oleh

Heboh Pentas “Toxic’ dan Peluncuran “Buku Aktingnya Didi Petet” Amato Assegaf

JAKARTA, BARTA1.COM – Pentas “Toxic” oleh Sena Didi Mime dan Peluncuran “Buku Aktingnya Didi Petet” yang ditulis Amato Assegaf, Sabtu, (4/8/2018) di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) meraih sukses luarbiasa.

Amato Assegaf adalah seniman Manado alumni Institut Kesenian Jakarta Prodi Teater (Seni Pertunjukan), juga dikenal sebagai budayawan dan filsuf.

Reiner Emyot Ointoe. (FOTO: ISTIMEWA)

Dilaporkan Reiner Emyot Ointoe, pengamat seni yang ikut hadir dalam pertunjukan tersebut, pentas “Toxic” oleh Sena Didi Mime dan peluncuran “Buku Aktingnya Didi Petet” dijubelipenonton. Pementasan Didi-Sena Mime digawangi aktor pemenang FFI 2016 di Manado, Yayuk Uga. “Lebih dua jam penonton disuguhi ‘racun’ pantomim yang sepanjang pertunjukan dibikin terpingkal-pingkal dengan seluruh adegan yang dramatik, tragik dan komikal,” ujar Reiner.

Tak kalah membanggakan katanya, Amato —putra bungsu mendiang tokoh pluralis KH Arifin Assegaf telah menuliskan biografi akting seorang aktor kondang mendiang DidiPetet. Didi Petet adalah aktor multi talenta setelah heboh main sebagai tokoh banci dalam film “Catatan Si Boy” dengan bintang Ongky Alexander.

“Akhirnya, kita boleh salut dan berbangga, hanya seorang Amato-lah yang bisa menuliskan panduan praktis menjadi aktor dengan ‘Metode Didi’ setelah lama kita hanya punya 3 buku seni acting yaitu ‘Persiapan Aktor ’Stanislavski, ‘Bermain Drama’ Rendra, ‘Akting bagi Pemula’ Remy Sylado,” ungkap Reiner.
Dengan hadirnya “Buku Aktingnya Didi Petet” yang ditulis seorang senimandari Manado –yang juga benar-benar menetap di Manado– kata Reiner, setidaknya hamba-hamba kebudayaan di Sulawesi Utara masih punya harapan menghidupkan seni dan kebudayaan, setelah waruga ditenggelamkan oleh rezim yang mengidap “tuna budaya”.

“Ketika hasrat kekuasaan hendak menghanguskan kebudayaan, maka seni-lah pemadam ajaib yang akan menyemprotkan bermetrik ton ide-ide kebudayaan,” ujarnya sambil mengutip Dostojevski –Die Welt wird die Schönheit gerettet–Senilah yang selamatkan dunia ketika politik selalu berupaya keras melumatnya dari keranjang retorika. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed