oleh

Perjuangan Temanku ODHA

BADANNYA tinggi kulitnya putih. Namanya Bastian, cowok 25 tahun asal Kota Manado. Aku dan Bastian sudah saling mengenal sejak tahun 2014 dalam satu kegiatan diskusi komunitas. Kegiatan diskusi tersebut dilaksanakan oleh sebuah lembaga sosial masyarakat yang ada di Kota Manado.

Kemarin subuh, kira-kira jam 02.00 WITA, saya membuka-buka facebook. Kulihat ada postingan dari Bastian. Dalam postingan statusnya dia bilang tiba-tiba terbangun tengah malam dan mendadak kelaparan. Pengen makan sesuatu tapi di meja makan lagi kosong tidak tersedia makanan.

Akupun masuk berkomentar sedikit bergurau dan mencoba mengalihkan perhatiannya. Maksudku agar rasa laparnya hilang dan beralih ke topik lainnya.

Kami berdua mulai membuka percakapan dengan canda-canda kecil. Diapun merespon dengan lancar setiap komentarku. Saking lancarnya percakapan kita, akupun menyarankan untuk pindah chatingan dari akun facebook ke whatsApp. Biar lebih lancar dan bebas ngomongnya.

“Hai Bastian gimana kabarmu. Apa kamu baik-baik saja?” demikian sapaanku padanya pada chatingan WA.

“Aku baik-baik saja, hanya kadang suka terbangun tengah malam dan pengen makan. Dalam kulkas juga hanya ada cabe, bawang, tomat dan rempah-rempah lainnya,” katanya.

“Kalau begitu pesanlah makanan lewat Gofood” saranku padanya.

“Ah, biar saja menunggu sampai pagi, biasanya mamaku sudah bangun dan menyiapkan sarapan”, jelasnya padaku.

“Kamu tahukan, akhir-akhir ini saya berusaha meningkatkan selera makanku, karena kondisi berat badanku terus menurun drastis. Sekarang saja berat badanku tinggal 44 kg dari 60 kg sejak aku balik dari panti rehabilitasi itu”. Lanjutnya.

“Maklum saja, selama kurang lebih 6 bulan aku di panti rehabilitasi, semua kebutuhanku mulai dari pakaian sampai makan minum cukup terpenuhi. Apalagi ditambah dengan nutrisi setiap hari yang selalu tersedia di atas meja makan. Hal Itu mungkin yang membuat diriku sehat bugar dan berat badanku naik. Sampai-sampai kamupun sempat terkaget-kaget ketika melihat diriku saat kamu datang berkunjung di panti itu. Berbeda dengan saat sekarang ini, aku berjuang sekuat tenaga dan berupaya agar kesehatanku terus membaik. Walaupun saat ini kondisiku semakin menurun”. Keluhnya padaku.

“Kamu juga tahu kan aku terus mengonsumsi ARV (Anti Retro Viral) sebagai vitaminku setiap hari untuk seumur hidupku. Kalau dipikir-pikir entah sudah berapa karung obat ARV yang aku konsumsi selama ini. Dari sejak tahun 2012 saat pertama kali terdeteksi terinfeksi HIV (Human Immunodeviciency Virus), aku sudah patuh dan rutin mengonsumsinya. Tak heran lagi kalau ARV sudah menjadi menu harianku. Syukurlah ARV masih dapat gratis atas bantuan dari pemerintah, makanya aku tak perlu keluar biaya untuk mengambilnya di layanan. Paling-paling cuma keluar biaya transport pergi pulang”. Ungkap Bastian setengah memelas.

“Besok pagi aku juga punya jadual ke layanan kesehatan untuk periksa CD4 (*Jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia) di Rumah Sakit Dr Kandou Malalayang Manado. Sepertinya aku akan ganti ARV ke lini 2. Karena ARV lini 1 sepertinya sudah tidak mempan lagi di tubuhku.” Demikian penjelasan Bastian.

“Terus kalau ke rumah sakit saat dilayani dokternya, kamu tidak konsultasi? atau tanya-tanya selain ARV apakah ada program lain seperti pemberian Nutrisi secara kontinyu kepada ODHA.?” tanyaku.

“Biasanya kalau aku di layanan kesehatan dokter hanya memberikan ARV sesuai kebutuhan. Selain itu tidak ada penjelasan apa-apa,” jawabnya demikian.

“Makanya kamu harus tetap semangat, banyak makannya dan istirahat yang cukup. Kalau perlu tambah dengan multi vitamin,” saranku padanya.

Kata Bastian; “Semua sudah, kalau vitamin aku sering beli di apotik dekat rumahku. Kalau bubur kacang hijau sering dibuat sendiri di rumah, katanya biar tambah vitamin dan memicu naik berat badanku. Kamu sendiri kan juga tahu 4 tahun lalu aku doyan ngegym untuk membentuk lagi postur tubuhku yang sempat drop sepulangnya aku dari Jakarta akhir tahun 2012”. Demikian ungkapan Bastian.

Bastian melanjutkan ceritanya.
Pada tahun 2009 dia hijrah ke Jakarta semata-mata ingin mencari pekerjaan di sana. Tak lama berselang diapun diterima bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan swasta. Di Jakarta dia bertemu dengan seseorang namanya Anton, yang pada akhirnya menjadi teman dekatnya. Begitu dekatnya pertemanan mereka sehingga Anton mengajak Bastian untuk tinggal serumah. Pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Menurut Bastian bahwa Anton adalah orang yang sangat cinta terhadap seni tatto. Hampir di seluruh bagian tubuhnya Anton ada tatto bergambar macam-macam. Beberapa kali mereka pergi ke Bali dan melakukan tatto di sana. Bahkan Bastian baru tahu kalau Anton punya banyak teman yang sama-sama cinta terhadap seni tatto.

Pada awal tahun 2012 Anton jatuh sakit. Selama beberapa bulan dirawat di rumah sakit, dokter hanya mengatakan bahwa Anton mengidap sesuatu penyakit. Bastian hanya berpikir itu penyakit biasa-biasa saja.

Pada suatu hari di bulan Februari 2012, Anton menerima kabar duka salah seorang teman baiknya yang sama-sama penyinta tatto telah meninggal. Informasi terakhir yang diterima bahwa teman Anton yang meninggal tersebut adalah ODHA (Orang Dengan HIV AIDS).

Sejak kejadian itu, Anton mengatakan pada Bastian bahwa kalau lagi tattoan mereka suka ganti-gantian satu alat jarum tattonya secara bersamaan. Sejak meninggalnya teman Anton tersebut kelihatan sekali akan perubahan sikap dan kekuatiran Anton setiap hari. Bisa jadi Anton baru menyadari, kalau sala satu cara terjangkitnya HIV adalah melalui jarum suntik yang dipakai bergantian dengan orang lain yang sudah terpapar HIV.

Kekuatiran Anton terhadap dirinya terbukti ketika dia melakukan VCT (Voluntary Counceling and Testing) saat dia rawat di rumah sakit. Tak disangka hasil VCT menyatakan bahwa Anton positif HIV disertai IO (Infeksi Oportunistik) yang sudah lama diidapnya.

Semakin hari kondisi Anton semakin menurun. Meskipun perawatan dan pengobatannya berjalan sangat intensif. Pada bulan Mei 2012 Anton mengembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggal Anton pernah berpesan pada Bastian agar menjaga kesehatannya dan kalau perlu melakukan VCT atau Tes HIV.

Bulan Juli 2012 Bastian melakukan tes HIV dan hasilnya positif. Bastian merasa frustrasi dan keadaan dirinya terus terpuruk. Berat badannya terus menurun dan semangat hidupnya hancur. Sampai kondisi tubuhnya melemah tidak berdaya. Ditambah bebannya lagi kerja dan jauh dari orang tuanya. Akhirnya Bastian memutuskan untuk pulang ke Manado.

Sepulangnya Bastian di Manado keadaan tidak juga berubah. Banyak tekanan yang harus diterima. Kecuali orang tuanya, tetangga, sahabat bahkan teman dekatpun sering saja menstigma. Setiap hari diperhadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Stigma negative selalu diterima Bastian dengan kondisi dan keadaan dirinya. Jawabannya hanya penyakit tuberkolosis atau sakit ginjal jika ditanya.

Kadang terpikir untuk menghabisi hidup namun masih ada sepenggal harapan dengan adanya dukungan keluarga dan segelintir teman dukungan sebaya.

Di akhir curhatan hatinya Bastian mengharapkan, agar ODHA tetap semangat menjalani hidup. Menjaga dan berupaya meningkatkan kesehatan serta secara rutin minum ARV.

Bastian juga berharap agar ODHA jangan dikucilkan atau dirundung. Biarlah ODHA hidup tanpa stigma dan diskriminasi.

(Tulisan ini sempat terhenti karena waktuku banyak tersita oleh padatnya kegiatanku dan ini baru bisa saya rampungkan).

Penulis: Jason Engelbert

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed