oleh

Menanti Hempasan Tuna di Negeri Ikan

-Berita, Daerah-3.706 views

Manado, Barta1–Sebanyak 500 ton per hari adalah target produksi ikan Tuna yang disasar pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud sejak 2014 lewat program percepatan pembangunan kelautan dan perikanan. Hingga 2017 sebagaimana data di Dinas Perikanan dan Kelautan, target produksi tersebut mulai berjalan lancar dan terus naik.

Talaud sebagai negeri ikan memang bukan julukan yang baru. Sepanjang tahun kawasan laut utara ini disemaraki pemandangan takjub dan fantastik dari hempasan tuna. Dari data yang ada potensi lestari sektor perikanan kawasan ini pertahun sekitar 100 ribu ton. Sementara sekitar 80 persen tuna di Filipina berasal dari laut Talaud.

Kemaharayaan sektor perikanan di Selatan Filipina, semisal pelabuhan perikanan di kawasan Gensan pun sangat bergantung pada hasil tangkapan dari laut kepulauan yang dalam sebutan tradisional bernama tanah Porodisa atau negeri surga ini.

Ini sebabnya, pekan kedua Agustus 2018, PT Perikanan Nusantara (Persero) atau Perinus menanda tangani kerjasama di Bidang Perikanandan dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.

“Wilayah Kabupaten Talaud adalah sentra pulau terluar yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Oleh karena itu, kerja sama ini menjadi penting karena banyak potensi yang dapat dikembangkan di wilayah tersebut,” ujar Direktur Perikanan Nusantara Dendi Agung Gumilang, di Jakarta (13/8/2018) kutip Merdeka.com.

Dia menjelaskan, Perinus diberikan kepercayaan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyiapkan dan mengoprasionalkan unit pengelolaan ikan (UPI) yang berlokasi di SKPT, serta akan mengolah sarana dan prasarana ikan serta gudang beku terintegrasi.

“Jadi, KKP itu melakukan investasi di Kepulauan Talaud, beberapa pembangunan cold storage dan bantuan kapal, nah Perinus itu pemenang lelang untuk mengelola Integratate Cold Storage (ICS). Selain di situ, ada beberapa aset daerah yang saat ini sudah dibangun tapi tidak berfungsi. Nah nanti kami yang memperbaiki supaya bisa berfungsi,” ungkapnya.

Selain kerja sama di bidang sarana prasarana tersebut, Perinus juga akan memberikan beberapa pelatihan kepada nelayan Talaud agar hasil tangkapan ikannya dapat lebih baik lagi. Mengingat saat ini kata dia, penangkapan ikan di sana masih dilakukan dengan cara-cara lama.

Bupati Talaud, Sri wahyumi Maria Manalip mengatakan, perairan Kabupaten Talaud sendiri memeliki potensi besar, di mana menjadi salah satu tempat penghasil Ikan Tuna, Tongkol dan Cakalang terbesar dengan memiliki nilai keuntungan tinggi.

Namun sayangnya, itu belum memberikan dampak maksimal bagi daerah Talaud dikarenakan fasilitas pengelolaan hasil ikan yang masih kurang baik seperti keterbatasan alat tangkap, penyimpanan ikan (Cold Storage), dan kapasitas kapal serta fasilitas pengelolaan hasil tangkap.

“Masih banyak kekurangan di sana yang perlu dibenahi dengan adanya kerja sama ini bisa memperbaiki kesejahteraan nelayan di sana,” ujar Manalip.

Kawasan Perikanan Terintegrasi
Di era pemerintahan Jokowi-JK dengan Nawacitanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki program yang diberi nama Program Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT) di 5 pulau terdepan, yaitu Kabupaten Merauke (Papua), Simeulue (Aceh), Natuna (Riau), Maluku Tenggara Barat (Maluku), dan Sangihe Talaud (Sulawesi Utara).

Di tahun 2016, PK2PT kembali dilanjutkan dan berubah nama menjadi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) dan dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor 40/Permen-KP/2016 tentang Penugasan Pelaksanaan Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di Pulau-pulau Kecil dan Kawasan Perbatasan.

Untuk menggenjot sektor ini 91 unit armada tangkap didatangkan pemerintah. Pembenahan kawasan pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu juga dilakukan di Desa Salibabu. Pembangunan alih status pangkalan pendaratan ikan menjadi pelabuhan perikanan pantai, sudah dibangun sejak 2015 hingga tuntas di 2016.

Pada 2017 kawasan ini sudah memiliki tempat pelelangan ikan cool storage, ice flake skala besar, balai dan rumah nelayan 50 unit. Talaud, kini siap bersaing dengan daerah lain di sector perikanan dan kelautan.

(baca juga: Agroindustri Modoinding: Dapurnya Indonesia Timur)

(baca juga:Sayur Modoinding, dari Industri Holtikultura ke Agrowisata)

Dilirik Investor
Sektor perikanan Talaud juga dilirik investor kelas dunia, di antaranya dari Tiongkok, Zhang Zhi Xiang

“Inilah yang kami cari. Setelah melihat secara langsung, kami tertarik. Daerah ini memiliki berbagai potensi yang sangat menjanjikan terutama di sektor kelautan dan perikanan yang potensial dikembangkan,” ujar Investor Zhang Zhi Xiang saat berkunjung ke Talaud belum lama.

Rombongan investor Tiongkok tersebut langsung mensasar produk ikan Tuna Talaud. Mereka berencana memberikan kapal-kapal pengangkut ikan ke Talaud dengan mengenakan bendera Indonesia. Jika terwujud, hal ini tentunya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Talaud lebih luas lagi Sulawesi Utara.

Sementara itu, untuk memacu pembangunan sektor perikanan dan kelautan Kabupaten Talaud Pemerintah pusat telah merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan pulau kecil terluar, melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, termasuk penyusunan rencana Zonasi serta master-plan pulau-pulau terluar (PPKT) di Pulau Miangas, Marampit dan Kakorotan di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan DR Krisna Samudra M.Si, mengatakan, kawasan kelautan dan perikanan yang terintegrasi adalah konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip integrasi, efisiensi,¬ kualitas dan akselerasi tinggi dengan tetap berpedoman pada UU Nomor 27 Tahun 2007, sebagaimana telah dirubah terakhir menjadi UU no 1 Tahun 2014 yang mengatur tentang pengelolaan pulau pulau kecil terluar.

Dipaparkannya, daerah akan mengalami kesulitan dalam hal memberikan izin dalam pengelolaan potensi kelautan dan pesisir apabila tidak masuk dalam rencana zonasi dan masterplan tersebut.

Kepedulian dari pemerintah pusat lewat Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia terhadap Kabupaten Talaud ini semakin tampak nyata lewat kunjungan Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Mentri KDP dalam menghadiri hajatan budaya sekaligus eko wisata bahari Mane’e yang berlangsung belum lama ini di negeri Porodisa, di negeri dimana ikan-ikan nyaman berumah. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed