oleh

KALOSARA, Pancasila Suku Tolaki Purba

Oleh: Jolly Horonis

Berawal dari pertemuan dengan teman-teman di stand Mongiwa saat pameran pada pesta rakyat Sulawesi Tenggara, Sabtu (22/9/2018). Cerita bermula saat seorang dari komunitas itu menjelaskan singkat mengenai tekad mereka untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal masyarakat Sultra dan menuangkan semua kreativitas itu lewat brand dan desain motif dan gambar pada produk mereka.

Secara cermat, Rose, salah satu dari mereka menjelaskan secara singkat tentang brand dan gambar pada produk mereka. Selain dari Mongiwa yang jadi merek produk mereka, Polemore (sebelumnya sudah diulas) juga yang menarik adalah KALOSARA. Rose berusaha menjelaskan Kalosara ini dengan baik.

Menurutnya, Kalosara itu adalah rotan kecil yang dipilin entah dua atau tiga lalu ditengahnya ada pinang dan siri. Kalosara digunakan oleh masyarakat adat Tolaki untuk kegiatan adat setempat, tuturnya sambil menawarkan agar mengakses di google untuk informasi lebih tentang Kalosara.

Cerita berlanjut saat saya membuka link yang dikirim teman yang memuat tentang tulisan saya sebelumnya mengenai Polemore. Saya tak sengaja bertanya pada seorang bapak di samping saya yang kebetulan kami berada di ruang tunggu dinas pendidikan dan kebudayaan Sultra saat itu.

Pria yang memakai baju dinas itu penuh antusias menjelaskan bukan hanya tentang Polemore malahan hingga hal-hal lain yang dilakukan masyarakat Tolaki dan Konawe. Memanfaatkan responnya yang penuh antusias itu, saya menanyakan beberapa hal terkait tradisi masyarakat Tolaki, hingga tiba saat ketika pembahasan mengenai Kalosara itu terangkat lagi saat itu.

Yudisma, nama lelaki itu. Ia dari dinas pendidikan kabupaten Konawe Selatan, menyelesaikan studinya di IKIP Gorontalo. Skripsinya yang mengangkat pergeseran nilai dan makna Kalosara pada masyarakat Tolaki, membuat ia dengan antusias tinggi menjelaskan Kalosara ini. Untuk mempermudah saya dalam membuat tulisan, saya meminta untuk merekamnya saat menjelaskan.

Ia membuka ceritanya dengan kalimat yang cukup menarik; bagi suku Tolaki, Kalosara itu kalau di Indonesia sama halnya dengan Pancasila, ungkapnya. Kalosara merupakan dasar hadup dan pandangan hidup masyarakat suku Tolaki.Kalosara boleh dikatakan sebagai lambang suku Tolaki.Lima dasar dalam Pancasila itu, jauh sebelumnya masyarakat Tolaki sudah mengenalnya melalui kearifan lokal Kalosara.

Sila pertama Pancasila tentang Ketuhanan yang Maha Esa, dalam Kalosara, poin pertama adalah tentang kepercayaan orang Tolaki. Yakni, sembari mereka mengenal Ombu (Dewa) mereka juga mengenal Sang Pencipta yang dalam bahasa lokal disebut Sangia. Hal itu juga menjadi dasar begitu mudahnya agama Islam diterima oleh masyarakat Tolaki, yakni karena ada persamaan konsep Sang Pencipta.

Juga Ombu pada masyarakat Tolaki memiliki kemiripan dengan konsep Malaikat pada agama Islam. Hal ini menjadikan agama Islam cepat masuk dan diterima masyarakat suku Tolaki purba.Suku Tolaki purba sangatlah toleran, mereka tidak memaksa kepercayaan mereka kepada orang lain dan menerima kepercayaan lain untuk ada dan berdampingan. Perilaku ini tercermin karena kaerifan Kalosara tersebut.

Sila ke dua Pancasila dalam Kalosara tercermin pada sikap mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban setiap masyarakat, meski di Tolaki memiliki tiga kasta. Tiga kasta yakni Ata (budak), Anaki (bangsawan), danTamalaki (Raja). Tiga kasta ini tercermin dalam tiga rotan (kalo) yang dipilin atau dililit menjadi satu. Jika ada permasalahan di antara tiga kasta ini, maka penyelesaiannya harus menggunakan adat Kalosara. Di sinilah tercermin masyarakat yang adil dan beradab. Tenggang rasa, sikap saling mencintai, dan tidak semena-mena terhadap sesama manusia tercermin jelas pada adat dan kearifan Kalosara suku Tolaki.

Tentang Persatuan, Kalosara telah menunjukkan kekuatan itu sejak pertama kali masyarakat Tolaki mengenal, yakni mendamaikan tiga kerajaan tertua di daratan Konawe. Sikap rela berkorban demi menjagakesatuan masyarakat Tolaki purba ini telah mencerminkan betapa Kalosara mampu membuahkan cinta terhadap tanah dan bangsanya.

Musyawarah untuk mufakat juga tercermin pada kehidupan masyarakat suku Tolaki purba. Musyawarah ini dikenal dengan ‘medulu’ dalam bahasa lokal. Medulu bisa dipakai saat menyelesaikan sengketa, juga musyawarah saat melakukan perkawinan adat. Dalam medulu, masyarakat Tolaki selalu mengedepankan kepentingan umum atau kepentingan bersama.

Kuat dan mengakarnya hukum adat menjadikan masyarakat Tolaki hidup penuh dengan sikap hormat, tolong menolong, menghargai dan selalu berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang banyak. Ini merupakan cerminan Pancasila sila kelima dalam masyarakat purba suku Tolaki.

Tentang simbolik Kalosara, pak Yudisma ini menuturkan bahwa Kalosara terdiri dari dua kata yakni Kalo dan O’sara. Kalo (rotan) adalah lingkaran yang terbuat dari tiga rotan yang dipilin menjadi sebuah lingkaran. Satu ujung rotan tersambung dan ujungnya kelihatan sedang dua lainya ujungnya tersembunyi. O’sara adalah ketentuan, adat istiadat, norma dan simbol hukum adat suku Tolaki. O’sara bagaikan faslsafa hidup bagi masyarakat Tolaki. Kalosara meliputi rotan yang dililitkan menjadi lingkaran yang diletakan di atas kain putih dan wadah segi empat, ditengahnya ada siri dan pinang. Beliau juga menyarankan agar mencari referensi tentang Kalosara pada buku Profesor Tarimana.

Saya berhasil menemukan buku yang berjudul KEBUDAYAAN TOLAKI tulisan Abdurrauf Tarimana. Buku terbitan Balai Pustaka ini terdapat di ruang deposit perpustakaan daerah kota Kendari. Tarimana mengulas tuntas tentang kebudayaan Tolaki, termasuk kehidupan bermasyarakatnya. Dalam buku ini, Tarimana kurang menjabarkan Kalosara. Ia lebih menonjolkan kearifan KALO dalam setiap segi kehidupan masyarakat Tolaki.

Toleransi yang tinggi masyarakat Tolaki tercermin dalam kehidupan orang Tolaki hingga dewasa ini. Mereka dengan mudah menerima orang lain dalam kehidupan mereka dan dengan mudahenganggap mereka (pendatang) sebagai saudara mereka. Dalam keseharian orang Tolaki, jika di tengah mereka ada orang yang tidak mengerti bahasa Tolaki, maka mereka tidak menggunakan bahasa Tolaki dalam berkomunikasi karena menjaga perasaan orang lain. Hal ini menjadi kekhawatiran pak Yudisma terhadap ancaman hilangnya punahnya bahasa Tolaki di hari mendatang, ungkapnya sembari berharap banyak generasi Tolaki akan mengangkat Bedaya dan kearifan lokal daerahnya.

Kalosara di Tolaki menguatkan anggapan bahwa Pancasila sebagai dasar negara republik Indonesia, nilai nilainya telah lama ada di bumi Nusantara ini. Jauh sebelum bangsa ini mendirikan negara, nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, serta nilai ketuhanan sudah hidup dan teramalkan sebagai pandangan hidup bangsa di setiap suku bangsa di Indonesia ini. (*)

Jolly Horonis, pegiat adat dan budaya Nusa Utara, alumnus Universitas Negeri Manado

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed