oleh

Don Quixote de la Hoax; Sihir Narasi dan Hegemoni Fiksi (Bagian I)

-Fokus, Opini-1.486 views

Oleh: Haz Algebra*

“(Hidup) . . . adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh orang idiot,
penuh hingar dan amarah, yang tidak berarti apa-apa.”
– William Shakespeare (Macbeth, 1606)

(1) Apakah Kita Sedang Hidup di Alam Semesta Hoax ?

BARANGKALI pertanyaan ini teramat ganjil dan menggelikan. Terutama bagi jiwa-jiwa rigid nan rapuh yang senantiasa bergelut dan bergumul dalam upaya-upaya pelayanan terhadap ‘kebenaran’. Juga wabilkhusus bagi mereka yang hidup khidmat berjuang dalam slogan-slogan ‘mitologis’ serupa Turn Back Hoax.

Tapi bagaimana seumpama kata hoax pada pertanyaan itu kita derivasi sebagai dongeng, mitos, legenda, gosip, ilusi, fantasi, simulasi, konspirasi atau segala kata (bernuansa “fiksi” atau “naratif-manipulatif”) yang dapat diperlawankan dengan kata realitas atau fakta (dalam pengertiannya yang “natural”)—bagaimana jika setiap identitas hingga tindak-tanduk kita pada dasarnya dibentuk dan digerakkan oleh cerita-cerita yang, sebenarnya, tidak ada dalam ‘kenyataan’?

Sebab ada satu cerita yang juga ganjil dan menggelikan yang berasal dari tahun-tahun terakhir sebelum tenggelamnya Abad Pertengahan di Eropa. Ditulis oleh satiris Spanyol bernama Miguel de Cervantes, beberapa tahun sebelum Rene Descartes menuliskan ‘Meditasi-Meditasi’-nya dan mendeklarasikan diktum “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) sebagai penanda terbitnya Era Renaisans. Novel aslinya berjudul: El ingenioso hidalgo Don Quixote de la Mancha atau Bangsawan Jenius Don Quixote dari Mancha.

Dalam novel klasik itu, sayup-sayup tersebut sebuah nama: Alonso Quixano; seorang lelaki hidalgo 50 tahun yang punya banyak uang dan menghabiskan waktu luang dengan membaca begitu banyak buku dongeng tentang pengorbanan para kesatria, saban hari sedari senja hingga fajar dan hari-hari menjelang fajar hingga malam. Akibat kurang tidur dan kebanyakan membaca membuat otaknya mengering hingga mengira dirinya sedang hidup di zaman dulu kala—zaman ketika para jagoan bertempur memperjuangkan hal-hal yang luhur semisal kebenaran dan keadilan.

Syahdan, sang tokoh protagonis kita ini tiba-tiba memutuskan meninggalkan rumah, berkeliling naik kuda lengkap dengan baju zirah untuk memenuhi panggilan ke-kesatria-annya: meluruskan segala hal yang salah di masyarakat serta membawa keadilan bagi dunia. Petualangan si majnun ini pun menjadi seru sebab ia menganggap segala hal di dunia nyata seturut fantasi dari bacaannya. Ia menamai kudanya Rocinante, lalu merekrut seorang pengawal bernama Sancho Panza yang aslinya hanyalah seorang petani sederhana.

Ia juga menunjuk sesosok gadis-yang-entah sebagai cinta imajinernya yang ia beri nama Dulcinea del Toboso, yang darinya ia memperoleh nilai-nilai kebenaran dan keindahan. Lalu ada pula kincir angin yang dikiranya raksasa yang harus dikalahkan; sekawanan domba yang dianggapnya pasukan musuh; hingga sosok penyihir ‘virtual’ (enchanters, encantador) yang dijadikan kambing hitam yang selalu mengecoh pikirannya. Sungguh Alonso Quixano telah hilang-tenggelam dalam cerita dongeng. Dan di dunia fiksinya itu, ia telah mendaulat dirinya sebagai kesatria bernama: Don Quixote de la Mancha. . .

Membaca novel Cervantes itu bisa membuat kita mengernyitkan kening, sambil terpingkal-pingkal, barangkali. Sebab selain kehebatan Cervantes meramu fiksi berlapis fiksi, juga dikarenakan oleh kekonyolan sang tokoh yang, jika didiagnosa dari ilmu psikoanalisis atau psikiatri, memberi gambaran seorang pengidap sakit jiwa yang lucu dengan spektrum kegilaan dari megalomania hingga skizofrenia paranoid.

Namun jika kita membacanya lebih jauh, kita juga bisa menemukan hal yang lain bahwa, racikan cerita itu, seperti dakwaan Fyodor Dostoevsky, berisi tentang “kebohongan yang diselamatkan oleh kebohongan”. Don Quixote, dengan demikian, seyogianya tidak sekadar terbaca sebagai cerita tragis nan getir. Tapi kisah itu juga bisa mengilustrasikan persoalan krusial tentang hidup manusia yang disindirnya sekadar berkisar pada cerita-cerita fiksi (dan dusta) belaka. Lantas, apakah serta-merta Don Quixote adalah kita—apakah kita adalah Homo quixotienses ; makhluk naratif yang dibentuk dari cerita, digerakkan oleh cerita, dan hidup untuk cerita?

Barangkali kita akan kesal lalu menyangkal. Dan barangkali spesies manusia-manusia modern yang mendaku punya akal-sehat akan balik mendikte, “Don Quixote itu gila! Wajar saja jika ia hidup dalam fantasinya.” Tapi barangkali Don Quixote akan terdengar akrab ketika suatu pagi kita terbangun dari lelahnya membaca teks kitab suci, semisal Das Kapital, dan berdiskusi tentang Marxisme berhari-hari lalu tiba-tiba kita keluar rumah dan membagi struktur di masyarakat menjadi kelas-kelas kemudian mengusung sebuah perjuangan atas nama kelas; atau sebagian kita ada yang kembali tidur setelah mendengar dongeng tentang Khilafah, padahal belum cuci kaki atau gosok gigi, dan mendaku sebagai orang-orang terpilih yang berkumpul di organisasi alam mimpi untuk menyatukan dunia dalam sebuah pemerintahan tunggal.

Atau barangkali Don Quixote akan terdengar akrab ketika bisikan-bisikan hantu-hantu cerdik di malam hari membuat seorang Menteri ingin membubarkan sebuah organisasi keesokan harinya karena menganggapnya melawan dongeng Negara. Barangkali Don Quixote akan terdengar akrab ketika kita yang saking seringnya mendengar kisah tentang “seorang anak Tuhan sedang digoda oleh Iblis” lalu membuat kita berkumpul di suatu tempat untuk menangis, membakar sesuatu, mendirikan sesuatu, sambil berteriak-teriak agar si anak Tuhan itu segera dibebaskan atas nama keadilan.

Dan masih banyak barangkali-barangkali lainnya yang membuat Don Quixote akan terdengar akrab di setiap diri, yang, andai dibuatkan daftar, barangkali bisa melampaui narasi sel-sel saraf di otak kita yang jumlahnya ratusan juta.

Fenomena-fenomena ke-barangkali-an ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa ketika kita berperilaku, bahkan, ketika kita mengukuhkan sebuah identitas, selalu saja ada ‘jejaring cerita’ dan ‘perintah naratif’ yang beroperasi di balik pikiran kita, yang seolah ‘memaksa’ (menyihir dan menghegemoni) agar kita turut serta mengambil karakter juga pelbagai peran di dalamnya.

Terdengar klise? Mungkin saja. Tapi persoalannya kemudian, sejauh mana kita percaya bahwa cerita-cerita yang mendikte itu bukanlah cerita-cerita fiksi belaka; sejauh mana otak kita bisa membedakan antara yang fiksi dan yang fakta; sejauh apa kita menyadari bahwa, secara teknis, kita hanyalah ‘korban’ fiksi, atau ‘agen’ yang digerakkan oleh dongeng, mitos, legenda, gosip, ilusi, fantasi, simulasi, konspirasi(?)

(2) Kutukan Para Pendongeng

ILUSTRASI yang lebih konkret mungkin tampak pada sosok Adolf Hitler. Dalam buku pertamanya, Mein Kampf (1925), Hitler pernah menulis tentang masa kecilnya yang begitu sangat mengidolakan Richard Wagner—seorang komposer Jerman anti-Semit yang meninggal 50 tahun sebelum ia berkuasa. Sosok Wagner seolah menjadi tuhan bagi Hitler muda.

Dan narasi-narasi anti-Semit yang dikisahkan lewat musik dalam opera-operanya menjadi firman yang menenggelamkan Hitler ke dalam identitas fiksi, lalu hidup di dalamnya. Hitler terpesona oleh daya tarik ekstatis dari tema-tema besar Wagner yang bercerita tentang pengorbanan heroik dan pengkhianatan, penebusan dan kematian, juga mitos-mitos Jerman yang dihidupkannya kembali tentang hasrat titanis dan senja para dewa. “Dalam setiap fase hidup saya,” kata Hitler, “saya selalu kembali kepadanya (Wagner).”

Dan selayak Don Quixote, Hitler pun merasa diangkut oleh musik Wagner ke dalam “mistycal trance”; terjun ke dalam tontonan intim dari tokoh-tokoh heroik seperti Rienzi, Tannhäuser atau Siegfried yang tampaknya menantang kemapanan tatanan borjuis; atau penyelamat asketik seperti Lohengrin dan Parsifal yang datang untuk menyelamatkan dunia dari korupsi dan dekadensi. Bahkan, dalam imajinasi Hitler, opera terakhir Wagner, Parsifal, adalah sebuah drama tentang “kemurnian darah” dan regenerasi rasial. Cerita-cerita fiksi inilah yang menjadi idealisme Hitler yang kemudian dikisahkan kepada para pengikut fanatiknya dan mendasari berdirinya partai NAZI dengan segala ke-Holocaust-annya itu.

Vladimir Lenin, seperti cerita dalam buku The Dilemmas of Lenin: Terrorism, War, Empire, Love, Rebellion (2017) karya Thariq Ali, konon mengalami hal yang sama seperti Hitler. Ketika teks-teks politik hangus terbakar di bawah Rezim Tsar, dan ketika para esais perlawanan harus mendekam di rumah sakit jiwa sampai mereka melakukan pertobatan politik memohon untuk dinormalkan, Sang Bapak Uni Soviet ini memilih jatuh cinta pada sastra.

Dan pada kecintaannya itu, ia mulai memetakan musuh-musuhnya dari figur-figur atau tokoh dalam karya-karya para sastrawan, semisal Goethe. Siapa yang mengira, ketenggelaman Lenin pada cerita-cerita fiksi telah memantik revolusi Oktober 1917 di Rusia.

Apa yang terjadi pada Hitler dan Lenin serta para pengikutnya menggambarkan aspek-aspek fungsional dari fiksi, meskipun mungkin ada yang rada ‘patologis’. Tapi terlepas dari pertimbangan-pertimbangan moral (karena persoalan ‘baik’ atau ‘buruk’ tergantung dari fiksi apa yang kita yakini atau yang menghegemoni kita), fenomena seperti ini dapat terjadi pada siapa saja, baik pada mereka yang pikirannya mengalir ke bumi, atau yang terbang hingga ke atmosfer, maupun yang pikirannya meledak-ledak bak kembang api di langit tujuh puluh dua bidadari. Demikian pula pada mereka yang berpaham datar-datar saja; normal atau idiot; kanan, moderat atau kidal—selama mereka masih merasa manusia, hidup mereka, sebenarnya, sedang didikte oleh jejaring cerita yang mengitarinya.
Cobalah tengok keseharian kita sekali lagi. Dengan medium cerita yang berkembang pesat—sejak Revolusi Gutenberg I (ditemukannya mesin cetak untuk buku), lahirnya televisi, Revolusi Gutenberg II (ditemukannya internet), hingga Era Zuckerberg (media sosial)—, jejaring cerita yang mampu menenggelamkan setiap orang dalam narasinya bisa kita temukan di mana saja; di halaman-halaman buku, di panggung, di layar tv, di layar gadget, hingga pada perangkat-perangkat virtual reality.

Tidak perlu repot-repot mengingat novel atau film yang pernah menginspirasi atau pernah membuat kita terpesona. Sebab kita juga pasti sering mendengarkan lagu yang liriknya membuat kita terbawa suasana. Atau bermain video game di mana kita ‘harus’ mengikuti alurnya, atau menonton reality show beserta iklannya di televisi yang mengajak kita untuk belanja mata dan belanja harta.

Atau, kita juga sering membaca produk jurnalis di situs berita yang ditulis dengan pendekatan naratif fiksi yang penuh nuansa ketegangan dan karakter, hingga membuat kita bisa menyukai seorang tokoh tertentu atau bahkan saling membenci sesama. Itu semua menggambarkan pola-pola yang umumnya disebut “perendaman” (immersion)—yaitu pengalaman kehilangan diri di dunia fiksi yang terjadi ketika orang tidak hanya merasa diberi informasi atau dihibur, tapi benar-benar tergelincir ke dalam realitas fiksi yang diproduksi.

J.R.R. Tolkien, pengarang kisah paling mendalam sepanjang masa (trilogi The Lord of the Rings), dalam esainya yang berjudul On Fairy Stories (2008), menggambarkan pengalaman seperti ini sebagai “keadaan tersihir” (enchanted state) atau keadaan di mana kerangka pikiran kita berada dalam sebuah cerita yang memasuki dunia cipta para pengarang. Kekuatan dari pengalaman semacam ini seringkali diabaikan karena ia bertolak-belakang dengan penilaian empiris kita bahwa cerita fiksi tidaklah nyata.

Padahal dampaknya begitu besar; ‘hilang dalam fiksi’ berarti kita lupa bahwa kita adalah pembaca atau audiens sama sekali. Di sinilah proses dikte itu berlangsung. Fiksi “membuka pintu di waktu yang lain, dan jika kita lewat, meski hanya sesaat, kita berdiri di luar waktu kita sendiri,” kata Tolkien. Kita bisa menangis, marah, atau merasa ngeri, karena dalam narasi-narasi fiksi “suka cita dan kesedihan setajam pedang.”

Psikolog Kognitif University of Toronto, Keith Oatley dan Raymond Mar, dalam risalah mereka tentang “The Function of Fiction…” (2008) juga mendekati pengalaman ini dengan istilah “penyerapan” (absorption) dan “pengangkutan” (transportation), di mana sebuah cerita menuntut pembacanya untuk “memproyeksikan diri mereka ke dalam cerita” untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam cerita. Menurut Otley yang juga seorang novelis ini, cerita adalah abstraksi yang dapat menghasilkan simulasi realitas yang nyata, yang “berjalan di benak pembaca seperti simulasi komputer yang berjalan di komputer.”

Dan fiksi—dengan detail sensasi, metafora imajinatif dan deskripsi tentang karakter dan tindakan mereka—menawarkan replika yang sangat kaya; fiksi bisa “menumbuhkan simpati dan empati,” serta mampu “mentransmisikan pengetahuan sosial” seperti: hasrat, emosi dan tujuan dalam konflik sebuah cerita ke pembacanya.

Riset-riset psikologi dan neurosains kognitif yang mempelajari tentang bagaimana cerita fiksi, terutama terkait narasi-narasi dalam novel, film, teater, dapat mempengaruhi pikiran telah banyak dilakukan. Dan rata-rata hasilnya konsisten menyatakan bahwa ketika kita mendengar atau membaca sebuah cerita, kita secara mental akan “mewujudkan” pelbagai aspek narasi dan dengan jelas mem-visualisasi-kan apa yang sedang terjadi dalam cerita.

Kita benar-benar melakukan “acting” cerita di tingkat tertentu di otak kita atau, setidaknya, di daerah otak yang terkait dengan pelbagai aspek seperti memproses tujuan yang diarahkan pada aktivitas manusia, menavigasi lingkungan spasial, dan memanipulasi objek secara manual di dunia nyata.

Pengalaman simulatif yang diberikan oleh narasi fiksi ini memang memiliki akar pada teori kognisi, namun ia akhirnya mendapatkan “pijakan-material”-nya dengan ditemukannya “sistem neuron cermin” (mirror neuron system) pada otak manusia. Ungkapan “neuron cermin” ini mengacu pada neuron-neuron di Frontal Cortex yang menyala saat kita melakukan sesuatu dan ketika kita melihat orang lain melakukannya.

Sedangkan untuk ihwal emosi, eksperimen menunjukkan bahwa Insula kita menjadi aktif baik ketika kita sedang merasa emosional atau ketika kita menyaksikan ekspresi wajah orang lain yang sedang emosional. Paradoksnya, kita berbagi emosi tapi kita tidak merasakannya sendiri-secara-langsung, melainkan melalui emosi orang lain. Penemuan “neuron cermin” ini dapat menjelaskan mengapa kita menanggapi karakter fiksi sebagai sesuatu yang nyata meskipun kita tahu itu tidak benar. Ini juga menjelaskan tanggapan emosional kita terhadap film, novel, teater dengan rasa marah, sedih atau ngeri meskipun kita tahu itu hanyalah fiksi.

Vittorio Gallese, salah satu anggota tim penemu “neuron cermin”, dalam ulasannya tentang “Motion, Emotion, and Empathy in Esthetic Experience” (2007), mengatakan bahwa “neuron cermin” membuat simulasi tindakan yang kita lihat pada orang lain tampil sebagai representasi viscero-motor dan somatosensory di otak kita sendiri. Dan bukan hanya gerakan.

Kita juga memetakan tujuan tindakan orang lain ke sistem motorik kita, dan bahkan niat dan emosi yang menyertai tindakan itu. Dengan kata lain, “neuron cermin” memberi kita “simulasi yang diwujudkan” (embodied simulation) bukan hanya tindakan tapi juga pikiran dan perasaan orang lain atau karakter dalam fiksi, dan kita men-share-nya di tubuh kita. Demikian, jika analisis-analisis ini benar, maka keadaan ‘hilang dalam fiksi’ yang mengaktual di kehidupan nyata merupakan bentuk ekstrim dari proyeksi diri pembaca ke dalam cerita.

Alasan lain yang membuat kita bisa hilang dalam cerita fiksi ialah adanya keinginan bawaan kita untuk melibatkan diri dalam cerita, dan ini bukanlah dorongan yang sembrono, melainkan respon adaptif mendasar manusia. Dalam buku On the Origin of Stories (2009), profesor sastra di University of Auckland, Brian Boyd, berpendapat bahwa keinginan manusia untuk tunduk terendam dalam cerita berakar jauh di dalam jiwa manusia; semacam terdapat “bisikan konspiratorial”, kata Boyd, yang selalu mendorong “penyerahan diri” agar kita mau “membenamkan diri dalam cerita berulang kali.”

Sebuah cerita hanyalah kunci, tapi seperti kunci, yang ada hanya membuat kita sampai di pintu. Menurut Boyd, apa yang mendorong orang ingin menggabungkan identitas mereka ke dalam cerita ialah kodrat manusia yang cenderung selalu ingin memasuki “dunia tempat tinggalnya—yaitu dunia cerita.”

Hal senada juga dinarasikan oleh Jonathan Gottschall dalam bukunya, The Storrytelling Animal; How Stories Make Us Human (2012), bahwa manusia adalah spesies yang kecanduan cerita—dan kecanduan itu berjalan lebih dalam dari yang kita duga. “Kita bisa saja meninggalkan buku atau layar gadget kita,” kata Gottschall, “tapi kita tidak bisa lari meninggalkan cerita.” Selalu ada cerita di mana-mana.

Cerita tidaklah berakhir dalam bentuknya sebagai narasi-narasi yang tertuang atau termediasi oleh perangkat-perangkat, melainkan juga memperoleh jelmaannya sebagai narasi yang dimediasi oleh imajinasi-imajinasi kita sendiri. Dan cerita selalu menarik siapapun bagai medan gravitasi yang tak terhindarkan.

Ketika kita bermimpi, misalnya, kita sebenarnya sedang terjerat dalam sebuah cerita di malam hari, sebuah “halusinasi sensorimotor yang kuat dengan struktur naratif” yang isinya selalu tentang “pertarungan” atau “perlarian”, dan, menurut Gottschall, “kita menjalani mimpi mirip dengan menjalani kisah hidup selama lebih dari enam tahun yang padat dari 70 tahun kehidupan kita.” Saat kita terjaga, kita pun masih terus menjalani cerita.

Melamun, kata Gottschall, juga adalah cerita; setiap kali pikiran kita bosan dan tidak sedang disibukkan oleh tuntutan tugas-kerja, kita akan berada pada “waking mind’s default state” yang memungkinkan kita untuk menyaring fragmen-fragmen imaji tentang segala keinginan (atau ketakutan) yang menjadi kenyataan. Dan, konon, “kita menghabiskan sampai delapan jam sehari untuk berfantasi dari sepertiga kehidupan kita di muka bumi.”

Begitu pula dengan fenomena beragama. Jika kita membolak-balik kitab suci dari agama apapun, kita juga akan menemukan beragam antologi cerita, seperti: Kejatuhan, Air Bah, Malaikat Jibril yang membedah Muhammad, atau Prometheus yang mencuri api Olimpia. Siapapun kita yang beragama, pasti akrab dengan cerita-cerita agamanya masing-masing. Sebab sedari kecil (dan mungkin sejak dalam kandungan), cerita-cerita seperti itu selalu menemani (untuk tidak mengatakan ‘menghantui’) dan menjadi landasan hidup kita. “Sepanjang sejarah spesies kita, fiksi suci telah mendominasi eksistensi manusia,” kata Gottschall, “dan agama adalah ekspresi tertinggi dari dominasi cerita atas pikiran kita.”

Demikian, apa yang kita sebut sebagai kisah hidup yang di dalamnya berisi identitas hingga tindak-tanduk kita, bagi Gottschall, tidak lain hanyalah kelindan “mitos-mitos pribadi” tentang siapa kita jauh di dalamnya—dari mana kita berasal dan bagaimana kita bisa menjalaninya. Kita hidup selalu berlindung dalam cerita-cerita yang akrab; senang mencari pelarian dalam film, novel, atau dongeng agama; juga suka mendengar cerita-cerita motivasi, tertarik pada zodiak, motto, slogan, quotes, prinsip, ideologi, utopia; dan kadang menyamakan atau menemukan diri kita sebagai pahlawan dalam mitos kuno atau tokoh-tokoh protagonis dalam cerita-cerita yang kita lihat atau dengar. Itu semua bisa terjadi karena karakter pikiran manusia pada hakikatnya adalah “pikiran yang mendongeng” (storrytelling mind).

Derajat keterendaman kita dalam dongeng konvensional mungkin tidak se-radikal Hitler, Lenin, dan tentu saja, Don Quixote. Namun relatif pasti bahwa setiap orang punya sisi radikalnya masing-masing terhadap fiksi yang didiktekan kepadanya. Seseorang lelaki bisa saja mau meledakkan dirinya dengan bom karena fiksi tentang ‘bidadari surga’, tapi lelaki yang lain bisa saja mampu merokok lima bungkus per hari gegara fiksi dalam iklan rokok menggambarkan mitos tentang ‘pria sejati’.

Demikian halnya seseorang bisa saja rela menjaga nyala lilin semalam suntuk di depan kantor polisi hanya karena figur politik yang dikiranya Robin Hood atau anak Tuhan sedang diperlakukan tidak adil, tapi seseorang remaja milenial bisa saja tiba-tiba depresi dan menangis guling-guling hanya karena tidak sempat menjalankan ritual berjamaah menonton sekuel film Star Wars yang terbaru.

“Hidup menggonggong kita,” kata Gottschall, “kita bersembunyi darinya di dalam fiksi.” Dus, dalam kita menjalani hidup, kita sebenarnya lebih banyak menghabiskan waktu di dunia fiksi daripada hidup di dunia riil. Dunia fiksi telah menjadi tempat tinggal kita. Dan di habitat istimewa kita itu, kita hidup beradaptasi bersama lumur-lendir simbol, metafor, analogi, perumpamaan, synecdoche, kiasan yang saling bertaut-tindih dengan cerita-cerita fiksi yang pernah kita baca, dengar, dan saksikan dalam kesadaran maupun ketidaksadaran, atau pun fiksi kolektif yang sengaja di-dikte-kan kepada kita. (Bersambung ke bagian II)

*) Haz Algebra, Penyair, Cerpenis, Dokter, dan Pendiri L’Nous Intitute (Center for Philosophy, Art & Neuroscience)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed