oleh

Ketika Opa Mangindaan Menggempur Uni Soviet

Erents Alberth Mangindaan. (foto: wikipedia)

Apa arti bola yang gagal masuk karena membentur mistar gawang? Kesialan. Ada anggapan tim yang melakukan itu akan kalah. Stigma yang umum beredar di kalangan penggemar sepakbola itu konon dicetuskan pertama kali oleh Erents Alberth (EA) Mangindaan.

Bagi kawanua penggemar kulit bundar, lelaki yang akrab disapa Opa Mangindaan ini adalah legenda. Dia mengabdikan hidupnya untuk sepakbola; termasuk merangkai asa bangsa Indonesia ketika lolos ke babakan utama cabang olahraga sepakbola di Olimpiade Melbourne 1956. Dia lahir pada 22 November 1910 dan tutup usia di kampung halamannya, Desa Pondang Kabupaten Minahasa Selatan 3 Juni 2000 pada usia 89 tahun

Banyak yang mengenal ayah mantan gubernur Sulut EE Mangindaan itu sebagai salah satu pendiri PSSI. Namun sedikit yang tahu, Opa Mangindaan punya andil vital pada masa kejayaan sepakbola Indonesia, apalagi saat Timnas Indonesia menahan imbang negara kuat Uni Soviet di perempat final Olimpiade Melbourne 1956.

EA Mangindaan merupakan asisten pelatih Anton ‘Tony’ Pogacnik asal Yugoslavia. Dia diajak Tony menangani Timnas karena berprestasi gemilang membawa PSM Makassar menjuarai kompetisi nasional. Ketika menangani tim Garuda, opa mengajak punggawa jagoannya di PSM yaitu si kaki geledek Rusli Ramang.

Bersama Maulwi Saelan, Ramlan Yatim, Endang Wittarsa serta Tan Liong Houw, skuad Timnas lainnya, Opa Mangindaan berjuang membawa Garuda dalam saga tak terlupakan kontra tim terkuat dunia, Uni Soviet. Indonesia dengan gagah berani menggempur tim yang dimotori penyerang cepat Valentin Ivanov, playmaker Igor Netto, serta kiper terhebat sepanjang masa, si laba-laba hitam Lev Yashin.

Situs berita olahraga FourFourTwo menulis, Indonesia berhasil lolos ke Olimpiade karena dinaungi keberuntungan. Taiwan, lawan main Indonesia pada babak kualifiaksi, memilih mengundurkan diri karena sejumlah alasan. Padahal saat itu Taiwan merupakan salah satu tim terbaik di kawasan Asia.

Keberuntungan Indonesia tak berhenti di situ. Di pertandingan pertama, Ramang dkk. juga tidak perlu bertanding karena Vietnam Selatan membatalkan keikutsertaannya. Otomatis Indonesia lolos ke babak perempat-final dan sudah ditunggu Uni Soviet.

Sebelum menghadapi Indonesia, Uni Soviet secara meyakinkan berhasil mengalahkan kandidat kuat juara lainnya, Jerman. Mereka mencukur Jerman 2-1 melalui gol Anatoly Isayev dan Eduard Strelsov. Saat itu, mesin Jerman tak cukup kuat untuk meladeni permainan fisik arahan Gavril Kachalin tersebut.

Dan dari pertandingan inilah Pogacnik mampu menemukan taktik yang tepat untuk meredam permainan Uni Soviet dengan formasi 3-4-3. Formasi ini bertujuan untuk menghadirkan pertahanan berlapis. Sian Liong dan Him Tjiang, yang sejatinya merupakan pemain bertahan, dimainkan Pogacnik sebagai dua gelandang tengah. Tugas mereka melindungi garis pertahanan Indonesia.

Hal ini masih ditambah dengan kemampuan bagus Liong Houw dan Ramlan dalam bertahan dari sisi terluar lapangan tengah. TAN Liong Houw sampai harus memasang dua pengaman kaki sekaligus, menutupi tulang kering dan belakang, saat diperintahkan bermain keras melawat Uni Soviet

“Mau mati kek, mau apa kek, saya sudah siap saat itu. Pemain lawan tidak boleh melewati saya, kalau mereka berani mendekat, langsung saya sikat,” kenang Liong Houw yang sudah berusia lebih dari satu windu masih berapi-api ketika menceritakan perannya kepada JPNN pada tahun 2011 lalu.

Dengan pendekatan seperti itu, Indonesia praktis hanya akan mengandalkan Ramang, Ashari Danoe, dan Endang Witarsa di lini serang. Kecepatan dan kemampuan individu yang mereka miliki akan sangat berguna bagi serangan balik yang akan selalu diincar oleh pemain-pemain Indonesia.

Bagi Liong Houw dan anggota Timnas Garuda lainnya saat itu, anggapan kalau Uni Soviet jauh lebih kuat boleh-boleh saja, tapi di atas lapangan hijau mereka harus berjuang hidup atau mati. Indonesia boleh kalah fisik, tapi semangat tidak.

Dengan Pogacnik dan Opa Mangindaan yang berkontinyu memberikan petunjuk dari tepi lapangan, Endang Wittarsa menjadi jenderal dan Maulwi Saelan berdiri sebagai palang terakhir di bawah mistar gawang.

Gempuran Indonesia

Pada hari pertandingan Indonesia melawan Uni Soviet, 29 November 1956, 3.228 orang yang memadati stadion Olimpiade Melbourne mungkin berencana datang untuk melihat aksi bintang-bintang Uni Soviet memborbardir gawang Indonesia. Namun mereka justru mendapati bintang-bintang Uni Soviet tersebut frustasi karena kesulitan membongkar rapatnya pertahanan Indonesia.

Adalah Ramang yang menjadi inspirator semangat Indonesia sesungguhnya. Sekali pemain Makassar bertubuh mungil itu berhasil melewati dua bek lawan, dua kali dia menembakkan canon ball-nya ke jala Soviet dan dua kali pula si laba-laba hitam Lev Yashin harus jumpalitan mengamankan gawangnya.

“Ketika itu saya hampir mencetak gol, tapi baju saya ditarik dari belakang oleh pemain lawan,” kenang Ramang terhadap salah satu momen pentingnya saat menghadapi Lev Yashin.

Melihat permainan Indonesia, negeri yang baru memproklamirkan kemerdekaannya 11 tahun sebelum olimpiade tersebut, penonton dari Eropa mulai terbius. Mereka sepertinya lupa seharusnya kehadiran di stadion untuk memuja Neto dan Yashin, namun malah mulai berteriak emosional melihat permainan keras Uni Soviet yang berbadan besar dan terus menjegal penyerang-penyerang bertubuh mungil yang terus berlari tanpa menyerah.

Dan saat peluh mengucur semakin deras dari bagian tubuh pemain-pemain Indonesia, teriakkan dukungan dari para penonton juga semakin lantang. Mereka ingin Indonesia menang, sembari menyatakan bahwa sang takdir terlalu jumawa.

Indonesia hanya berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0. Meski demikian, pada saat itu aplaus panjang para penonton mengiringi perjalanan pemain-pemain Indonesia keluar dari stadion. Ramang pun berhasil menjadi buah bibir pada pertandingan tersebut, bukan Igor Netto atau Lev Yashin.

Walau di pertandingan kedua Indonesia harus kalah 0-4 akibat kelelahan pada pertandingan sebelumnya, tapi Opa Mangindaan dan tim Garuda pulang dengan kepala tegak. FIFA kemudian mencatat Indonesia kontra Uni Soviet di Melbourne ’56 merupakan salah satu hasil-hasil paling mengejutkan dalam sejarah Olimpiade. (*)

Penulis: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed