oleh

Senam Poco-Poco Mendunia, Ini Sejarahnya

MANADO, BARTA1.COM – Senam poco-poco kini menjadi viral di dunia, pasca pemecahan rekor senam massal ini di Pohon Kasih Mega Manado, Minggu (5/8/18). Kegiatan dalam rangka menyemarakkan Asian Games dilaksanakan secara serentak ditiga tempat yang dua lokasinya adalah tuan rumah Asian Games yakni Palembang dan Jakarta, lalu Kota Manado.

Tarian Poco-Poco adalah jenis tarian modern asli Indonesia yang kemudian banyak dijadikan sebagai gerakan dasar pada senam irama. Tarian ini mengambil unsur-unsur gerakan tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu pada tarian ini dapat dijumpai gerakan seperti melempar lembing, melepas panah dan sebagainya karena memang gerakan-gerakan tersebut banyak terdapat pada tarian-tarian daerah di Indonesia.

Tarian Poco-Poco mulai populer di awal tahun 1998. Pada awalnya, Tarian Poco-Poco hanya dilingkungan yang dikenal dalam kedekatan emosional dengan keluarga, kerabat, dan sanak saudara yang ada di Maluku Ambon,” tutur salah satu guru senam yang berlisensi nasional, Drs Olnius Ma’i, Senin (6/8/2018).

Dia mengatakan Tarian Poco-Poco sebagai gerakan senam irama, sehingga mulai mendapatkan tempatnya di hati masyarakat melalui proses latihan.

Sekretaris Jemaat GMIM Maranatha Karame ini menjelaskan, tarian ini diiringi oleh lagu yang berasal dari Maluku yang juga berjudul poco-poco. Lagu poco-poco diciptakan oleh pencipta lagu berkebangsaan Indonesia asli Ambon yang bernama Arie Sapulette dan dinyanyikan oleh penyanyi yang ternama kala itu bernama Yopie Latul. “Kaset dan CD lagu poco-poco pun disertai dengan gambar gerakan senam poco-poco,” ujarnya.

Ia menjelaskan sejarah singkat Tarian Poco-Poco, terciptanya lagu-lagu poco-poco ini. Semua berawal dari sebuah pesta dan jamuan makan yang dihadiri oleh sang pencipta lagu, Arie Sapulette. Kala itu, sambung dia, Arie Sapulette terpikat pada seorang gadis yang sedang membawakan tarian tradisional Papua, yaitu Yospan dan Wayase Ambon.

Spontan ia pun membuat sebuah lirik lagu dari melodi gendang yang mengiringi tarian sang gadis tersebut. Dan keterpikatannya pada gadis tersebut pun tercermin dari lirik lagu Poco-Poco yang berbunyi:

Balenggang pata pata
Ngana pe goyang pica pica
Ngana pe bodi poco poco
Cuma ngana yang kita cinta
Cuma ngana yang kita sayang
Cuma ngana suka beking pusing

Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti :

Jalan berlenggak lenggok
Goyangan badanmu gemulai
Bentuk tubuhmu indah berisi
Hanya kamu yang aku cinta
Hanya kamu yang aku sayang
Hanya kamu suka buat aku pusing

Arie Sapulette begitu terpikat dengan kegemulaian dan kelincahan gadis penari tersebut dalam membawakan tarian sehingga secara spontan ia mengeluarkan kata poco-poco. Dan sejak saat itu, tarian dengan melodi rentak gendang seperti yang dibawakan oleh gadis tersebut dinamakan Tari Poco-Poco.

Gerakan dasar Tari Poco-Poco relatif cukup mudah sehingga sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, saking di gemarinya, Tari Poco-Poco lalu dijadikan semacam senam irama oleh murid-murid sekolah di Indonesia. “Gerakan tarian poco-poco adalah dua langkah kecil ke kanan, kembali ke tempat, lalu mundur satu atau dua langkah ke belakang, kemudian maju kedepan sambil berputar. Begitu seterusnya, gerakan tersebut terus di ulang-ulang. Prinsipnya adalah memutar tubuh ke seluruh penjuru mata angin lalu kembali ke tempat semula,” bebernya.

Saat ini, Tarian Poco-Poco telah berkembang dengan pesat sehingga memiliki sekitar 50 variasi gerakan. Iringan musiknya pun menjadi beraneka ragam, dari iringan musik poco-poco versi dangdut, house music (disko) sampai Cha-Cha.

Kontroversi Pengharaman di Malaysia

Beberapa waktu yang lalu, Tarian Poco-Poco kembali mendapat perhatian luas setelah pernyataan sepihak negara tetangga kita yang memfatwakan haramnya Tarian Poco-Poco ini. Dalam pernyataan tersebut dikatakan bahwa Tarian Poco-Poco bukanlah berasal dari Indonesia melainkan dari Filipina. Tarian ini juga dikatakan ditarikan oleh umat Kristiani di Filipina sebagai prosesi ibadah mingguan yang tercermin dalam gerakannya yang membentuk tanda salib.

Namun fatwa haram tersebut sebenarnya sangat tidak berdasar. Dikatakan sangat tidak berdasar karena menilik sejarah dan asal-usulnya, tarian ini adalah jelas tarian asli dari Budaya Indonesia. Dibuktikan dengan tarian ini sudah ditarikan sejak lama terutama di daerah timur Indonesia. Gerakan yang dibuat pun sama sekali tidak membentuk tanda Salib melainkan membentuk delapan penjuru mata angin. Selain itu, fatwa tersebut tidak datang dari badan resmi yang boleh mengeluarkan fatwa halal haram melainkan dari oknum tidak bertanggung jawab yang menyampaikan pesan tersebut melalui pesan berantai dalam email. Dari email tersebut, pesan ini kemudian meluas melalui blog-blog pribadi.

Untungnya fatwa haram tersebut tetap tidak dapat menghentikan perkembangan Tarian Poco-Poco yang kini juga mulai populer ke berbagai penjuru belahan dunia. Terbukti kini Tarian Poco-Poco mulai populer di Negara-negara Eropa seperti Swedia, Belanda, Jerman dan lainnya.

“Namun sayangnya Kini Tarian Poco-Poco lambat laun mulai kehilangan kepopulerannya di tempat asalnya sendiri, Indonesia. Terbukti generasi muda kini justru lebih menyukai tarian asing seperti breakdance dan tarian bernuansa hip-hop lainnya. Padahal sudah sepantasnya bagi kita sebagai pemilik tarian Poco-Poco untuk melestarikannya agar tidak kemudian dilupakan,” ujarnya.

Peliput: Albert Piterhein Nalang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed