oleh

Loji Tondano dan Jejak Freemason di Sulawesi Utara

Belum banyak data yang dapat dipakai untuk menguak jejak Freemason di Sulawesi Utara. Kendati begitu, beberapa situs berita mengungkap di tahun 1898 ada sekolah Mason berdiri di Manado. Lantas bagaimana hubungan Loji Tondano dengan kelompok Tarekat Kemasonan itu?

Ada 3 tokoh penjajah dalam Sejarah Indonesia yang disebut sebagai member Freemason yaitu, Herman Willem Daendels, dilantik di Loge Kampen “Le Profond Silence”, Thomas Stamford Raffles, pada tanggal 26 Juni 1813 diterima di dalam Tarekat oleh Engelhard, dan Johannes Van Den Bosch, dilantik di Loge De Vriendschap pada tahun 1830.

Keberadaan tiga tokoh kunci dalam sejarah penjajahan ini membuat Indonesia disebut-sebut sebagai kawasan pertumbuhan Tarekat Kemasonan.

Pusat Kota Manado tempo dulu. (FOTO: ISTIMEWA)

Theo Stevens -sejarawan yang menaruh perhatian besar terhadap perkembangan Freemasonry di Indonesia- kutip CNN mengatakan, Tarekat Mason Bebas masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya para serdadu Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC).

Dalam bukunya setebal 600 halaman lebih yang bertajuk “Tarekat Mason Bebas Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962”, Stevens menulis sebelum 1756, anggota Freemason dari Belanda sudah banyak yang menetap di Indonesia Hindia Belanda.

Organisasi yang dicap penuh rahasia ini berkembang hingga menyentuh para pribumi. Pelukis Mestro Indonesia, Raden Saleh salah satunya. Raden Saleh dilantik menjadi anggota Tarekat Kemasonan di Loji Bersatu Kita Kuat (Eendracht Maakt Macht) yang berada di Den Haag, Belanda.

Peristiwa tersebut, kata Stevens, menjadikan Raden Saleh sebagai warga asli Hindia Belanda pertama yang menjadi anggota kelompok persaudaraan Kemasonan.

Ini sebabnya, lewat Keputusan Presiden nomor 264 tahun 1962 yang dikeluarkan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno, Freemasonry dianggap sebagai organisasi terlarang.

Berselang 38 tahun, keputusan itu dicabut. Presiden Abdurahman Wahid melalui Keppres nomor 69 tahun 2000 membatalkan pelarangan terhadap organisasi-organisasi terlarang versi Soekarno. Namun khusus organisasi Freemasonry tak lagi ada dan menampakan diri tulis CNN.

Loji Tondano, Minahasa

Loji berasal dari kata bahasa Belandaloge, artinya kantor dagang Belanda VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).Pendirian Loge juga disebut sebagai sarana untuk menyampaikan misi Freemasonry.

Dikisaran 1850, tepatnya di jantung kota tua Tondano, berdiri sebuah bangunan megah yang berfungsi sebagai kantor dagang Belanda yang disebut Loji Tondano.
Kendati tidak masuk dalam daftar 27Loge Freemasonry Indonesia sebagaimana lansir Steven lewat bukunya, bangunan itu dijaman penjajahan Hindia Belanda di tanah Minahasa sempat digunakan sebagai gudang penyimpanan kopi oleh VOC.

Selain itu digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara atau upacara penting dalam kegiatan setiap pemerintahan saat itu, jugasebagai bangunan pejabat tinggi hindia belanda atau tempat tinggal konteler (kepala distrik).

Sebelum tahun 1979, Loji Tondano Minahasa ini berada di lokasi dimana gedung kantor Kabupaten Tondano yang sekarang berada. Pada tahun 1979 oleh Bupati B.G.Lapian bangunan tersebut dibongkar dengan alasan karena lahan aslinya akan dibangun kantor bupati yang baru yang kemudian dipiindahka ke tempat yang sekarang ini di Desa Rinegetan.

Bangunan Loji Tondano telah dipugar sebanyak 3 kali yaitu pada Tahun 1980, 2010, dan Tahun 2011.

Sebuah papan nama yang menempel di bagian teras Loji Tondano Minahasa menyebutkan bahwa Loji Tondano Minahasa ini merupakan bangunan peninggalan sejarah dan purbakala yang diperkirakan dibangun 1840-an oleh Majoor Dirk Ratumbuysang, Kepala Distrik Tondano waktu itu, atau oleh Kepala Balak Tondano-Touliang Matulandi pada tahun 1824.

Keberadaan Loji Tondano hingga kini sulit dikaitkan dengan aktivitas kemasonan di Sulawesi Utara, kendati menurut Steven pendirian Loge sebagai sarana untuk menyampaikan misi Freemason.

Namun begitu, Dr. Th. Steven menulis,“Kaum Mason Bebas tidak hanya mendirikan sekolah-sekolah untuk kaum Indo yang miskin, tetapi juga memberi kesempatan kepada kaum muda yang berbakat untuk mengembangkan diri lebih lanjut melalui pendidikan di Eropa”.

Dalam data Steven, pada tahun 1898,Terekat Kemasonan mendirikan sekolah di Manado. Selain mendirikan sekolah-sekolah diberbagai daerah, para anggota Tarekat Mason Bebas di Indonesia juga mendirikan berbagai perpustakaan. Salah satu Perpustakaan Tarekat Kemasonan disebutkan berdiri di Manado pada tahun 1892. (dari berbagai sumber)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed