa,” ujar salah seorang temannya.

“Ia tampan. Sangat cocok denganmu Ramensa,” goda temannya yang lain.

Ramensa hanya tersenyum. Goda teman-temanya itu membuatnya rikuh. Pada saat seperti itu, meski terasa semuanya lucu, tetap saja ada rasa ngilu di bilik hatinya yang tiba-tiba dibalut senduh.

***
Kedatangan Ratu Yambu, disambut para tetua adat negeri Damau. Tak berapa lama, bunyi parade tambur penyambutan mendetam. Langit Damau nampak semarak. Tambur tradisi itu memang tak selalu di arak, hingga sekali berderak, gemuruhnya memesona semua sanak.

Mereka melintas sepanjang jalan desa Damau. Kemeriahan tradisi itu mengiringi rombongan Ratu Yambu dan para Tetua adat. Penduduk juga menyambut dan memberi lambaian tangan rasa bersahabat. Mereka berjalan menuju rumah Datum Banua Damau dan para kerabat.

Sasampainya, kedua belah pihak saling berbalas Kakumbaeda (tradisi tua berbalas syair dalam upacara penyambutan). Kemudian, Ratu Yambu di sambut Ratu Aait selaku Datum Banua Damau untuk masuk ke rumahnya bersama para tetua adat.

Sebagai pembuka, beraneka sajian makanan disuguhkan kepada tamu mereka. Percakapan ringan antara kedua pihak berlangsung penuh persaudaraan. Percakapan baru berhenti setelah Datum Banua Damau mengangkat tangan sebagai isyarat, percakapan sesungguhnya akan dimulai dengan patut dan hangat.

“Apa gerangan maksud kedatanganmu anakku Ratu Yambu,” tanya Ratu Aait, dengan suara kewibawaannya yang luhur.

“Selain ingin berpesiar ke desa ini, sudilah hamba diperkenalkan dengan Putri Ramensa Datum,” kata Ratu Yambu dengan terus terang dan santun. Begitulah tradisi tutur orang laut, selalu terbuka tanpa menutup maksud.

“Apakah kamu sudah pernah bertemu dengan anakku putri Ramensa?”

“Belum pernah Datum! Baru tadi sekadar melihat ia di pantai sana! Tapi, hamba sudah mendengar banyak cerita tentang kebaikan hati putrimu Datum.”

“O, begitu?”

“Iya Datum!”

“Maksud baik, akan disambut dengan baik. Carilah waktu yang baik agar kamu bisa berkenalan dengan Ramensa,” ujar Ratu Aait.

Seusai percakapan, pertemuan Ratu Yambu dan Datum Banua Damau, akhirnya membahas berbagai masalah tentang keamanan di kepulauan mereka. Sebab, aksi para perompak dan bajak laut dari pulau Lanun, Mindanao, kian hari kian marak. Hari itu mereka menemukan kesepakatan cara kerjasama melawan bajak laut dan perompak.

Malam harinya, Ratu Yambu sempat bertemu dan berkenalan dengan Putri Ramensa. Singkatnya kedua anak muda ini merasa ada kecocokan hati. Benih cinta mulai bersemi dan merekah.
***
Di hari yang ditetapkan. Ratu Yambu kembali dengan Kola-kola ke Damau. Kali ini, Ia telah memboyang ayah dan ibunya, bersama kerabat serta keluarga. Kedatangannya untuk mempersunting Putri Ramensa.

Pendek kata, pernikahan adat berlangsung dengan meriah. Sepanjang malam digelar hiburan seni budaya kedua negeri serumpun dan bertetangga. Semua undangan bernyanyi dan menari dengan riang. Juga sahabat-sahabat putri Ramensa.

“Apakah kau gembira adindaku?” tanya Ratu Yambu.

“Iya kanda. Aku senang dipersunting pemuda baik sepertimu,” jawab Ramensa. “Tapi ada yang membuat hatiku agak sedih kanda,” sambung Ramensa.

“Apa gerangan itu Adinda?”

“Sebagai istri, sudah pasti aku harus ikut denganmu ke negeri Rainis. Nah, tidak enak betul rasanya meninggalkan tanah kelahiranku Damau kanda,” terangkan Ramensa.

Di luar sana, langit tampak senduh terasa. Embun malam mulai merambah penampang-penampang daunan. Angin melemah, dan dingin bersijingkat meruap dari celah pohonan. Alam seakan tahu apa yang membalun di benak Putri Ramensa. Damau seakan tanah yang enggan melepas Ramensa menjauh darinya.

“Kau tak akan kehilangan Damau, adinda. Bawalah selalu Damau dalam hatimu,” bujuk Ratu Yambu. Mata Ramensa mencerah. Perkataan suaminya membuatnya terhibur. Ada air mata melintas di pipinya. Ratu Yambu melihat itu semua, sebagai tanda cinta yang kian memesona.
***
Setelah beberapa hari di Damau, akhirnya tiba saatnya Ratu Yambu memboyong istrinya Putri Ramensa ke Rainis. Sebelum berangkat, Putri Ramensa mohon diri bercakap dengan Ayah dan ibunya.

“Kau akan pergi meninggalkan ayah dan ibu. Kau baik-baiklah di sana. Ayah dan ibu akan selalu menyayangimu anakku,” kata Ratu Aait.

“Iya ayah,” jawab Ramensa dengan perasaan agak sedih dan haru.

“Jangan sedih jauh dari ibu. Kau akan selalu di hati ibu. Ayah dan ibu akan selalu mendoakanmu,” bisik ibunya, sambil merangkul Ramensa dengan perasaan sayang.

“Sudah ayah putuskan, kau tak dapat warisan harta benda dari ayah dan ibu. Biarlah warisan itu untuk kedua kakakmu saja. Biarlah mereka mewakilimu menjaga negeri Damau. Tapi warisan paling indah yang ayah dan ibu punya akan kami berikan untukmu yaitu kasih sayang dari kami untukmu. Ingatlah itu. Karena, kasih sayang adalah warisan terbesar dari kami untukmu,” kata Ratu Aait.

Air mata Ramensa menetes. Betapa haru ia mendengar ucapan ayahnya.

“Sebelum pergi, ambillah segenggam tanah Damau ini. Bawahlah itu untukmu sebagai tanda kasih sayang kami,” tambah Datum Banua.

“Iya ayah,” jawab Ramensa. Ia kemudian memeluk ayahnya sebagai tanda berbalas sayang.

Akhirnya, Putri Ramensa mengambil segenggam tanah Damau, dan menaruhnya di dalam sepasang tempurung kelapa, lalu dibungkus dengan kain, dan dibawanya pergi ke negeri Rainis bersama suaminya.

Di negeri suaminya, di tanah peninggalan leluhur Ratu Yambu, segenggam tanah yang dibawanya dari Damau, ditaburkannya ke atas tanah milik suaminya. Apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Debu tanah yang berhamburan itu tumbuh menjadi hamparan tanaman buah nenas yang subur.

Sejak itulah, tempat di mana Ratu Yambu dan Putri Ramensa tinggal dinamai negeri Perangen artinya negeri nenas. Dan sebuah bukit di ujung kampung yang berbatasan dengan desa Bantane juga dinamakan “Bowong Perangen” artinya Bukit Nenas. Hingga kini Rainis masih dikenal sebagai kawasan penghasil nenas.

Cerita ini secara khusus berpesan di mana cinta kasih orang tua kepada anaknya tak pernah lekang oleh waktu. Secara umum berpesan bahwa kebaikan hati akan menjadi jalan bagi siapa saja untuk bertemu hal terbaik bagi hidupnya.

(Dikisahkan kembali oleh: Iverdixon Tinungki, Denny Dalihade, dkk.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed