oleh

Manunggaling Kamajaya Gusti, Sajak-sajak Sufistik Kamajaya Al Katuuk, Sebuah Ulasan Filsafati

Oleh: Sovian Lawendatu

Sastra sufistik adalah genre tersendiri dalam khazanah sastra dunia. Sejarahnya berjejak pada karya-karya al-Hussain Ibnu Mansur al-Hallaj di jazirah Arab, sang sufi yang terkenal dengan kredonya “Ana’ al-Haqq” sekaligus mati syahid secara tersalib demi kredonya itu. Jejak sejarah genre sastra ini juga dapat ditelusuri pada karya-karya Umar Khayyam di Persia (Iran), dan Jallaluddin Rumi di Konga, Turki.

Dalam sastra Indonesia, genre sastra sufistik dirintis oleh penyair Hamzah Fansuri pada zaman ‘Melayu Klasik’. Pada era mutakhir, genre ini mengalami semacam revitalisasi dengan kehadiran sajak-sajak Abdul Hadi W.M dan cerpen-cerpen Danarto. Namun, di samping itu, genre sastra sufistik sebenarnya hidup juga dalam khazanah Sastra Jawa, dengan fenomena ‘Sastra Suluk’, sebagaimana yang diteliti oleh Romo P.J. Zoetmulder, S.J1.

Dalam ‘Sastra Sulut’ (Made Sudiana menyebutnya ‘Sastra Manado’) fenomena sastra sufistik terwujud pada sajak-sajak Kamajaya Al. Katuuk, welakinpun jumlahnya masih sangat sedikit. Pada masa mendatang, dalam perbendaharaan ‘Sastra Sulut’, genre sastra ini secara kuantitas dapat dikembangkan oleh penyair Kamajaya sendiri ataupun penyair lain yang mempunyai kesamaan dunia-kehidupan (lebenswelt)2.

Ulasan ini hendak mengulas sajak-sajak sufistik penyair Kamajaya, yang berjudul “Teratai” dan “Kupu-kupu Terbang Sampai”. Ulasan ini merupakan pengembangan kedua ulasan saya yang terdahulu, yang dipublikasikan di harian Cahaya Siang pada tahun 1993 dengan judul “Mempercakapkan Sajak-sajak Kamajaya Al. Katuuk”, dan harian Manado Post pada tahun 1998 dengan judul “Penyajak Kita dan Budaya Moyangnya”.

Sajak “Teratai”

Sajak yang termuat dalam buku antologi “Riak Utara” (1987) ini bercorak sufistik, karena di dalamnya terlukis fenomena gagasan sufisme tentang keesaan hakikat antara ‘ada yang terbatas’ dan ‘Ada yang tak terbatas’, yang dalam jargon khas Mistisisme Jawa (baca: Jawa Kejawen) disebut ‘Manunggaling KawuloGusti’, kesatuan hakikat antara kawulo (manusia atau hamba) dan Gusti (Tuhan).

Jelas, sang aku lirik atau ‘ada yang tak terbatas’ dalam sajak ini diidentikkan dengan sosok penyair, sehingga dalam konteks ulasan ini jargon Manunggaling KawuloGusti dikongkretkan seperti yang tercetak pada judul di atas: ‘Manunggaling KamajayaGusti’ (tanpa garis penghubung sebagai tanda keesaan Kamajaya dan Sang Gusti).

Dalam konteks itu, dapat dinyatakan, bahwa penyair Kamajaya tidak tampil sebagai seorang ‘Katuuk’ (baca: tou Minahasa). Ia justru tampil sebagai sungguh-sungguh seorang ‘Kamajaya’ (baca: wong atau lebih khas lagi kawulo Jawa Kejawen), berhubung dengan keintensifan penghayatannya akan pandangan dunia atau dunia-kehidupan (lebenswelt) Jawa Kejawen tersebut. Jelas, pengaruh faktor budaya ibu dari Kamajaya mendominasi kehidupan sang penyair.

Sufisme, sebagai sebentuk Monisme Religius atau Pantheisme, memang berkonsekuensi logis bahwa konsep Manunggaling KawuloGusti mengandaikan semacam keadaan atau kondisi ketiadaan (nothingness) yang bersifat mutlak lagi kekal bagi setiap dan segala yang ada.

Pasalnya, di dalam kemanunggalan itu tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘Kau’, sebagai realitas jamak, tetapi ‘akuKau’ atau ‘kauAku’, bahkan ‘AkuKau’ dan ‘KauAku’. Sementara itu, proses sufisitas, yang di dunia budaya Jawa Kejawen berarti praktik mistik tasauf, merupakan jalan manusia (kawulo) menuju kesatuannya dengan Sang Ada yang kekal (Gusti), sesuai dengan falsafah ‘sangkan paraning dumadi’. Maka dapat dimengerti, apabila dalam sajak ini sang sufi Kamajaya berkredo:

malam tak terasa
siang tak teraba
kita berdua bergandengan
sejauh dan sepanjang lama

Teratai, sebagaimana diketahui, adalah bunga suci dalam agama Budha. Sementara agama Budha atau Buddhisme dan Sufisme berasal dari dunia pemikiran yang berbeda. Buddhisme berasal dari dunia pemikiran Cina (Tiongkok), Indocina, Jepang dan India3; sedangkan Sufisme, yang melandasi Mistisisme Jawa, berasal dari dunia pemikiran Arab (misalnya al-Hussain Ibnu Mansur al-Hallaj dan Ibnu al-Arabi Maka, sekilas saja, imaji “teratai” tidak sinkron dengan gagasan sufisme dalam sajak ini.

Namun, harap diingat, bahwa Buddhisme dan Sufisme itu merupakan varian-varian dari pandangan dunia atau filsafat yang sama, yakni Monisme atau / dan Pantheisme. Lagipula, seperti halnya Sufisme, Buddhisme juga mengisi Mistisisme Jawa yang menjadi dunia-kehidupan (lebenswelt) penyair Kamajaya4. Jadi, baik secara filosofis maupun secara historisosiokultural, imaji “teratai” sinkron dengan gagasan sufisme dalam sajak ini.

Sajak “Kupu-kupu Terbang Sampai”
Sajak “Kupu-kupu Terbang Sampai” (KkTS) terdapat dalam kopian naskah buku antologi sajak Kamajaya yang berjudul “Ziarah Langit”, yang saya peroleh dari Hendra Zoenardjy dan Alfeyn Gilingan pada kira-kira tahun 1998. Sebelum melanjutkan ulasan ini, pengulas menyilakan pembaca untuk membaca sajak tersebut yang dinukil berikut ini.

Kupu-kupu menyeberangi sungai
demi bunga yang
dimekarkan matahari yang
tadi subuh bersamaku
menyiangi ladang harapan
dari ilalang duniawi
Belibis turun melintasi ladang dan tegalan
demi menyambut hujan yang
ditebarkan langit yang
pagi tadi menyirep
teratai hingga berbenah istirah
agar aku bebas menghadap matahari
mendaraskan jampi
menjinakkan jin supermarket
menyinarkan pelet gadis-gadis zombi
yang gentayang telanjang di gang nafasku!
Aku turunkan antena
asesoris hidupku:
mengembalikan dunia jadi bumi
saya pada aku
pada sendiri
muara pada hulu
pada asal
akal pada nurani
“We live in succession,
in division, in parts, in particles,
Meantime within man is the soul of the whole
the wise silence, the universal beauty
to which every part and particle is equally related,
the eternal ONE” (Emerson, The Over-Soul)
Indra,
tunggallah!
Merentas jalan sampai
(beru) Jung padaku!
(tu)Run padaNya!
(sam) Pai pada Kita!
Ana’ al-Haqq!
Laa illaha illallah.
Tak ada apa-apa
Tak ada siapa-siapa
Bunyi tak
Lamun tak
Lihat tak
Rasa tak
Ana’ al-Haqq!
Ku
pu
Ku
pu
Ana’ al-Haqq!

Jika dalam sajak “Teratai”, kesufi(stik)an Kamajaya masih tersamar, maka dalam sajak KkTS, hal itu dipergamblangnya. Ini memang sejalan dengan metode penggarapan kedua sajak tersebut. Pada dasarnya, sajak “Teratai” merupakan puisi prismatis, sedangkan KkTS cenderung sebagai puisi transparan.

Sajak KkTS bercorak sufistik, karena sajak ini mengusung gagasan dasar yang sama dengan sajak “Teratai”, yakni Manunggaling KawuloGusti, yang dikongkretkan sebagai Manunggaling KamajayaGusti. Ini berarti, seperti halnya sajak “Teratai”, sajak KkTS pada penulisannya dipengaruhi oleh budaya Mistisisme Jawa – perhatikan, imaji ‘teratai’ yang sebelumnya digunakan dalam sajak “Teratai” digunakan lagi dalam sajak KkTS; suatu pengulangan kreatif yang tentu saja tidak kebetulan.

Dari Zoetmulder5, diketahui bahwa Mistisisme Jawa tidak hanya berisikan Sufisme, tetapi juga pandangan dunia Magi. Pandangan dunia yang disebut terakhir juga memengaruhi penulisan sajak KkTS. Pengaruh itu nyata melalui kehadiran suasana gaib yang dibentuk dengan cara menonjolkan bunyi “Jung”, “Run” dan “Pai” pada kata “berujung”, “turun”, dan “sampai”.

Suasana gaib (magis) dalam sajak ini juga dibentuk melalui penggunaan kalimat perintah “Indra, tunggallah!”, sebab praktik magi, yang tampak pada penggunaan mantra-mantra, ditandai antara lain dengan aksi memerintahkan atau memaksakan zat adikodrati untuk mengikuti kehendak pemantra. Malahan perimaan “yang” pada akhir larik 2 dan 3 serta larik 8 dan 9 mengesankan suasana gaib (magis).

Demikianlah kita melihat bahwa sajak ini melukiskan upaya penyair Kamajaya selaku sufi untuk mencapai puncak atau kedalamanan hakikat eksistensi yang bernama Manunggaling KawuloGusti dengan dukungan daya gaib adikorati. Sajak ini bisa juga dikategorikan sebagai mantra atau jampi yang khas buatan Kamajaya dalam upayanya mencapai puncak perjalanan sufistiknya tersebut.

Berhubung dengan penemaan sajak KkTS, penyair dengan sadar mencomot kredo al-Hallaj “Ana’ al-Haqq” dan esai Ralp Waldo Emerson “We live in succession, in division, in parts, in particles, meantime within man is the soul of the whole the wise silence, the universal beauty to which every part and particle is equally related, the eternal ONE”. Pencomotan itu pastilah berdasar.

Pencomotan kredo al-Hallaj “Ana’ al-Haqq”, yang berarti ‘Akulah Realitas Tertinggi’, didasarkan pada fakta historiskultural, bahwa Monisme ‘dan’ Pantheisme dalam Mistisisme Jawa pada kutub tertentu merupakan transformasi atau adaptasi dari Sufisme model al-Hallaj (dan al-Arabi)6.

Sementara itu, pencomotan bagian esai Emerson dalam konteks penulisan sajak KkTS merupakan juga hal yang berdasar secara historis kultural, sebab pandangan dunia Monisme yang dihirup oleh Emerson dalam esainya itu memiliki akar yang sama dengan Sufisme ala al-Hallaj, yang nota bene mengisi Mistisisme Jawa. Akar yang sama itu adalah Neoplatonisme (Filsafat Idealisme Plotinus) di dunia kebudayaan Yunani Kuno.7***

Catatan:
1 Lihat buku P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawulo-Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, Jakarta, Gramedia, 1990.
2 Istilah Lebenswelt, sebagai realitas sosiokultural, diadopsi dari Filsafat Fenomenologi Edmund Husserl. Menurut Husserl, lebenswelt adalah dunia pengalaman yang dihayati, konteks general yang di dalamnya setiap pengalaman dan persepsi yang khusus terjadi dan yang lewatnya pengalaman dan persepsi itu mendapatkan maknanya. Premis penting dari filsafat lebenswelt adalah keberstrukturan pengalaman, kesatuan dunia kehidupan.
3 Lihat Mudji Sutrisno (editor), Buddhisme, Pengaruhnya dalam Abad Modern, Yogyakarta, Kanisius, 1993.
4 Lihat Harun Hadiwijono, Kebatinan Jawa, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1984.
5 Idem ditto.
6 Lihat Zoetmulder, Idem ditto.
7 Lihat Zoetmulder, Idem ditto.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed