oleh

Ketika Axsel Menjadi Teks, Tokoh dan Pesan

(Pengantar: Perayaan HUT ke-35 Sanggar Teater Tangkasi pada 23 Juli 2018 di Gedung Kesenian Kota Bitung selain ditandai dengan pementasan drama “Kapuraca” (Menggugat Teori Kebenaran) karya Leonardo Axsel Galatang, juga dilakukan peluncuran buku“ Sajak, Drama, dan Teater Leonardo Axsel Galatang Dalam Apresiasi dan Resensi” karya Sovian Lawendatu.

Tampil sebagai panelis acara peluncuran adalah Dr Jemy Polii MPd dan Denni HR Pinontoan MTeol. Turut hadir sejumlah seniman Sulut diantaranya, penyair dan pakar forensik Dr Djemi Tomuka, penyair dan pakar filsafat Amato Assegaf, dan dramawan Aldes Sambalao.

– Catatan di bawah ini adalah ulasan dari panelis Denni HR Pinontoan MTeol.

Oleh pengarangnya, mner Sovian Lawendatu – begitu saya biasa menyapanya – menyebut buku ini sebagai “apresiasi” dan “resensi’ atas karya-karya penyair dan dramawan yang telah mengabdikan totalitas hidupnya untuk kesenian, Leonardo Axsel Galatang.

Sebagai seorang yang belajar teologi, yang didalamnya berurusan dengan kerja-kerja tafsir atas karya-karya sastra agung, prosa dan puisi dalam kitab-kitab di dalam Alkitab, menurut saya buku ini adalah juga karya hermeneutikatasbiografi, proses kreatif dan karya-karya Axsel.

Mner Sovian telah menjadi seorang “penafsir’ untuk mengungkap genealogi seorang Axsel, gagasan, pergulatan, dan kritik-kritiknya melalui karya-karya yang dilahirkannya.

Ulasan di buku ini mengungkap sisi lain seorang Axsel, yaitu seorang pelintas batas dan penyintas. Secara brilian, mner Sovian, misalnya menelusuri genealogi Axsel dalam tiga sajaknya: Balada Hutan Bambu di Tonggeng Sambo, Sajak Batu Salana, dan Tembang Toadu Sura. Dari tafsirnya atas tiga sajak itu, terungkap bagaimana sosok Axsel sebagai seorang ‘pelintasbatas’.

Ia berasal dari ‘masyarakat genesis’ Tabukan Sangihe dengan ingatan-ingatannya terhadap leluhur, semangat mereka dan dunia yang mereka hidupi kemudian melintas, bertumbuh dan berkembang di Bitung, kota pelabuhan yang majemuk dan dinamis.

Dari rahim komunitas ‘magis-animis’, istilah yang digunakan mner Sovian dalam bukunya, lahirlah seorang sastrawan dan dramawan Leonardo AxselGalatang.

Lebih jauh mner Sovian menafsir semua itu sebagai pergulatan sang penyair yang melintas dari dunia ‘magis-animis’ kemasyarakat modern. Sebuah pelintasan yang terjadi secara kritis-dialektis. Sebetulnya, tafsir ini juga mengungkap soal yang lebih besar tentang ‘kita”: generasi yang berasal dari sebuah tradisi yang khas dan unik, secara sadar atau terpaksa harus bermigrasi ke dunia modern, yang sekuler, rasionalistik dan kapitalistik.

Hal lain yang sungguh menarik dari buku ini adalah alur bab yang bergerak dari asal-usul atau genealogi Axsel, yaitu spiritualitas dan kesadaran mentalnya, kepergulatan gagasan-gagasan serta refleksi-refleksi yang hendak mau disampaikan melalui karya-karya.

Pada bab-bab sesudah ulasan tiga sajak, berturut-turut mner Sovian melakukan pembedahan sekaligus tafsir dan refleksi atas karya-karya Axsel yang menyoal modernitas itu, kekuatan rezim, dampak pembangunan antara lain bencana alam, moral kerukunan, kemunafikan kaum beragama, dan manusia dalam karakter-karakternya yang kadang-kadang menyebalkan tapi lucu.

Ulasan tentang proses kreatif dan pentas produksi drama – di panggung sebagai pentas teater –
Mner Sovian mengungkap apa yang hendak maudi kritik, digugat, ditentang, ataupun dipuji oleh sang dramawan. Padabiografi personal, terungkap, bahwa Axsel adalah seorang penyintas dari kekuasaan otoriter rezim orde baru. Sebagai seorang penyair, realitas yang borok oleh kekuasaan harus digugat. Masuk bui adalah konsekuensi seorang ‘penggugat’. Nyawa pun menjadi taruhannya.

Ulasan mengenai biografi personal Axsel dalam buku ini, sungguh memberi inspirasi tentang hakekat dari seorang seniman yang mesti memiliki spiritualitas kokoh dalam memperjuangkan kebenaran yang diyakini. Mner Sovian, melalui karyanya ini, seolah mau membawa pembaca dan peminat sastra, drama dan teater pada umumnya pada sebuah refleksi mendalam tentang ‘pemberiandiri yang utuh’ pada jalan sunyi yang dipilih oleh seorang Axsel.

Buku ini, bagi saya adalah sebuah karya hermeneutik atas ‘teks-teks kebudayaan’ seorang Axsel. Apa yang dilakukan oleh mner Sovian adalah sebuah inspirasi bagi kita, generasi penikmat karya-karya sastra, teater dan yang mau belajar dari proses-proses kreatif seorang sastrawan dan seniman yang konsisten, penuh integritas, yang bukan saja telah hadir dengan sajak-sajak dan naskah-naskah drama tertulis dan pentas, tapi juga telah hadir secara utuh dalam kehidupannya. Axsel telah menjadi teks, tokoh dan sekaligus pesan itu sendiri, yang dari kehadirannya yang utuh telah melahirkan ‘sebuahkonteks’ yaitu SanggarTangkasi.

Ya, Sanggar Tangkasi adalah konteks, sebuah tenunan hasil kerajinan seorang seniman yang penuh integritas pada jalan yang dipilih. Artinya Sanggar Tangkasi telah menjadi realitas, ‘sebuah komunitas genesis’ dari banyak orang dalam dunia lakon dan seni pada umumnya.

Sanggar Tangkasi menjadi semacam komunitas kreatif yang mempertemukan generasi lintas zaman.

Buku ini menyajikan narasi-narasi itu secara baik. Dengan demikian, dapatlah kita katakan, buku ini menjawab kelangkaan ulasan serius mengenai proses kreatif dan karya sastra, drama dan teater seorang seniman di daerah kita. Hal penting lainnya, buku ini memberi wawasan dan inspirasi mengenai eksistensi sebuah karya seni dan sekaligus seniman dalam masyarakat.

Karya seni yang bermacam-macam itu adalah refleksi atas pergulatan dan harapan hidup masyarakat, seorang seniman adalah ‘jurubicara’ kebenaran yang (mestinya) sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kuranga, 19 Juli 2018

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed