oleh

Sebuah Cerpen Dari Amato Assagaf

NDUT

Hujan mungkin kata-kata yang singgah di atap rumah, pada pohon, rumputan dan tanah. Yang menyampaikan pesan langit dengan gemuruh, kadang, atau rintik sekedarnya.

Kamar dua kali tiga. Kasurter hampar pada lantai berdebu. Asbak meruah dengan puntung dan abu. Senandung lagu dari suatu masa yang membiru terdengar samar di antara suara hujan dari seberang kamar itu. Ndut terpaku di sudut bawah jendela kayu yang telah menjadi sarang rayap. Sebuah pikiran brengsek hinggap di kepalanya.

Sebuah filsafat yang lahir tanpa rahim dengan air ketuban lendir-lendir sisa selesma. Ndut berdehem, keras mendorong lendir dari tenggorokannya. Mulutnya penuh. Dia meludah seperti membuang sejuta serapah pada pagi hari yang mulai membayang lewat warna fajar berkabut. Hujan masih bangsat. Pesan yang melahirkan firasat-firasat kusut. Seperti wahyu dari gua nabi-nabi palsu.

(baca juga: Monodi Menyambut Senja, dan 7 Sajak Amato Assagaf)

Fajar merekah. Hujan berganti rintik malas menyentuh tanah coklat tua yang telah jadi lumpur di bawah jendela kamarnya. Dia melongok keluar dengan kantuk dan beban satu botol anggur Orang Tua di dalam kepala.

Terbaring oleh kantuk yang tak pernah mencapai lelap, pikirannya melayang membentuk gagasan yang tersusun dengan urut-urutan yang kacau. Kepalanya pusing, perutnya mual. Jaring laba-laba bercampur debu di salah satu sudut kamarnya bergetar digoyang lalat yang meronta putus asa. Ndut kembali berdehem, mulutnya kering dan tenggorokannya perih. Dingin terasa tiba-tiba pada hidung, telinga, telapak tangan dan ujung-ujung jari kaki. Lalat itu mati. Ndut memaki.

(baca juga: Catatan Singkat Soal Jokowi, Politik dan Balon Gas)

Hujan dalam rintik bagai sejuta peri menari mempermainkan cahaya matahari pagi yang memancar lewat jendela, memotong separuh kamar dan berhenti pada ujung seprai yang memutih oleh kristal-kristal garam bekas keringat. Ndut menutup jendela dengan kesal yang lebih ditujukan pada pagi dari pada silau cahaya. Lalu kembali berbaring dengan kerinduan yang sangat akan kegelapan. Pikiran brengsek itu datang lagi.

Terangkai dalam susunan kata yang membentuk sebaris doa. Doa brengsek bersama harapan brengsek dari sebuah takdir yang juga brengsek. Seekor kecoak lewat dengan acuh setelah sempat singgah di bibir gelas dengan bercak hitam sisa anggur yang mengering. Ndut mengenang.

Penantian itu dingin, halus dan bersahaja. Ndut terkesiap seperti Siddharta di rindang pohon Boddhi. Seperti menemukan kembali rahim tempat dirinya pertama kali bertahta dalam keangkuhan hidup yang manis dan berpura-pura. Membalikkan badan dengan gelisah lalu telentang dengan mata tertutup, Ndut merasakan darahnya mengalir melewati jantungnya yang berpacu. Berdesir naik ke kepala, meremangkan bulu kuduk. Lalu berhenti pada pembuluh-pembuluh di otaknya. Pikirannya seketika cerah dengan hati begitu muram.

Ini bulan ke delapan belas sejak pertama kali Ndut berjanji untuk menanti. Menghabiskan seluruh waktunya dalam kegelisahan yang tidak mampu terobati bahkan oleh kegelapan dan berbotol-botol anggur. Ndut senantiasa mengingat janji penantiannya, menjunjungnya tinggi-tinggi di atas kepala seperti menjunjung Quran suci kala mengaji di langgar Kyai Mustakim di perempatan yang sekarang sepi di mulut desanya yang telah lama menjadi kenangan akan segala sesuatu yang membusuk.

Tapi penantian itu seakan membutuhkan Tuhan yang baru untuk merestuinya dengan siraman hujan, malam-malam yang gerah dan sepi, kamar dengan dinding yang semakin menebal oleh debu, serta separuh lebih sejarah hidupnya sendiri yang tidak berlebihan untuk dianggap berada dalam keadaan antara sekarat dan berharap. Ndut hanya bisa menanti. Tanpa khayalan, juga mimpi dari tidurnya yang selalu berdengung karena telah dirampok lelap seluruh umat manusia.

Delapan belas bulan sebelumnya, pada hari ketika tanah di bawah jendela kamarnya masih selembut punggung Nabi Adam saat pertama kali diciptakan, Ndut menyimpan surga dalam cinta yang dipenuhi lagu-lagu melankolis. Lalu hujan mengantarkan perpisahan yang ditutup dengan janji penantian yang, di saat-saat tertentu ketika birahi menggerogoti pikiran, terasa seperti menghempaskan dirinya di tebing-tebing neraka.

Dan perempuan itu, rambutnya yang keriting, payudaranya yang seperti pantat bayi, selangkangannya yang berbau mesum dan kata-katanya yang mengingatkan Ndut pada bahasa iklan sabun, telah menjadi hutan rimba tempat menyembunyikan kecemasan seorang laki-laki akan usia dan penyakit tanpa obat yang telah dikaruniakan Tuhan kepada hamba-Nya yang sial.

Lalu sepi terasa dalam dada yang tidak dipersiapkan untuk menjadi pahlawan meski hanya terhadap seorang pelacur yang meninggalkannya untuk kembali dengan uang dan sebuah kehidupan sebagai suami-istri. Batam, Singapura, Hongkong adalah kota-kota tempat rajasinga menjadi sebangsa penyakit kudis yang bisa diobati dengan salep karena Tuhan sungguh Maha Penyayang.

Namun HIV yang kini sedang menjalani satu tahun lebih dari masa inkubasinya di dalam darah Ndut, tidak pernah menjadi lain kecuali virus yang – sebagai makhluk Tuhan – juga meminta perhatian atas doa-doa dan harapan. Termasuk di kota-kota tempat kekasihnya singgah mengadu untung dengan payudaranya yang semakin meleleh itu.

Ndut pernah menangis. Seperti juga di sore kemarin ketika seorang tukang pos berwajah khas pegawai negeri yang lamban mengantarkan surat dari seorang sahabat kekasihnya di Hongkong. Tersampul rapi dalam amplop putih dengan lis berwarna-warni, surat itu menyimpulkan petaka dalam tiga kata; kekasihnya telah mati. Bukan oleh rajasinga, HIV, atau kelelahan akibat melayani delapan lelaki semalam, tapi oleh cinta yang mengantarkannya ke bank di suatu pagi yang lembab untuk mengirim uang bulanan pada Ndut dan mendapati seorang lelaki China daratan dengan mata lapar dan pisau di tangan.

Perutnya yang kendor itu robek hingga ke dada. Wajahnya memar dan sebuah giginya tanggal. Dan Ndut tahu pasti, di dalam tangisnya yang sunyi, tersimpan kerinduan akan satu-satunya harapan dan doa-doa brengsek namun tulus yang pernah tumbuh untuk memulihkan dirinya sebagai manusia bersama kekasihnya, pelacur yang mati itu.

Penantian itu dingin, halus dan bersahaja seperti kematian manakala hidup telah menjadi rahim kering yang membosankan dan kehilangan doa-doa serta harapan sebetapapun brengseknya. Ndut sadar tangis tidak mampu menjawab apa-apa kecuali sedikit mengelus kecemasannya dan membaringkannya kembali dalam gelisah yang tak berkesudahan. Setelah ini, apa? Ndut gemetar. Gagasan-gagasan yang kacau balau membuatnya merasa seperti mabok di dalam sebuah pesta topeng gila-gilaan.

Dalam kerinduan yang semakin mencekam akan masa lalu, Ndut bagaikan sedang berjalan pulang kampung. Menyusuri langkah demi langkah ke belakang, ke tempat dia pertama kali menemukan matahari sembari mencabuti ilalang dengan kekasihnya yang ketika itu baru ditumbuhi sepasang jerawat di pipinya yang putih. Lalu matahari itu meleleh bersama air matanya yang pertama ketika kekasihnya harus pergi ke kota untuk menjadi pembantu tapi kemudian terdampar di rumah bordil.

Hanya tiga tahun kemudian, mereka bertemu lagi dengan cinta yang membisu. Berbagi ranjang hingga saat kekasihnya diketahui mengidap HIV. Ndut menangis lagi, bukan karena dia pun telah mengalirkan darah dengan virus yang sama, tapi oleh doa-doa dan harapan yang kemudian mereka tanamkan bersama untuk sedikit membenahi takdir yang seolah telah menjadi satu-satunya bukti keberadaan Tuhan Yang Maha Pengasih dengan membiarkan kekasihnya mengadu nasib di Batam, Singapura dan Hongkong.

Sekarang perjalanan itu terhenti dalam lelah yang melantakkan seluruh tulang-tulangnya. Dia terbaring dengan keringat berbau tanah dan igauan yang hampir menyerupai nyanyian shalawat badar. Hujan telah berhenti menghiasi pagi. Dan enam jam berikutnya, seekor kecoak bertengger di dahinya yang telah membiru dalam penantian yang dingin, halus dan bersahaja.(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed