oleh

Monodi Menyambut Senja, dan 7 Sajak Amato Assagaf

MANODI MENYAMBUT SENJA

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini

bukan menunggu
tidak menghitung
hanya mengabur

sebuah garis merah

pada hari ke dua belas
kabar itu tiba
kau bunuh diri dengan mata
yang masih menyanyi

apakah aku harus menangis
atau mengingat bau rambutmu?

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini

hujan tidak turun
hari belum senja

SIUL

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

ketika matahari terbit
gautama menjadi buddha
udara berubah tipis
di bawah pohon boddhi
burung-burung enggan berkicau
gautama bersiul
dunia memasuki abad dua satu

ariana hanya dongeng
yang aku ciptakan
di hari pemakamanmu
ketika matahari tenggelam
dan hari enggan jadi malam
ariana bersiul
aku tak pernah pulang

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

DENGAN NAMA DAN JENDELA

Di antara perih, rasa cemas,
dan mimpi buruk, sebuah nama
tidak akan memberimu
masa depan seperti jendela.
Kau tidak bisa membukanya
dan menemukan pagi
atau untuk bertegur sapa.

Kau memang bisa menuliskannya
dan menemukan kenanganmu di situ.
Bahkan kau juga bisa melupakannya
tanpa harus menghapusnya.

Tapi sebuah nama tidak seperti jendela.
Ia tidak memisahkan antara yang di dalam
dengan yang di luar.
Antara kerinduanmu pada sinar matahari
dan suara yang memanggil-manggil.

SAMO

Bagaimana kau akan menafsirkan tembok
dengan tangan yang melupakan puisi?
Jarak pada ruang adalah dunia dua dimensi
dan di situ kau bisa menemukan tubuhmu.
Bahasa berulang dalam gambar dan gambar
menjadi gambar; puisi pada tembok untuk
nasib berbau sunyi.

Aku melihatmu berduka dan tembok itu
masih kosong. Aku tahu, Samo sudah mati.

AKU MENCURI PETANG DARI LUKISAN JAYA MASLOMAN

Sudah aku tentukan tujuan, tinggal jalan
untuk ditempuh dan kaki pada warna.
Sebingkai kanvas di dalam kepala mengantar
musik lamat-lamat. Sekali terlihat seluruh
irama, tanganmu mengulang suara.

Aku mendengarnya, nyaris tanpa gradasi,
semata abstraksi. Sebuah cara yang mulia
untuk mengatakan bahwa aku telah lupa
bagaimana tersenyum tanpa terlihat tua.

Aku melihatnya, dengan Pollock dan Rothko,
dengan kucing dan langit, dengan gelisah dan
birahi, dengan usia yang sia-sia memaknai
hidup dan kegembiraan menemukan petang
di antara warna-warna terang.

Dan aku mencurinya dalam sebuah pameran
yang berlumur air liur.

PANGGUNG UNTUK JENADI

Di atas panggung, Jenadi adalah mimpi tua
yang tak pernah bisa mati. Suaranya melengking
dari semangat yang getir. Geraknya sekelibat
duka dalam puisi-puisi Sapardi.

Dia selalu menolak untuk senantiasa ada
dengan membunuh dirinya di dalam lakonnya.
Lalu penonton terpanggang haru, waktu berjalan
mundur, dan setiap kata yang dia ucapkan berubah
menjadi burung-burung kecil yang meneteskan
cemas dari kepak sayapnya. Tapi dia akan lahir
kembali setelah itu. Setelah lakon usai dan
kesepiannya dimulai.

Di atas panggung, Jenadi adalah tubuh yang mudah
untuk kita lupakan. Keindahan yang membunuh nafsu
makan. Kebenaran yang murung dan menjengkelkan
seperti cerita Tuhan yang terluka di bukit Golgotha.

Tapi dia bertahan. Naif bagi kebebalan kita, sengak
bagi kecemburuan kita. Menyusuri Jakarta dengan
setangkai mawar patah, dia mencari panggung untuk
sebentar melupakan satu-satunya takdir yang selalu
mengganggu tidurnya; dirinya sendiri. Di tempat itu,
di bawah cahaya, di luar dirinya, di depan berpasang-
pasang mata, dia akan menafsirkan ulang seluruh
pengetahuan kita tentang manusia.

Panggung untuk Jenadi adalah Karbala bagi Husain,
padang darah dan air mata.

KEMATIAN ITU BERWARNA BIRU

Kematian itu berwarna biru.
Jatuh satu-satu dari biografi tanpa alas kaki dan
Ucapan selamat ulang tahun bernilai 138 kilobyte.
Setelah tukak lambung dan mimpi buruk,
manic depressive, kebebalan sosialisme,
dan tas kertas daur ulang The Body Shop.
Setelah hipotensi, John Galt dan Steve Jobs,
cita-cita yang jadi usang di usia 40andan
meditasivipassana di kamar 202 hotel bintangtiga
dengan Sigi yang tak pernah beranjak dewasa.
Setelah gula darah di bawah 100,
Dua bungkus rokok American Blend,
tehmadu, waham skizofrenik dan
video porno dengan artis toket gede
dilayar 11 inci laptop second hand.
Setelah semuanya, aku duduk.
Dan meja itu masih tetap kosong,
tidak memberi meski sekedar ungkapan terakhir,
kenangan ketika usia kita baptis dengan pertaruhan.
Entah darah entah nausea.

Kematian itu berwarna biru.
Duka yang tersisa dari pesta perjamuan terakhir,
Ungkapan kasih sayang beraroma Etienne Aigner.
Cermin yang kau berikan sejenak sebelum orgasme,
teori evolusi, bobos, Jason Mraz dengan Geek in the Pink
dan aku yang lupa pakai kondom.
But that’s okay, baby. Hidup terlalu ramai
untuk dipikirkan dalam kerangka dosa dan pahala
atau, katakanlah, tiga belas kaki di bawah permukaan tanah.
Sementara aku lebih suka membayangkan kremasi dan
kehidupan kembali; gagasan yang lebih sederhana dari
dongeng surga dan neraka.
Generasiku tidak dibentuk dengan romantisme, kekasihku.
32 tahun Orde Baru, Metalica lalu Nirvana
dan aku justru berakhir dengan Lomba Cipta Lagu Remaja,
Dhenok Wahyudi, dan reformasi yang memberi Jokowi
juga turunan nabi dengan pentung dan makian.
Jadi bayangkanlah betapa membosankan usia yang mesti aku daki.
Tuhan yang itu-itu saja, agama tanpa estetika,
ekstasi anti kapitalisme dalam pidato politik
yang terdengar seperti desah masturbasi.

Kematian itu berwarna biru.
Api Phoenix di ruang belakang samsara,
kearifan 129 karakter tanpa spasi dalam status facebook.
Sekarat setelah empat butir lansoprazol
dan depresi yang membanting nurani,
menghabiskan waktu di antara muntah darah dan Caligula.
Karena itu, tidak ada yang terlihat manis
bahkan sekedar sebagai hiasan pada
beratnya upacara menjadi manusia;
Edvard Munch melukiskannya
sebagai kegilaan yang menjerit.
Sementara di jembatan yang sama aku meniti usia
dengan kegilaan yang diam-diam berubah bentuk
menjadi poci Goenawan Mohamad.
Lama waktu dalam jumlah retak
yang memberikan bingkai jendela atau,
jika mungkin, semacam koleksi biografis
yang membuka tabir bahwa
di luar hati —di dalam teologi Abrahamik—tuhan
tidak lebih dari sutradara Hollywood papan bawah.
Padahal aku hanya ingin membaca Knut Hamsun
dan memahami hidup dengan rasa lapar
dalam prosa Norwegia akhir abad 19.

Kematian itu berwarna biru.
Kekasih yang memberi hidup dengan vagina basah,
asap ganja, dan kapitalisme tua di layar Bloomberg.
Vertigo di halaman 97 Love in the Time of Cholera,
ketika cinta, passi, dan penyakit adalah mati
yang membawa kita ke banyak ruang,
jangka hidup yang berulang-ulang,
rahim demi rahim,
pagi di dalam puisi romantik Eropa,
perjalanan Herman Hesse dengan spiritualitas Lady Gaga,
dua puluh enam abad tubuh dalam berlimpah-limpah dukkha.
Keriuhan yang sama,
mara di tengkuk Gautama,
menolak kematian atas nama cinta
dan dering telepon
dan bau sperma kering
dan Theory of Everything
dan Matinya Pedagang Keliling
bersama kenangan di awal tahun 90an,
Cikini Raya 73, Teater Luwes,
Arief Wijayanto, Sri Ismarida,
Teguh Sugiarto, Hanna Bahagiana
dan sebotol vodka di kantong celana.
Resah itu tidak meninggalkan apa-apa,
padahal aku hanya ingin onani
sambil membayangkan Ayu Utami
dengan blazer dan boots dan bibir yang beranjak tua.
Tapi mungkin mati tidak juga sesepi itu,
tidak dilahirkan waktu fajar, tidak menabungku
segobang segobang.

Kematian itu berwarna biru.
Jejak yang mengapung di keluasan semesta,
keangkuhan yang kita jumlahkan di dalam statistik demografis.
Manusia, dalam bahasa, merenungkan hidup di batas
gerak dan waktu dan ruang dan selepas itu
adalah absurditas yang memecahkan kepala.
Kitab suci menyebutnya sebagai batas pertaruhan,
Kristus mengecapnya dengan lambung yang terluka,
gastritis akut setelah jamuan roti dan anggur.
Aku merayakannya dengan Sigi yang tak pernah dewasa,
diam, telanjang dan mengangkang
dengan senyum seperti cinta di dalam novel Lolita.
Ah, ya, ya, ya, ya, Santa Maria, Santa Maria,
Santa Maria, Mater dei,
ora pronobis peccatoribus,
nunc et in hora mortis nostrae.
Dosa telah membuat kematian menjadi begitu sentimentil.
Padahal hidup, meski tidak sekering Hukum Kedua Newton,
adalah dosa yang digandakan oleh birahi.

Kematian itu berwarna biru.
Anak-anak dari masa lalu yang menghilang
tidak di kedalaman laut tak juga di keluasan langit.
Yang datang seakan kembali pulang
setelah berbilang zaman tersimpan dalam kutukan
para nabi penyembah tuhan yang melayang-layang.
Rindu yang tak segan disergap kesenyapan,
kekasih di seberang jalan, perawan perempuan
penjelmaan perjalanan yang penghabisan.
Aku dicekam kelam terpuruk dalam tanya,
siapakah dia yang tiba saat nama tak lagi berwajah?
Apakah sejarah? Ataukah genetika?
Kamadeva di unggun Smaradahana?
Ataukah semata lingga?
Mundur dari batas abstraksi ketika aku pertama kali
menghirup bau dunia, mengalami daging dalam nafsu
makan dan bersenggama.
Berdiam di dalam tarian moha,
mengumpulkan segala kamma,
lalu tua di tengah generasi hoax, selfie, dan meme.

Kematian itu berwarna biru.
Lamban dan kering dan menggerutu,
pucat dan gemetar seperti ragu, seperti ibu
mengambil dariku yang bukan milikku.
Meninggalkan aku dalam waktu, berwarna kelabu,
membeku seperti batu, seperti bapakku
seminggu sebelum berlalu, menjadi rindu.
Aku ingin kembali ke tempat itu, tujuh puluh tujuh
persen kapilavastu, sisanya basah embun subuh,
tanah berdebu, tuhan pencemburu dan manusia rapuh
dalam dongeng orang-orang Yahudi yang menjadi suci
di kamp konsentrasi pertengahan abad ke dua puluh.
Aku selalu berharap, pada saat itu, saat langkahku
meninggalkan tanah dan tubuhku membilang anatta
seperti tubuh-tubuh dalam lukisan Rothko dan Malevich,
ada yang akan merapalkan mantra dari keranjang Sutta,
menyelesaikan cerita, mengumumkan parinibbana.
Tapi aku masih di sini, bersama tuhan yang mati
dibunuh puisi, bersama hidup yang ringkih diburu birahi,
bersama Stanislavsky, Miyabi dan teori ekonomi.

Kematian itu berwarna biru.
Lurus, ringkas, tapi bukan untukku.

ARUM

Dan kepadamu, Arum, adindaku yang berdiam
di pucuk-pucuk daun manakala embun mengkristal,
senapas ketakutan dihembuskan.

Teror yang ditebar dari gua-gua kering,
kabar-kabar yang menekan,
mimpi-mimpi yang mengharu-biru,
kenangan yang memudarakan zaman tanpa celana
dan alas kaki.

Kepadamu, Arum, tak ada nama dalam lingkung harum
bau kemenyan sejarah para pemuja tak hayul selain namamu, akudatang.

Membawa ketidaktahuan yang murni dan berhati bersih.
Melewati tingkap-tingkap kubah dan pekuburan
manusia-manusia tanpa dangka.

Ini yang pertama aku bagimu.
Ini yang pertama ku khianati tuhan-tuhan para peziarah.
Ini yang pertama aku kembali pada keanggunan birahi.
Dan inilah, untuk yang pertama, ketakutan itu bergetar.

Arum, adindaku yang telanjang dengan kulit tembaga,
aku mabuk birahi. Setelah muak pada kepastian-kepastian tolol dan keras kepala, aku mencarimu.

Meski ku tahu dengan rindu yang lugu
bahwa pencarian ini tidak akan pernah berakhir,
namun aku tak lagi sanggup menanti.

Dan bagaikan para rasul orang-orang yahudi,
Kulepaskan jubahku. Telanjang mencari wahyu tak bermula.
Tempat dari mana udara ketakutan mengisi paru-paru sejarah.

Adindaku, telah ku bakar semua petaka rena wajahmu tak berarah.
Dan bersama birahi yang menggeletar di setiap titik keringatku, ku tinggalkan segala pengetahuan yang begitu rutin mencatat kebenaran
dengan hasrat yang mencekam akan keabadian.

Tidak. Aku sekarat oleh rinduku padamu.
Maka biarkan ku nikmati setiap langkah
dalam pencarian ini. Karena kematian
hanya mungkin ketika birahi memudar;
ketika ketakutan yang begitu bernafsu
melumat mu dalam persetubuhan ini
menjadi senyap.

Tapi ia bukan damba yang begitu naif
dan telah kutinggalkan itu.
Ia adalah huru-hara,
kekacauan yang berwarna-warni,
gemerlap ketaklukan pada hasrat daging.
Perayaan tubuh dan pertukaran nafsu.
Segala yang tak suci dan memaki.

Arum, kaulah dosa itu. Segar dan merangsang.

Maka sampailah aku pada setiap hingga; titik demi titik.
Dan kutebarkan ketakutan itu sebagai benih yang tertanam dalam rahim para pelacur.

Dan kaulah Arum, pelacur dari para pelacur,
mereka yang dilupakan karena teror kebenaran birahi
yang menggentarkan itu. Mimpi dari malam
yang tak pernah menemu pagi. Pasir yang diinjak
dengan keangkuhan manusia-manusia lemah,
namun selalu dirindukan oleh keperkasaan gelombang.
Bunda yang takpernahtercatatdalamsejarah para nabi.

Dan kepadamu, Arum, hanya kepadamu.

*) Hidupnya Untuk Puisi, Teater, dan Filsafat, demikian Amato Assagaf, penyair fenomenal dari Manado. Puisinya dikenal mampu menyihir pembaca, dan dibicarakan pada berbagai diskusi kalangan sastrawan dan intelektual di Sulawesi Utara. Ia termasuk penyair yang tak banyak melahirkan puisi, namun setiap puisinya memiliki estetika yang tinggi dan nilai puitika yang dalam.

Ini sebabnya, setiap kali puisinya muncul di media massa, langsung menjadi bahan diskusi di mana-mana. Puisinya benar-benar ditunggu para penggemarnya. Kendati puisinya sangat layak dibukukan, ia mengaku tak memikirkan hal itu.

“Urusan menerbitkan buku bukan urusan saya. Tugas saya adalah menulis,” ungkapnya.

Nyaris setiap akhir pekan, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di beberapa kota di Sulawesi Utara untuk membaca puisi atau mementaskan teater bersama kelompoknya, lalu menggelar diskusi. Ia mengabdikan hidupnya untuk puisi, teater dan filsafat.

Ia lahir di Manado, 14 Januari 1970. Tamat dari SDN 34 Manado melanjutkan ke SMP Kristen YPKM Manado, Pesantren YAPI, Bangil, Jawa Timur, kemudian ke SMA Garuda Manado, lalu ke IKJ jurusan teater.

Pernah bekerja sebagai Creative writer di Irjago Sinema dan Tim Kreatif “Regu Kerja Didi Petet,” sebuah kelompok kerja film dan teater yang didirikan oleh Alm. Didi Petet dan Yayu Unru yang berkedudukan di Jakarta. Juga sebagai penulis filsafat publik diberbagai media massa.

Ia pendiri “Amagi Indonesia” bersama Juan Mahaganti, seorang ekonom libertarian asal Siau. “Amagi” adalah sebuah organisasi nir-laba yang dimaksudkan untuk melakukan pendidikan gagasan-gagasan Libertarian. “Amagi” berkedudukan di Manado. Pembentuk “Mises Club Indonesia,” sebuah kelompok studi Ekonomi Mazhab Austria yang berkedudukan di Manado, dan Pendiri “Padepokan Puisi Amato Assagaf,” sebuah kelompok kesenian yang berkedudukan di Manado.

Menulis sejumlah buku, di antaranya “Merenungkan Libertarianisme” terbitan Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit, Jakarta, Desember 2012. “Buku Aktingnya Didi Petet” 2018. Kini pengajar pada “Pengajian Filsafat,” sebuah kelompok belajar filsafat yang berkedudukan di Manado.

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed