oleh

Komitmen Dengan Rakyat, ART Maju dari Nasdem

MANADO, BARTA1.COM – Tak ada masa surut bagi komitmen! Demikian ikhtiar politik Alfrets Ronald Takarendehang (ART). Kendati dihadang perlawanan yang massif di ajang Pilkada 27 Juli lalu –yang menempatkan pasangan ART Juara (Ronald Takarendehang- Rudolf Parera) di posisi kedua— baginya, nasib ribuan petani pala Kabupaten Sitaro wajib terus diperjuangkan.

“Kalau tidak lewat lembaga eksekutif, kita bisa memperjuangannya melalui lembaga legislatif,” ujarnya, sambil menyatakan siap kembali melangkah bersama Partai Nasdem menuju pemilihan legislatif 2019 di Dapil II, Siau Timur.

Pasca Pilkada 27 Juli lalu, harga pala kembali ambruk di bawah Rp 50.000 per kg. Padahal sebelumnya, upaya sosok politisi yang akrab disapa Ronal ini dalam melobi pasar pala Eropa, harga pala mulai melambung di atas Rp 60.000 per kg.

“Harga pala bisa naik apabila pemerintah bekerja keras melindungi kualitasnya. Ini sebabnya saya berkomitmen terus memperjuangkan kenaikan harga pala lewat lembaga legislatif. DPRD perlu mendorong pemerintah daerah untuk konsen pada masalah perbaikan nasib ribuan petani pala Sitaro,” ujar Ronald kepada BARTA1.COM di Manado, belum lama.

Dikatakan, niatnya kembali melangkah ke panggung politik didorong oleh semangat mensejahterakan rakyat, diantaranya mendorong harga pala ke level terbaik, selain itu menyangkut normalisasi harga bahan bakar minyak.

Khusus untuk pala, menurut Ronald bila harganya naik tentu akan ber-multiplier effect pada sektor-sektor lainnya. “Selama ini kualitas pala Siau yang terbaik di dunia itu anjlok karena sering dicampur dengan Pala dari daerah lain. Hasil produksi kita 200 ton per bulan tapi karena dicampur dengan pala lain maka membengkak hingga 500 ton,” jelas Ronald.

Upaya proteksi lewat kendali mutu, sertifikasi serta labelisasi produk. Kata dia, diyakini bisa mengatrol harga. Namun itu harus pula dibarengi dengan edukasi terhadap petani agar bisa mempertahankan kualitas Pala yang dihasilkan.

Dengan mengoleksi 800.000 batang pohon pala, petani pala di Sitaro harusnya bisa hidup dengan makmur. “Namun apa yang terjadi dalam kurun sepuluh tahun belakangan ini, petani pala kita merana karena pemerintah gagal memproteksi harga salah satu komoditas terbaik dunia ini,” imbuhnya.

Editor: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed