oleh

Duata Dari Dewa ke Allah, Sebuah Esai Sovian Lawendatu

-Fokus, Opini-2.088 views

Dilihat dari ilmu agama, masyarakat Nusa Utara sebenarnya memiliki ‘agama’ sebelum masuknya agama Islam dan Kristen /Katholik.

Mengikuti Brilman, agama masyarakat suku Nusa Utara sebelum masuknya Islam dan Kristen, berbentuk sinkretisme atas pra-animisme (kepercaya mana), animisme, kepercayaan dewa-dewa dan penyembahan orang mati.

Dalam konteks kepercayaan dewa-dewa, yang (menurut Brilman) merupakan pengaruh Hinduisme, masyarakat Nusa Utara mempercayai antara lain “seorang” dewa yang bernama Duata/Ruata. Brilman bahkan mengasalkan nama Duata itu dari kata Dewata.

(baca juga: Saya Membaca Buku Sovian Tentang Axsel)

Dewa ini belakangan mengalami transkonseptualisasi (proses alih konsep) ke “dunia” Kristen. Artinya masyarakat Nusa Utara yang beragama Kristen memahami bahwa Duata bukan (lagi) sebagai seorang dewa melainkan sebagai Allah (=Tuhan Allah, Sang Bapa) di dalam Yesus Kristus. Kenyataan ini dengan jelas kelihatan melalui ritus-ritus atau peribadatan Kristen di Nusa Utara (GMIST dan kemudian juga GERMITA). Begitu pula dalam Alkitab ber-Bahasa Sangihe.

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam lagu-lagu Nusa Utara yang bertangga nada diatonik (Barat) seperti Omawu Malondo dan O Mawu Ruata. Malahan, masyarakat Nusa Utara yang beragama Kristen memahami bahwa Duata yang disebut-sebut dalam Ssasambo dan Sasalamate (yang nota bene merupakan produk seni musik/sastra tradisional Nusa Utara (dalam hal ini khususnya Sangihe) adalah Allah atau Tuhan Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus.

(baca juga: Merekam Tradisi Pukat Dampar Yang Punah di Pesisir Manado)

Bagi saya, proses alih konsep (transkonseptualisasi) itu terjadi pada abad ke-19 “di bawah” perintisan para Zendeling-Tukang (Zendeling Werkman) dan kemudian dilanjutkan secara intens oleh para Hamba Firman Tuhan ( Dienaar des Woords) perutusan Komite Sangihe dan Talaud (Sangi en Talaud Commitee). Asumsi ini didasarkan pada kenyataan bahwa abad ke-19, seperti yang dikemukakan oleh Abineno (1978), merupakan fase Kulturisme –Injili dalam Sejarah Apostolat di Indonesia.

Pada fase sejarah yang dimaksud, memang terjadi penerjemahan Alkitab dan lagu-lagu gerejawi dalam bahasa asing ke dalam bahasa Sangihe (dialek Manganitu yang dianggap sebagai yang terhalus dari sejumlah dialek dalam bahasa Sangihe). Dalam konteks ini, Pekabaran Injil atau kegiatan Zending lebih dilakukan dalam bahasa daerah (Sangihe dan Talaud).

Lagu semacam O Mawu Rendingane merupakan terjemahan dari lagu Jesus Lover of My Soul (karya Simeon B. Marsh) yang konon dilakukan oleh E.T. Steller, Zendeling atau Pendeta-Sending yang bertugas di Ressort Manganitu (1857 – 1897) yang nota bene disebut-sebut sebagai Pandita yang gemar “naik kuda” bila mengunjungi jemaat-jemaat layanannya – dalam versi Indonesia, terjemahan lagu gerejawi Barat ini dilakukan oleh E.L. Pohan Siaahan dengan judul Angin Ribut Menyerang (lihat buku Kidung Jemaat Nomor 30a; Yamuger, 1984). Ketika itu juga (1888) telah terbit beberapa kitab ‘bibel’ berbahasa Sangihe, semisal Injil Matius dan Kisah Para Rasul serta Katekhismus Heidelberg, yang semuanya merupakan karya terjemahan C.W.J. Steller.

(baca juga: Meiliana, TOA, dan Penodaan Agama)

Adanya proses alih-konsep itu dimungkinkan oleh faktor kesamaan atau kemiripan ‘citra eksistensial’ antara Duata (dewa) dengan Allah (yang eksis di dalam Yesus Kristus). Mengenai ini masyarakat Nusa Utara memahami bahwa Duata merupakan dewa atau mahadewa pencipta segala yang ada (di Nusa Utara?). Seperti halnya Allah di dalam Yesus Kristus, Duata bukanlah dewa yang kehabisan kerja (deus otiosus) sebagaimana yang diajarkan oleh kaum Deisme.

Dewa yang bernama Duata, seperti juga Allah di dalam Yesus Kristus, merupakan dewa yang baik, sehingga ia menjadi sumber pertolongan atau pemelihara segala ciptaannya. Dalam pada itu, seturut julukan puitisnya atau sasahara-nya, Duata adalah Ghenggona Langi (artinya : “Yang Mahatinggi); jadi mirip Allah di dalam Yesus Kristus.

Akhirnya sebagai tanyaan yang menarik untuk didiskusikan : mengapa bukan Aditinggi, melainkan Duata atau Ghenggona Langi yang mengalami transkonseptualisasi ke “dunia” Kristen?***

Sovian Lawendatu: Budayawan, Kritikus Sastra, dan Guru.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed