oleh

Jejak Israel Diaspora di Pesisir Manado

Masa lalu kawasan ini disemaraki aroma magis. Ratusan tahun terbancak upacara bernuansa paganis dari keyakinan lama alifuru dan animis. Manusia terpasung oleh mitos, kekuatan amulet, mantra, jimat, dan bayangan-bayangan suram roh para moyang. Bahkan bahasa kotor dan maki seakan kunci meraih berkah alam laut. Inilah masa lalu itu, di Singkil Sindulang.

Sebelum Peter Jesuit Diego De Magelhaes membunyikan lonceng krencengan kecil di tahun 1563, kata sejarawan Sem Narande dalam “Vadu La Paskah”, pesisir yang terletaknya di sekitar muara kali Tondano telah menjadi salah satu titik penting sekaligus bandar pertemuan orang-orang dari berbagai suku bangsa di Timur Nusantara untuk mencari pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Selalu ada perahu layar merapat memasuki muara kali, bersauh, lalu menunggu angin berubah membawa mereka pergi,” tulisnya.

Para pemburu harta dari Cina dan Eropa juga mewarnai kawasan ini. Mereka datang bersama kisah-kisah perang dan penaklukan. Ini sebabnya, empat abad lalu, perkampungan Singkil Sindulang menyimpan jejak orang-orang keturunan Spanyol dan Portugis. Mereka menetap dan membangun kampung-kampung Borgo di tepi pesisir, meninggalkan tradisi tari Katrili dan Volka yang saat ini menjadi kesenian masyarakat Borgo.

Empat abad perang dan kolonialisme itu tulis Narande, tak hanya menelan banyak korban jiwa, tapi juga menjumpakan masyarakat di sini dengan ke-Kristen-an. Sebuah musim semi dalam pertumbuhan iman, pengaharapan, dan kasih dalam persekutuan orang-orang yang dulunya tercerai berai oleh perang, perbudakan dan alienasi.

Maka tak berlebihan bila kawasan pesisir dari Tanah Minahasa ini disebut “Israel diaspora” mula-mula di Sulawesi Utara. Israel diaspora adalah sebuah istilah bagi umat Allah yang berada di luar teritorial negara Israel.

Semuanya bermula ketika 1500 orang rakyat bersama Raja Manado Kinalang Damopolii dan Raja Siau Posuma menerima sakramen baptisan dari Peter Jesuit Diego De Magelhaes (Vadu La Paskah). Peristiwa baptisan itu ditegaskan sebagai awal mula perjumpaan masyarakat alifuru dan para penganut animisme yang mendiami kawasan pesisir ini dengan kekristenan yang datang bersama kapal-kapal dagang Spanyol dan Portugis yang mencari rempah dan kebutuhan makanan lainnya bagi kebutuhan pasar-pasar Eropa.

(baca juga: Empat Eksekusi Mati Dijatuhkan Belanda Kepada Raja Santiago)

Mesionaris D. Brilman dalam “Onze Zendingsvelden, De Zending op Sangi-en Talaud-eilanden”, membenarkan adanya efektuasi yang luar biasa dalam kehidupan iman jemaat dan masyarakat di lingkungannya sesudah 14 hari Peter Diego De Magelhaes membaptis 1500 orang jemaat yang pertama sekaligus bersama 2 orang Raja yaitu Raja Manado dan Raja Siau.

Kesaksian yang sama juga ditulis dr. Godee Molsbergen dan Wessels, Schwengke, Peter Muskens, dan buku dari Dr. Muller Kruger, seorang dosen yang pernah mengajar di sekolah tinggi Theologia Jakarta.

John Rahasia, sejarawan dan penulis buku “Tagaroalogi” dalam ceramahnya di gereja Patmos Bunaken tahun 1980 menjelaskan, 5000 anggota jemaat yang ditemukan Ds. Werndly di tahun 1707 di Manado adalah produk dari penginjilan masa Portugis .

“Kita mendapatkan data pada tahun 1563 Peter Diego De Magelhaes datang dari Ternate. Ia dijemput oleh Raja Manado waktu itu, Kinalang Damopolii dan Raja Siau Posuma bersama 1500 orang rakyat. Raja Posuma sendiri adalah putra dari Raja Lokongbanua yaitu raja pertama di kerajaan Siau. Kedua Raja serta 1500 orang itu meminta Peter Diego De Magelhaes dari gereja Roma Katolik, zaman Portugis; untuk dibaptis!” (Valdu La Paskah, 1980, 333).

Sebelum kedatangan Ds. Werndly tahun 1707, pendeta Ds. Montanus sebagai pendeta Belanda pertama yang datang ke kawasan ini menemukan segolongan orang yang merupakan Jemaat Kristen di pesisir Manado di tahun 1675. Hal ini menegaskan dimana lebih dari dua setengah abad sebelum GMIM lahir di tahun 1934, sudah ada jemaat Kristen di Manado Utara.

“Proses kehidupan kekristenan sudah berjalan. Bukan baru mulai. Bukan belum berwadah apalagi berlembaga. Bukan belum berbentuk dan berwujud. Proses kehidupan kekristenan di wilayah Manado Utara sudah berjalan lebih jauh ke depan dan jauh lebih lama dalam kristalisasi penginjilan sebagaimana almanak kelahiran organisasi GMIM,” tulis Narande.

Catatan sejarah jemaat-jemaat GMIM di kawasan Wilayah Manado Utara II yang saat ini berjumlah 7 jemaat, dan juga pada umumnya sejarah seluruh jemaat di kawasan Manado Utara hingga pulau-pulau sekitarnya menegaskan hubungan yang erat cikal bakal kehidupan berjemaatnya itu dengan peristiwa pembaptisan Peter Diego De Magelhaes di tahun 1563.

(baca juga:Prahara Cawan Kosong di Perjamuan 1955 dan Hancurnya Sebuah Jemaat)

Kendati begitu, pada tahun 1675 saat Pendeta J. Montanus mengunjungi Manado, ia mendapati jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah, hingga pada tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing untuk bertugas di Manado. Kemudian sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia, sebab kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik, kutip dari Prof Dr I.H. Enklaar: Sejarah Gereja Ringkas, 81, 1966.

Alur sejarah kekristenan di kawasan pesisir Manado ini sangat berbeda bila dibanding dengan ikhwal kekristenan di pedalaman Minahasa yang diperkirakan baru teretas baik pada permulaan abad ke XIX, yang ditandai kedatangan dua pendeta berkebangsan Jerman yang diutus Gereja Protestan Belanda, Riedel dan Schwazrs di tahun 1831.

Kekristenan di Minahasa sesungguhnya telah dimulai sejak permulaan abad ke XVII. Pada tahun 1619 misi injil Spanyol telah mengalihkan penyebaran misi ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir.

Menurut surat Pater Blas Palamino tanggal 8 Juni 1619 –sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622– menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para missionaris asal Spanyol. Para Walian menolak dan melarang para missionaris Spanyol masuk ke pedalaman Minahasa.

Dalam catatan sejarah jemaat GMIM Nazaret Tuminting yang resmi berdiri pada 17 Maret 1933 atau 1 tahun lebih tua dari usia GMIM, dipaparkan dimana gereja itu tumbuh dari sebuah organisasi kristiani yang bernama “Hosana Ambang Susah” yang didirikan di kisaran tahun 1850 oleh orang-orang Sangihe Talaud yang beragama Kristen, yang mendiami pesisir Manado Utara.

(baca juga: Kisah Pendeta GMIM Esentrik dan Revolusioner di Masa Pergolakan)

Catatan itu mengambarkan sebuah arus bolak-balik perjalanan injil Kristus pasca pembantisan Raja Posuma dari Siau di Pantai Sindulang, yang kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama memicu perkembangan jumlah umat Kristen di Siau menjadi 25.000 orang. Serta atas bantuan raja Posuma pada 9 Oktober 1568 Peter Makarenas membaptis 10.000 orang di Kalongan, Sangihe.

Benih kekristenan itu juga menyebar ke Talaud yang ketika itu kawasan pulau-pulau Talaud merupakan daerah-daerah yang berafiliasi dengan kerajaan Siau dan kerajaan-kerajaan Sangihe. Perkembangan yang pesat dalam kehidupan kekristenan di Sangihe Talaud dari buah kerja para missionary Katolik, dalam kurun waktu berikutnya menjadi akar yang kuat dalam pertumbuhan jemaat-jemaat di kawasan diaspora Manado Utara.

Sementara Gereja Bethanie Singkil Sindulang yang teritorial jemaatnya adalah lokasi dari peristiwa pembaptisan di tahun 1563, akar kekristenan awal jemaat ini sudah pasti dari peristiwa Baptisan pertama itu. Menurut catatan Sem Narande, peristiwa pembabtisan oleh Peter Diego De Magelhaes tak saja menjadi akar perkembangan kekristenan di Manado Utara, justru menjadi tonggak sejarah perjalanan Injil Kristus di Sulawesi Utara.

(baca juga: Dari Diego De Magelhaes Menuju GMIM)

Bangunan pertamanya Gereja Singkil Sindulang berdiri di tahun 1903 masa pendeta Hendrik Sinaulan. Gereja itu menjadi salah satu pusat Paroki pelayanan yang mewilayahi kawasan Manado Utara, dari 3 paroki di distrik (Rayon) Manado, sejak berdirinya Gereja Protestan Belanda di tanah Minahasa.

Di kawasan daerah suku Bantik, di kurun waktu yang hampir bersamaan dengan gereja Singkil Sindulang, telah berdiri Jemaat Protestan Bengkol. Penempatan tenaga pendeta ke Jemaat Bengkol oleh Sinode GMIM sudah berlangsung sejak tahun 1935, atau 1 tahun setelah GMIM bersinode.

Bila muncul pertanyaan, siapa pembawa proses kekristenan itu di Manado Utara? Jawabannya, ialah Allah sendiri. Karena, meski pekerjaan misi dan pelayanan Peter Diego De Magelhaes dilakukan dengan tatacara dan dogma Gereja Roma Katolik masa Portugis, kedua orang Raja dan 1500 orang rakyat bukan dibaptis atas nama gereja Roma Katolik, tetapi dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.

Tidak ada kalimat terputus dalam Firman antara saat pembaptisan pertama dari Peter Diego De Magelhaes dengan gereja dan jemaat GMIM di kawasan Manado Utara saat ini, atau dengan gereja dan jemaat GMIM lainnya atau gereja dan jemaat Protestan lainnya di seluruh Sulawesi Utara, tulis Sem Narande.

(baca juga: Bung Besar di Atas Mimbar Gereja)

Buah iman yang dipetik oleh gereja dan jemaat GMIM di Manado Utara adalah tetap benih-benih Firman itu juga ditaburkan dan berakar selama lebih dari 4 abad sebagai kabar baik dari pesisir ini. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed