oleh

Semua Bagian Pala Bisa Dimanfaatkan

Oleh: Greijuandy Liempepas SSi

PENINGKATAN luas areal dan produksi pala perkebunan rakyat dari tahun 2015, 2016 dan 2017 di Provinsi Sulawesi Utara yaitu pada tahun 2015 luas areal 19.374 Ha dengan produksi 4.321 ton, tahun 2016 luas areal 19.396 Ha dengan produksi 4.376 ton, tahun 2017 luas areal 19.399 Ha dengan produksi 4.398 ton. Data statistik tersebut diperoleh dari Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia.

Salah satu kabupaten di Sulawesi Utara yang mengandalkan buah pala sebagai komoditi unggulan yaitu Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Produksi buah pala di Sitaro pada tahun 2015 sebanyak 799 ton. Hal ini berdasarkan data statistik dari Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia.

Tanaman pala berperan sangat penting di bidang perekonomian kabupaten Sitaro. Jenis tanaman pala di kabupaten ini yaitu termasuk dalam klasifikasi Myristica fragrans Houtt. Budidaya tanaman pala di kabupaten ini masih dilakukan secara tradisional.

Nurdjanah dalam jurnal tentang Teknologi Pengolahan Pala (2007) berpendapat bahwa daging buah pala dapat dilakukan pengolahan menjadi produk makanan dan minuman seperti manisan, jeli, dodol, minuman beralkhol, sari buah dan asam cuka.

(baca juga: Dari Kinali ke Pasar Eropa, Jalan Berliku Pala Siau)

Biasanya nilai ekonomi yang tinggi dalam buah pala itu terletak pada senyawa sekunder bagian tanaman tersebut. Salah satu senyawa sekunder yang terdapat pada hasil penyulingan biji, daging dan fuli pala yaitu minyak atsiri.

Minyak Pala tersebut dapat diperoleh dengan berbagai teknik penyulingan yaitu perebusan, pengukusan, dan dengan uap langsung. Manfaat dari minyak atsiri sangatlah banyak serta dilakukan berbagai macam penelitian. Menurut Takikawa dkk pada tahun 2002 dalam jurnal Biosci Bioeng tentang (Antimicrobial Activity of Nutmeg Against Escherichia coli 0.157). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya aktivitas antimikroba dari pala.

Selain itu, minyak atsiri bermanfaat sebagai antioksidan. Hal ini telah dilakukan penelitian oleh Chattterjee dkk pada tahun 2017 dalam jurnal Food Chem tentang (Antioxidant Activity of Some Phenolic Constuents from Green Pepper (Piper nigrum L) dan Fresh Nutmeg Mace.

Berdasarkan Drazat (2007) dalam buku Meraup Laba dari Pala berpendapat bahwa khasiat pala juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit muntaber, gangguan pencernaan, gangguan sulit tidur (insomnia), gangguan pada telinga dan menghilangkan rasa lelah serta nyeri haid.

Maka dari itulah tanaman pala memiliki nilai jual yang tinggi. Ekspor minyak pala Indonesia pada tahun 2011 tercatat sebesar 400 ton dengan nilai USD 24 juta. Hal ini berdasarkan dari sebuah artikel yang berjudul tentang Pasar Minyak Atsiri yang ditulis oleh Mulyadi. (*)

 

(Greijuandy Liempepas adalah peneliti dan sarjana Bioteknologi dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Lahir di Manado 14 Juli 1995)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed